POJOKSATU.ID – Sebuah angka yang fantastis terungkap dalam sosialisasi Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) membeberkan bahwa hingga Januari 2026, basis data yang menjadi acuan utama bantuan sosial nasional ini telah mencakup 289.060.513 data individu.
Angka yang melampaui jumlah penduduk rata-rata ini menunjukkan betapa masifnya upaya pemerintah dalam memetakan kondisi ekonomi rakyat Indonesia dari ujung ke ujung.
Baca Juga: Bongkar Borok Data Bansos Kemensos, Salah Sasaran Masih Menghantui, Desa Jadi Penentu!
Pemetaan Total: Dari Prasejahtera Hingga Orang Kaya
DTSEN bukan sekadar daftar penerima bantuan, melainkan penggabungan raksasa dari Regsosek, DTKS, dan data P3KE yang dipadankan dengan data kependudukan.
Semua individu ini diklasifikasikan ke dalam 10 tingkat kesejahteraan (desil):
Desil 1: Kelompok masyarakat paling prasejahtera yang menjadi prioritas utama bantuan.
Desil 10: Kelompok masyarakat sejahtera.
Dengan data yang mencakup hampir seluruh populasi, pemerintah mengklaim tidak akan ada lagi keluarga yang tercecer dalam proses pembangunan.
Baca Juga: Gus Ipul Dorong Pemutakhiran DTSEN atau Data Tunggal Sosial Ekonomi di Dearah ini!
Integrasi ini bertujuan agar bantuan sosial tidak lagi salah sasaran, melainkan benar-benar menyasar mereka yang membutuhkan berdasarkan peringkat validasi dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Meski memiliki database raksasa, Gus Ipul mengakui bahwa tantangan terbesar adalah ketidaktepatan data di lapangan.
Meniru keberhasilan digitalisasi di wilayah lain yang mampu memangkas tingkat kesalahan data dari angka mayoritas hingga di bawah 5 persen secara bertahap.
Hal ini krusial karena kondisi sosial ekonomi masyarakat sangat dinamis; yang hari ini mampu, besok bisa saja jatuh miskin, begitupun sebaliknya.***




