POJOKSATU.id, JAKARTA—Pelaku pengeroyok warga negara (WN) Korea Selatan, Lee Jihyeon, dan Tiktoker Dave Stanley di Padalarang, Bandung Barat (KBB), divonis dua tahun penjara.

Pelaku berjumlah empat orang dan masing-masing divonis dua tahun penjara di Pengadilan Negeri (PN) Bale Bandung.

Belakangan diketahui, keempat tersangka merupakan anggota geng motor XTC yang menganiaya Lee Jihyeon dan Dave Stanley, Minggu (4/2/2024) lalu.

Juru Bicara Pengadilan Negeri (PN) Bale Bandung, Kusman, Senin (22/7/2024) mengatakan, keempat pelaku dijatuhi hukuman 2 tahun penjara. Mereka dikenakan tindak pidana Pasal 170 ayat (2) ke-1 KUHP tentang Pengeroyokan.

Menurutnya, kasus ini sudah diputus tanggal 4 Juli 2024 lalu, dan hasilnya keempat pelaku bersalah melakukan pengeroyokan ke korban WN Korsel dan Stanley.

Baca Juga: Bilqis Priscilla, Siswi Berprestasi Jabar Wakili Indonesia di Hari Anak Nasional, Jokowi Beri Kuis Pancasila!

Kusman menjelaskan, untuk kasus pengeroyokan WNA asal Korea Selatan itu, keempat terdakwa tidak melakukan banding.

Dave Stanley Ceritakan Kronologi Kejadian

Sementara itu, Seleb TikTok Dave Stanley menceritakan kembali kejadian yang dialaminya, Senin (22/7).

Penganiayaan itu terjadi karena kesalahpahaman warga yang mengira Dave berbuat mesum dengan temannya WN Korsel di dalam mobil.

Padahal yang terjadi sebenarnya, kata Dave, mobil teman perempuannya itu mogok di tengah perjalanan di kompleks perumahan pada malam hari.

Tiba-tiba ia dihampiri oleh beberapa orang dengan cara kasar.

"Kronologi pengeroyokan, penganiayaan, dan penculikan yang dialami saya oleh 6 pemuda bermotor yang mabuk di Kota Baru Parahyangan. Pada berita yang sempat beredar, kasus ini melibatkan saya dan teman saya WNA perempuan Korea pada 4 Februari lalu," kata Dave dikutip dari keterangannya di TikTok, Senin (22/7).

Baca Juga: DPRD Jabar Soroti Penunjang Pariwisata di Kabupaten Bandung

Dave bercerita bahwa malam itu ia menjumpai teman perempuannya karena rindu. Perempuan itu selama ini kuliah di luar negeri sehingga jarang bertemu dengan Dave.

"Ini sesuatu yang biasa kami lakukan dari dulu dengan teman SMA kami yang lain. Setelah selesai makan dan bersiap-siap untuk pulang, kami baru sadar bahwa mobil yang dimiliki oleh teman saya tidak mau menyala dan ternyata mogok," katanya.

Dalam video yang diunggahnya, tampak jelas mereka tengah berusaha untuk menghidupkan mesin mobil tersebut kembali dengan berbagai cara. Namun mobil tak kunjung menyala dan lampu depan mobilnya malah menyala dan berkedip.

Dua orang asing yang berboncengan menggunakan motor kemudian datang menghampiri mobil tersebut. Mereka yang merupakan para pelaku tersebut kemudian menggebrak pintu mobil dengan keras dan bertanya dengan nada keras.

Melihat Dave di dalam mobil bersama seorang perempuan, pelaku kemudian menyimpulkan sendiri bahwa Dave dan teman perempuannya tersebut sedang berbuat mesum.

Baca Juga: PNM dan OJK Aceh Edukasi Keuangan Syariah untuk UMKM Perempuan, Dukung Kesejahteraan Ekonomi Berbasis Syariah

Lontaran pernyataan rasis dan prasangka-prasangka buruk pun dilontarkan pelaku kepada Dave. Dave berusaha menjelaskan dengan baik namun pelaku tampak tidak mau mendengar dan bersikeras bahwa Dave sedang berbuat mesum dan ia tidak mau menanggung dosa perbuatan Dave.

Teman perempuan Dave tampak ketakutan dan menjelaskan bahwa mereka hanya sedang makan, tidak berbuat mesum. Ia bahkan meminta maaf berkali-kali dengan harapan orang asing tersebut mau mengerti.

"Sudah terbukti bahwa saya tidak mesum karena saya punya rekaman dari sebelum kejadian sampai detik-detik akhir saya dianiaya dan diculik. Sebelum dianiaya, para pelaku menggebrak pintu kaca mobil teman saya selama 13 menit. Lalu pintu kaca tengah bagian kiri dan kanan dipecahkan dengan batu yang cukup besar," kata Dave.

Kemudian datanglah empat teman pelaku, dengan mengendarai dua motor. Saat itulah Dave mengaku menerima pukulan dan tendangan hingga membuat wajahnya babak belur, telinga robek, dan bajunya dilepas pelaku dengan tujuan agar warga sekitar percaya ia telah berbuat mesum.

"Saat itu saya ketakutan, hopeless, dan pasrah. Yang ada dipikiran saya adalah bagaimana reaksi orang tua saya ketika datang ke TKP jika saya tidak selamat," katanya.

"Saya sempat diculik dan diancam pembunuhan tapi untungnya saya sempat melarikan diri dan akhirnya ada satpam yang bisa membantu saya sebelum polisi datang," lanjutnya.**