POJOKSATU.id, JAKARTA— Cinta tak mengenal agama seperti yang dialami empat pahlawan nasional ini.
Empat pahlawan nasional ini memiliki hubungan percintaan yang dilatari perbedaan agama. Mereka antara lain Soetomo, Sutan Sjahrir, Pierre Tendean dan Robert Wolter Mongonsidi.
Beberapa pahlawan nasional ini, perjuangan cintanya ada yang berakhir dengan pernikahan. Namun ada juga satu pasangan pahlawan nasional yang tak berujung ke pernikahan.
Malah kedua pasangan muda ini gugur di tangan Kolonial Belanda. Keduanya juga sudah ditetapkan sebagai pahlawan nasional.
Kedua pahlawan nasional ini masih berusia muda, Robert Wolter Mongonsidi berusia 24 tahun, sementara Emmy Saelan masih berusia 23 tahun.
Berikut empat pahlawan nasional Indonesia yang memperjuangkan cintanya meski berbeda agama.
1.Sutan Sjahrir
Pertemuan Sutan Sjahrir dan Maria Johanna pertama kali terjadi di Belanda. Kala itu, alih-alih kuliah, Sjahrir banyak bergiat dalam gerakan buruh Eropa.
Ketika di Belanda, Sjahrir tinggal di apartemen seorang temannya bernama Salomon Tas atau lebih dikenal dengan Sal Tas.
Baca Juga: Fun Trail Adventure Gasbar Sahabat Polisi Indonesia Siap Meriahkan Hari Sumpah Pemuda
Sal Tas ini memiliki istri bernama Maria Johanna Duchateau.
Di tengah buruknya hubungan Maria dengan suaminya, Sjahrir dan Maria pun menjalin cinta.
Sekembalinya ke Indonesia, Maria menyusul dan berencana hidup bersama Sjahrir.
Kemudian pada April 1932, keduanya menikah di Medan secara Islam.
Sementara Maria sendiri merupakan nonmuslim sehingga gunjingan serta desas-desus mengenai hubungan mereka pun ramai diperbincangkan masa itu.
Baca Juga: Nikita Mirzani Tagih Rp1,8 Miliar via Medsos, Minta Pasutri Ini Kembalikan Uangnya
Umur pernikahan Sjahrir dan Maria hanya bertahan lima bulan dan Maria lalu dideportasi pemerintah Kolonial ke Belanda.
2. Soetomo
Pendiri organisasi Boedi Oetomo ini mempersunting janda Belanda yang bekerja sebagai suster di Blora pada tahun 1917.
Jika Soetomo beragama Islam, maka Everdina penganut Kristen.
Ketika itu, kendati Everdina seorang Belanda, tapi ia tidak menghalangi Soetomo dalam melawan politik kolonial Belanda.
Baca Juga: 19 Link Beli e-Meterai dan Cara Menggunakan, Pelamar CPNS dan PPPK 2023 Wajib Tahu
Akan tetapi, dalam pernikahannya, terdapat beberapa rintangan, salah satunya sang kakak dari Everdina yang tidak setuju.
Melansir dari buku karya Dhahana Adi, Surabaya Punya Cerita, Blora menjadi tempat pertama kedua insan itu bertemu.
Setelah suami Everdina Bruring meninggal pada 1917, Ia memilih untuk bekerja menjadi perawat di Rumah Sakit Blora untuk mengobati kesendiriannya.
Seperti ditakdirkan, dr. Soetomo yang sebelumnya di Sumatera juga dipindahtugaskan ke Blora. Akhirnya mereka bertemu dan cinta di antara keduanya pun bertumbuh.
Dalam hubungan antar keduanya sempat terjadi penentangan. Pihak keluarga Everdina, juga pihak keluarga atau teman-teman seperjuangan dr. Soetomo tidak mendukung hubungan ini.
Walaupun begitu, cinta mereka tidak tergoyahkan sampai akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.
3. Pierre Tandean
Pahlawan Revolusi Pierre Tandean memiliki hubungan dengan Rukmini Chaimin.
Meski jalinan asmara keduanya tidak direstui oleh ibu dari Pierre, tekad untuk melangsungkan pernikahan di antara keduanya cukup kuat.
Takdir berkata lain karena sebelum menikah, Pierre Tandean dikabarkan jadi korban penculikan pasukan Djaharup dalam Peristiwa G30S.
4. Robert Wolter Mongonsidi
Kedekatan Emmy Saelan dan Robert Wolter Mongisidi selama pertempuran memunculkaan rumor tentang hubungan cinta dua pejuang yang berbeda agama ini.
Halimah Daeng Sikati, lulusan SMP Nasional tahun 1946, mengaku pernah mendengar cerita ini. Begitu pula Bachtiar, kawan Maulwi Saelan (kakak Emmy Saelan) ketika di SMP Nasional Makassar, persoalannya, tak ada bukti yang pasti soal relasi kasih antara Emmy dan Wolter Mongisidi.
Interaksi Emmy dan Wolter memang dimulai saat keduanya kerap bertemu di SMP Nasional Makassar.
Baca Juga: Syahrul Yasin Limpo Kabarnya Ditetapkan Tersangka oleh KPK, Ahmad Sahroni Bilang Gini
Sekolah ini dibangun pada Oktober 1945 oleh kaum Republikan yang disponsori Sam Ratulangi. Dulu sekolah ini berdiri disebelah rumah jabatan Gubernur di Gowa Weg, sekarang jalan Ratulangi.
Emmy dan Wolter Mongisidi terus bergerilya semasa penambahan serdadu Belanda, karena kalah kekuatan Emmy dan Wolter semakin tersudut.
Pada tanggal 23 Januari 1947 sore, Wolter memilih mundur, tetapi Emmy yang telah terpisah dari Wolter tetap bertempur dengan sekitar 40 orang prajurit, itulah hari terakhir Wolter berjuang bersama Emmy.
Emmy semakin terdesak dan terkepung. Tentara Belanda memerintahkannya untuk menyerah, apalagi semua teman Emmy sudah tewas tertembak kecuali Emmy sendiri.
Emmy tak peduli dengan perintah Belanda, untuk terakhir kalinya, Emmy melemparkan granat ke tengah-tengah tentara Belanda, sejumlah tentara Belanda tewas terbunuh, termasuk Emmy sendiri.
Sementara itu Wolter Monginsidi masih terus berjuang sampa akhirnya ditangkap oleh Belanda pada 28 Februari 1947, tetapi berhasil kabur pada 27 Oktober 1947.
Belanda menangkapnya kembali dan kali ini Belanda menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Robert Wolter Mongisidi dieksekusi oleh tim penembak pada 5 September 1949.
Guna mengenang perjuangan sang perempuan tangguh Emmy Saelan, pada 6 November 1973, ia diangkat sebagai pahlawan nasional dengan Surat Keputusan Presiden Nomor 087/TK/1973.
Robert Wolter Mongisidi juga dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada 6 November 1973.
Dia juga mendapatkan penghargaan tertinggi negara Indonesia, Bintang Mahaputera Adipradana, pada 10 November 1973.***




