POJOKSATU.id, JAKARTA— Perang Aceh dimulai pada 5 April 1857, di mana pasukan Belanda di bawah kepemimpinan Mayor Jenderal JHR Kohler mulai menyerang Aceh.

Belanda sempat melakukan penyerangan ke Masjid Raya Baiturrahman, dan sempat menginstruksikan anak buahnya untuk menembakkan peluru ke arah Masjid.

Akibatnya, masjid mulai terbakar dan pasukan Aceh mulai berbondong-bondong meninggalkan masjid.

Belanda akhirnya berhasil menguasai masjid pada 14 April 1873. Namun Mayor Jenderal Kohler diketahui tewas dalam sengitnya pertempuran di masjid ini.

Sesudah Belanda menguasai Masjid Raya Baiturrahman, perlawanan kembali digencarkan rakyat Aceh.

Perang pun terjadi sejak tahun 1873 dan berakhir pada 8 Februari 1904.

Belanda berhasil menguasai Aceh sepenuhnya pada tahun 1904 dengan pembubaran Kesultanan Aceh.

Perang Aceh yang berlangsung puluhan tahun ini telah mengakibatkan banyaknya pahlawan yang gugur.

Namun dari sekian banyak pahlawan yang gugur ini, terdapat tiga wanita yang sudah dinyatakan sebagai pahlawan nasional yaitu Cut Nyak Dhien, Cut Meutia hingga Laksamana Malahayati.

Berikut kiprah tiga pahlawan nasional wanita dari Aceh tersebut.


1. Cut Nyak Dhien

Cut Nyak Dhien lahir di Lampadang, Aceh Besar, tahun 1848. Ia adalah istri dari Teuku Umar yang juga seorang Pahlawan Nasional.

Mereka dikenal sebagai suami istri yang tangguh melawan penjajah Belanda dan terlibat dalam banyak peperangan.

Setelah Teuku Umar gugur pada 11 Februari 1899 di Meulaboh, Aceh Barat, Cut Nyak Dhien terus memimpin pasukan gerilya Aceh dari hutan ke hutan.

Setelah bertahun-tahun memimpin perang, kesehatannya menurun dan penglihatannya mulai kabur.

Salah satu panglima, Pang Laot Ali merasa kasihan dengan kondisinya, lalu membuat perjanjian dengan Belanda. Syaratnya, Belanda harus merawat Cut Nyak Dien.

Belanda setuju, kemudian Cut Nyak Dhien ditangkap dan dibawa ke Banda Aceh. Di bawah pengawasan Belanda, Cut Nyak Dhien tetap berkomunikasi dengan para pejuang.

Hal ini diketahui oleh penjajah, kemudian diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat pada tahun 1906.

Cut Nyak Dhien meninggal pada tanggal 6 November 1908 di pengasingan pada usia 60 tahun, makamnya terpelihara dengan baik di Sumedang sampai sekarang.

Sebagai penghargaan atas perjuangan Cut Nyak Dhien, pemerintah mengangkat Cut Nyak Dhien sebagai Pahlawan Nasional melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 106/TK/1964 tanggal 2 Mei 1964.


2. Cut Nyak Meutia

Cut Nyak Meutia adalah seorang pejuang wanita pada masa Kesultanan Aceh Darussalam. Ia lahir di Keureuto, Aceh Utara, 15 Februari 1870.

Semasa hidupnya, Cut Meutia berperang bersama pasukan Inong Balee (Kaum Perempuan) melawan penjajah Belanda.

Ia gugur dalam pertempuran dengan pasukan Belanda di Alue Kurieng, Aceh Utara, 24 Oktober 1910, di usia 40 tahun.

Makam Cut Meutia berada di kawasan hutan lindung Gunung Lipeh, Ujong Krueng Keureutoe, Pirak Timu, Aceh Utara.

Ia menjadi Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 107 Tahun 1964 tahun 1964.


3. Laksamana Malahayati

Laksamana Malahayati adalah pejuang perempuan pada masa Kesultanan Aceh Darussalam. Nama aslinya Keumala Hayati.

Pada tahun 1585–1604, ia menjabat sebagai Kepala Pengawal Istana, Panglima Rahasia, dan Panglima Protokol Pemerintahan dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV.

Saat itu, Malahayati memimpin 2.000 pasukan Inong Balee (tentara perempuan Aceh) untuk berperang.

Pada 11 September 1599, Malahayati membunuh pemimpin pasukan perang Belanda, Cornelis de Houtman dalam pertempuran di atas kapal di perairan laut Aceh.

Makam Laksamana Malahayati terletak di bukit Krueng Raya, Lamreh, Aceh Besar.

Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 115/TK/Tahun 2017 tanggal 6 November 2017. (ikror/pojoksatu)