POJOKSATU.id - Kasus dugaan pelecehan seksual di Pondok Pesantren Ndholo Kusumo, Pati, Jawa Tengah, terus memunculkan fakta-fakta yang bikin publik makin penasaran.
Setelah pengasuh ponpes berinisial AS alias Ashari resmi ditangkap, kini pengakuan salah satu mantan santriwati mulai ramai diperbincangkan karena dinilai sangat memilukan.
Korban berinisial Tari, nama samaran, mengungkap dirinya kerap diajak tidur sekamar dengan dalih “penyembuhan batin”.
Baca Juga: Honorer Menggugat: DPRD Diminta Kawal Nasib 3.421 Pengabdi
Pengakuan itu disampaikan dalam podcast Curhat Bang milik Denny Sumargo yang tayang pada 08 Mei 2026.
Dalam perbincangan tersebut, Tari mengaku mengalami dugaan pelecehan sejak masih duduk di bangku kelas 9 SMP.
Awalnya, ia disebut sebagai santri yang dekat dengan pengasuh pondok sehingga sering diminta membantu, termasuk memijat Kiai Ashari.
Namun, situasi berubah ketika dirinya disebut memiliki “penyakit batin” yang harus disembuhkan lewat ritual tertentu.
Baca Juga: Heboh Penyekapan Satu Keluarga di Sukasari Bandung, Tiga Anak dan Istri Berhasil Diselamatkan
Dari situlah, menurut Tari, pelaku mulai menggunakan dalih pengobatan spiritual untuk mendekatinya.
“Kalau habis ziarah sama habis salawatan biasanya langsung diajak nemenin tidur itu. Enggak sampai berhubungan sih, Pak,” ujar Tari dalam tayangan tersebut.
Denny Sumargo yang mendengar pengakuan itu tampak kebingungan dan mencoba memastikan maksud ucapan Tari.
“Oh, enggak, tidur maksudnya tidur satu kamar tok gitu?” tanya Denny.
Baca Juga: Guru Honorer Jadi Prioritas di SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026, Begini Infonya!
Tari membenarkan hal tersebut. Ia kemudian menjelaskan bahwa tindakan itu disebut sebagai bagian dari proses terapi batin berdasarkan arahan guru thoriqoh di pondok pesantren.
“Kalau kesannya itu katanya di sana kan ada guru thoriqoh. Di pondok sana itu ada guru thoriqoh. Terus bilangnya disuruh guru thoriqoh itu,” kata Tari.
Menurut pengakuannya, dirinya disebut memiliki banyak penyakit batin seperti iri hati, dengki, hingga fitnah sehingga perlu menjalani proses penyembuhan tertentu.
Baca Juga: Guru Honorer Jadi Prioritas di SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026, Begini Infonya!
“Bilangnya iri, banyak apa itu banyak penyakit dalam lah, semacam iri, semacam dengki, semacam banyak fitnah gitu,” ungkapnya.
Denny Sumargo kemudian mencoba menggali lebih jauh perasaan Tari saat pertama kali mendengar penjelasan tersebut.
“Aku enggak nangkapnya enggak gimana-gimana, tapi dalam hatiku masa aku seburuk itu gitu. Kadang mau, kadang nolak juga,” ujar Tari lirih.
Baca Juga: Lawan Kriminalisasi, Bambang Prabowo Rampung Beri Keterangan di Mabes Polri
Yang paling membuat publik merinding adalah saat Tari mengaku dirinya selalu merasa takut ketika berada di kamar bersama pelaku.
Bahkan, ia mengaku tidak pernah benar-benar tidur.
“Takut sih, Pak. Kalau gitu kok biasanya aku enggak pernah tidur. Beneran enggak pernah, cuma merem aja gitu,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa suasana di kamar biasanya hanya diisi dengan menonton video ceramah dari ponsel pelaku.
Namun tekanan mental yang dirasakannya perlahan semakin berat.
Baca Juga: Letkol Inf Nanda Siswanto Resmi Jabat Dandim 0604 Karawang
“Iya sering. Tapi sering juga aku nolak. Gimana ya, Pak, kan aku udah sering digituin. Jadi kayak merasa kok gini terus gitu. Mental saya ini kena gitu, Pak,” pungkas Tari.
Kasus ini kini memasuki babak baru setelah tim gabungan Polresta Pati dan Polda Jawa Tengah resmi menangkap AS alias Ashari pada Kamis, 7 Mei 2026.
Publik pun berharap proses hukum berjalan transparan agar para korban mendapatkan keadilan yang selama ini mungkin sulit mereka suarakan.
Di balik dinding tempat yang seharusnya menjadi ruang belajar dan perlindungan, ada luka batin yang ternyata diam-diam dipendam dalam ketakutan panjang.***




