POJOKSATU.id, JAKARTA—Peristiwa granat Cikini dianggap peristiwa paling tragis dalam upaya pembunuhan Presiden Soekarno. Ledakan granat ini menewaskan 10 orang, termasuk pengawal Sukarno.

Selain menewaskan 10 orang, sebanyak 48 anak-anak terluka. Mobil Presiden Soekarno juga hangus atau ludes terbakar pada kejadian 30 November 1957 di Sekolah Rakyat Perguruan Cikini ini.

Empat pelaku serangan ini berhasil diringkus pada Desember 1957 dan diadili di Pengadilan Tentara Tinggi Jakarta dan didakwa atas tuduhan merencanakan pembunuhan terhadap Presiden. Keempatnya divonis mati.

Tragedi 30 November 1957. Malam itu Sukarno menghadiri malam amal dalam rangka ulang tahun sekolah tempat Guntur Sukarnoputra dan Megawati Sukarnoputri belajar.

Setelah mengikuti resepsi, Sukarno undur diri. Guntur dan Mega tak ikut karena ingin menonton film yang akan diputar.

Kepala Sekolah Sumadji dan Ketua Panitia Nyonya Sudardjo mengantar Sukarno menuju mobil. Tiba-tiba terdengar ledakan.

Saat menginjakkan kaki di luar gedung presiden Soekarno diserbu oleh 6 lemparan granat yang 5 di antaranya meledak seketika.

Akibatnya, 10 orang meninggal dunia dan 48 lainnya luka-luka. Salah satu korban jiwa adalah pengawal presiden, dan banyak anak-anak yang mengalami luka parah.

Soekarno sendiri selamat dari tragedi tersebut.

Pengusutan pelaku pelemparan granat di Cikini menemukan hasilnya dengan menangkap empat orang pelaku yang berasal dari Bima, Nusa Tenggara Barat.

Mereka adalah Jusuf Ismail, Sa'adon bin Mohamd, Tasrif bin Hoesain, dan Mohamad Tasim bin Abubakar.

Jusuf dan Tasrif selain sebagai guru juga anggota Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) yang merupakan organisasi sayap partai Masyumi.

Keempat pemuda ini tergabung dalam kelompok Gerakan Anti-Komunis (GAK) yang dibentuk dan dipimpin oleh Kolonel Zulkifli Lubis, mantan Wakil KSAD yang dikenal juga sebagai perintis intelijen di Indonesia.

Kebencian Politik pada PKI


Diketahui bahwa latar belakang upaya pembunuhan presiden Soekarno kala itu dilandasi oleh kebencian politik para anggota Gerakan Anti Komunis (GAK) terhadap arah pemerintahan Soekarno.

Soekarno dinilai terlalu memberikan hak hidup dan peluang kepada PKI untuk mendominasi kekuatan sosial dan politik di Indonesia.

Dalam persidangan pengadilan, pelaku penggranatan menyebut bahwa aksi mereka tidak dimaksudkan untuk membunuh, melainkan untuk memberi peringatan dan memaksa pemerintah mengubah haluan politik negara.

Diketahui pada saat itu, kebijakan-kebijakan politik Soekarno dirasa terlalu banyak yang menguntungkan posisi dan strategi politik PKI.

Soekarno dianggap telah mengkhianati pandangan hidup, tata pergaulan bangsa Indonesia, hingga menghalangi perkembangan agama Islam.

 

Vonis Mati Empat Pelaku


Pasca penggranatan yang menyebabkan mobil Presiden Soekarno hangus terbakar, perintah pengejaran segera dilaksanakan untuk memburu pelaku.

Presiden juga mendesak penyelidikan secara menyeluruh terhadap latar belakang aksi itu.

Para aparat dan intelijen negara lantas berhasil menangkap empat pemuda yang diduga sebagai pelaku aksi teror tersebut.

Mereka adalah Jusuf Ismail, Sa'idon bin Muhammad, Tasrif bin Husein, dan Moh Tasin bin Abubakar.

Keempatnya adalah penghuni Asrama Sumbawa di kawasan Cikini dan juga merupakan anggota pemberontak Darul Islam/Negara Islam Indonesia (DI/TII).

Muncul pula tuduhan bahwa Kolonel Zulkifli Lubis, mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat dan tokoh intelijen yang dijuluki Bapak Intelijen Indonesia adalah otak dari tragedi Cikini tersebut.

Namun banyak pihak yang menyangsikan hal ini, sehingga Zulkifli pun lolos dari tuduhan.

Para terdakwa juga akhirnya mengakui bahwa otak sebenarnya di balik tragedi Cikini adalah Jusuf Ismail.

Keempatnya lalu dijatuhi hukuman mati di hadapan regu tembak pada 28 Mei 1960.(ikror/pojoksatu)