POJOKSATU.id, JAKARTA-- Pengamat politik Citra Institute, Efriza, menganalisa Joko Widodo atau Jokowi mau gabung PSI demi selamatkan nama baiknya usai lengser dari jabatan Presiden.
Tidak saja nama baiknya, Jokowi dianalisa mau selamatkan legasi dan nama baik keluarganya pasca tak lagi menjabat sebagai presiden.
Jokowi tak bisa menikmati masa pensiunnya karena dihantam banyak isu miring pasca selesai menjabat presiden.
Lebih dari itu, Efriza memperkirakan Jokowi tidak mau kehilangan muka pasca lengser dari pemerintahan, sehingga harus kembali berpolitik secara aktif melalui PSI besutan anaknya Kaesang Pangarep.
Baca Juga: Kadin Pusat Nonaktifkan Pengurus Kadin Kota Cilegon Usai Jadi Tersangka Pemerasan Rp 5 Triliun
"Di sisi lain, ia juga harus menyelamatkan nama baik dirinya, legacynya, dan keluarganya,"tegas dosen ilmu pemerintahan Universitas Pamulang (UNPAM) itu, Sabtu (17/5).
Munculnya nama Joko Widodo sebagai kandidat kuat calon ketua umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memunculkan pertanyaan bagi publik.
Menurut Efriza, dengan diwacanakannya Jokowi sebagai caketum kuat PSI menandakan ada kegelisahan dari Jokowi.
Baca Juga: Polda Sumut Ungkap Sindikat Narkoba Senilai Rp100 M, Dari Sumsel ke Banten, 4 Orang Diamankan
"Jokowi jelas resah dirinya jika pasca tak punya jabatan politik ia hanya momong cucu," tutur Efriza.
Di samping itu,dia meyakini Jokowi tak bisa menikmati masa pensiunnya, karena dihantam banyak isu miring pasca selesai menjabat presiden.
"Sebab banyak kelompok maupun juga di publik menanyakan pola pengelolaan pemerintahan di masa dirinya yang banyak permasalahan," kata pengamat politik lulusan S2 Universitas Nasional (UNAS) ini.***




