POJOKSATU.id — Permukaan air Danau Toba dilaporkan terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Fenomena ini tidak hanya memengaruhi kondisi lingkungan, tetapi juga mulai berdampak pada sektor perikanan, pembangkit listrik, hingga pariwisata yang menjadi penopang ekonomi masyarakat di sekitar danau.
Hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa penyebab penurunan muka air Danau Toba tidak hanya berasal dari faktor alam.
Baca Juga: Daftar Provinsi dengan Pengangguran Tertinggi di Indonesia 2026, Ini Penyebab Angkanya Masih Tinggi
Penurunan tersebut dipengaruhi oleh kombinasi perubahan iklim dan aktivitas manusia, dengan karakteristik yang berbeda pada setiap periode waktu.
Berdasarkan penelitian tersebut, selama periode 1957 hingga 1984, muka air Danau Toba mengalami penurunan rata-rata sekitar 22 milimeter per tahun.
Pada masa itu, faktor utama yang memengaruhi adalah variabilitas iklim, terutama fenomena El Niño yang menyebabkan curah hujan di kawasan Danau Toba berkurang sehingga pasokan air ke danau ikut menurun.
Baca Juga: Spesifikasi Laptop yang Cocok untuk Mahasiswa DKV, Ini Rekomendasi Minimal hingga Ideal
Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, Hendri, menjelaskan bahwa terdapat titik perubahan penting yang terjadi pada 1984.
Tahun tersebut bertepatan dengan mulai beroperasinya Bendungan Sigura-gura dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), sehingga pola perubahan muka air danau sebelum dan sesudah tahun tersebut perlu dianalisis secara terpisah.
Menurut Hendri, pada beberapa tahun tertentu penurunan muka air terjadi secara lebih ekstrem, seperti pada 1987, 1990, 1998, dan 2016.
Kondisi tersebut berkaitan dengan kombinasi fenomena El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang sama-sama berkontribusi terhadap berkurangnya curah hujan di wilayah Danau Toba.
Apabila penyusutan permukaan air terus berlangsung dalam jangka panjang, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh ekosistem danau, tetapi juga kehidupan masyarakat dan berbagai sektor ekonomi.
Besarnya dampak akan bergantung pada penyebab utama penyusutan, baik karena musim kemarau berkepanjangan, perubahan iklim, pengambilan air secara berlebihan, maupun kerusakan kawasan tangkapan air.
Salah satu dampak yang paling terasa adalah berkurangnya ketersediaan air bersih.
Baca Juga: Benarkah Menggunakan WiFi Publik Berbahaya? Kenali 6 Risiko dan Cara Menggunakannya dengan Aman
Danau merupakan sumber air penting bagi kebutuhan rumah tangga, pertanian, peternakan, hingga industri.
Ketika volume air terus menurun, pasokan air menjadi semakin terbatas dan berpotensi memicu krisis air bersih di wilayah sekitarnya.
Penurunan permukaan air juga mengganggu keseimbangan ekosistem danau.
Habitat ikan, tumbuhan air, burung, serta berbagai organisme lainnya menjadi semakin sempit.
Akibatnya, populasi satwa dapat menurun dan keanekaragaman hayati di kawasan danau berisiko mengalami penurunan.
Selain itu, kualitas air dapat ikut memburuk. Volume air yang lebih sedikit membuat konsentrasi berbagai zat pencemar meningkat.
Suhu air yang lebih tinggi juga dapat menurunkan kadar oksigen terlarut sehingga meningkatkan risiko kematian ikan serta memicu pertumbuhan alga secara berlebihan.
Dampak lainnya adalah meningkatnya risiko kekeringan.
Sebagai salah satu cadangan air alami, danau memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan air saat musim kemarau.
Ketika volumenya terus menyusut, kemampuan danau untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat pun ikut berkurang.
Dari sisi ekonomi, masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian pada Danau Toba juga dapat terdampak.
Nelayan berpotensi mengalami penurunan hasil tangkapan, pelaku usaha wisata kehilangan pengunjung, sementara penyedia jasa transportasi air dan berbagai usaha pendukung lainnya dapat mengalami penurunan pendapatan.
Baca Juga: KNPI Sikapi Penahanan Febrie Adriansyah, Berlakukan SOP Sama untuk Semua Tersangka Korupsi
Penyusutan air danau juga dapat meningkatkan risiko kebakaran lahan di kawasan sekitar karena kondisi tanah menjadi lebih kering, terutama pada musim kemarau yang panjang.
Di sisi lain, keberadaan danau yang selama ini membantu menjaga kelembapan udara dan kestabilan suhu juga menjadi berkurang sehingga iklim mikro di sekitar kawasan dapat berubah menjadi lebih panas dan kering.
Jika kondisi tersebut terus berlangsung, daya tarik wisata Danau Toba juga berpotensi menurun.
Perubahan bentang alam akibat surutnya permukaan air dapat memengaruhi kenyamanan wisatawan dan berdampak pada sektor pariwisata yang selama ini menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah.
Dalam jangka panjang, berkurangnya cadangan air juga dapat memicu persaingan dalam pemanfaatan sumber daya air, baik antarwarga maupun antarberbagai sektor pengguna.
Pada kondisi yang lebih parah, danau bahkan berisiko mengalami penyusutan yang semakin besar sehingga membutuhkan waktu sangat lama untuk dipulihkan.
Secara keseluruhan, penurunan permukaan air Danau Toba merupakan persoalan yang dipengaruhi oleh interaksi antara perubahan iklim dan aktivitas manusia.
Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama untuk menjaga kawasan tangkapan air, melestarikan hutan di sekitar daerah aliran sungai, mengendalikan pencemaran, serta mengelola pemanfaatan sumber daya air secara berkelanjutan agar fungsi ekologis dan ekonomi Danau Toba tetap terjaga di masa mendatang.***




