POJOKSATU.id, KAMPAR—Terungkap, identitas guru pembanting nasi kotak di depan siswa di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, ternyata bernama Yon Hendri.

Pembantingan nasi kotak yang viral di media sosial ini terjadi di SDN 021 Desa Tarai Bangun, Tambang, Kabupaten Kampar, Senin (10/11/2025) lalu atau tepat momen Hari Pahlawan.

Videonya viral diposting beberapa akun seperti @kabarpekanbaru. Video ini sudah ditonton hampir 200 ribu orang.

Dalam video terlihat, tumpukan nasi kotak di depan kelas. Sementara di sampingnya ada siswa dan beberapa guru.

Baca Juga: 1.186 PPPK Paruh Waktu Resmi Diangkat di Tanjungpinang, Ini Pesan Wali Kota

Terdengar keributan atau suara-suara keras antara guru-guru yang ada di sana.

Lalu tiba-tiba seorang guru lelaki yang belakangan diketahui bernama Yon Hendri membanting nasi kotak dari dalam kelas.

Ada sekitar empat nasi kotak yang dibanting oleh guru yang ternyata masih honorer ini.

“Terjadi kericuhan di SDN 21 Desa Tarai Bangun Kampar, Senin 10 November 2025,” kata akun ini.

Disebutkan dalam narasi video postingannya, setelah peringatan Hari Pahlawan, murid-murid sudah dikasih MBG.

Baca Juga: Viral! Keluhan Peserta Tes Substantif PPG 2025 di Medsos Banjiri Kolom Komentar, Netizen Ikut Kasihan

Lanjut acara sosialisasi tema bullying dari Dinas Pendidikan dan ada jatah makanan lagi.

“Lalu diduga ditahan oleh salah satu oknum guru dan tidak langsung dibagikan. Sementara murid dan guru lainnya sudah panas-panasan,” kata akun ini.

Guru Honorer Beri Penjelasan

Sementara itu, guru yang membanting nasi kotak dalam video tersebut, Yon Hendri, memberikan penjelasan.

“Nasi ini bukan nasi MBG. Tapi hadiah dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kampar, setelah sosialisasi bullying,” kata Yon Hendri kepada wartawan, Selasa (11/11).

Guru honorer ini menjelaskan, dia membanting nasi kotak karena terjadi perselisihan mengenai teknis pembagiannya.

Sejumlah guru ingin nasi kotak dibagikan dengan segera, sedangkan dia meminta agar pembagian dilakukan di dalam kelas agar lebih tertib.

“Alasan kami membanting karena para guru meminta agar diberikan cepat. Setelah saya banting itu, guru tidak terima dengan sikap saya,” ujar Yon Hendri si guru honorer.***