POJOKSATU.id, JAKARTA—Perlawanan mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim melalui sidang eksepsi Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (12/1) ditolak majelis hakim.

Dengan demikian kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook di Kemendikbudristek TA 2019-2022 akan berlanjut ke sidang pembuktian.

Majelis hakim menilai poin-poin eksepsi yang disampaikan kubu mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim perlu diperiksa dan dibuktikan lagi saat persidangan.

Majelis hakim yang dipimpin Purwanto S Abdullah itu menolak eksepsi kubu Nadiem dalam kasus dugaan korupsi pengadaan laptop berbasis Chromebook.

Baca Juga: BPS Akan Survei Seluruh Desil Bansos di 2026, Dari Desil 1 hingga 10 Tanpa Terkecuali

"Perlawanan atau eksepsi dari terdakwa Nadiem Anwar Makarim dan tim penasihat hukumnya tidak dapat diterima," ujar Purwanto dalam amar putusan sela di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin, 12 Januari 2026.

Majelis hakim pun memerintahkan agar Jaksa Penuntut Umum (JPU) melanjutkan sidang dengan agenda pembuktian.

"Memerintahkan pemeriksaan perkara atas nama terdakwa Nadiem Anwar Makarim dilanjutkan," imbuhnya.

Di antaranya, terkait dengan unsur memperkaya diri dan total kerugian negara yang ada dalam kasus ini.

Baca Juga: Usai Bungkam di Sidang, Nadiem Unggah Surat Sindiran Soal Kasus Chromebook di Media Sosial

Lebih lanjut, rincian peran antar terdakwa, mulai dari menteri selaku pembuat kebijakan dengan pengguna anggaran, merupakan materi pokok perkara.

Begitu juga dengan tuduhan adanya konflik kepentingan dalam hubungan investasi Google di Gojek yang dikaitkan dengan pengadaan Chromebook.

"Terkait kepemilikan saham, merupakan materi yang akan diuji dalam persidangan," pungkasnya.

Pada Senin, 5 Januari 2026, Nadiem menjalani dua agenda sidang secara berurutan, pembacaan dakwaan dan membacakan eksepsi.

Ia didakwa telah merugikan negara hingga Rp2,1 triliun. Nadiem dinilai telah menyalahgunakan kewenangannya sehingga membuat Google menjadi satu-satunya penguasa pengadaan TIK, salah satunya laptop, di ekosistem teknologi di Indonesia.

Ia disebut memberikan arahan dan perintah agar pengadaan mengarah pada satu produk, yaitu perangkat berbasis Chrome yang merupakan produk Google.***