POJOKSATU.ID - Kemensos memberikan perhatian serius terhadap penanganan bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, dengan memfokuskan upaya pada wilayah yang masih terisolasi, khususnya Aceh Tamiang.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyatakan bahwa semua wilayah terdampak di ketiga provinsi tersebut menjadi perhatian utama, namun daerah yang sulit dijangkau hingga saat ini menjadi prioritas tertinggi.

Hal ini bertujuan untuk memastikan kebutuhan logistik dasar korban terpenuhi.

Menteri Sosial melaporkan bahwa akses darat menuju beberapa area di Aceh Tamiang diperkirakan segera bisa dilalui kendaraan roda empat.

Baca Juga: Menteri Sosial Dampingi Presiden Prabowo Tinjau Lokasi, Pastikan Distribusi Logistik dan Komitmen Rp5,2 Miliar untuk Sumbar

Merespons perkembangan ini, Kemensos segera mengirimkan logistik buffer stock.

Bantuan ini mencakup beragam kebutuhan seperti makanan siap saji, pakaian ibu dan anak, obat-obatan, tenda pengungsian, matras, beras, dan kebutuhan dasar lainnya.

Pola distribusi diperkuat melalui pengiriman ganda, yaitu jalur laut dan udara. Wakil Menteri Sosial Agus Jabo secara langsung mengawal pengiriman melalui kapal.

Secara paralel, pengiriman melalui udara juga dipersiapkan menggunakan helikopter yang disediakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Baca Juga: Kemendikdasmen: Alokasi Rp13,3 Miliar dan Upaya Intensif Pulihkan Pendidikan Pasca Bencana Sumatera

Strategi ini diterapkan untuk memastikan bantuan dapat menjangkau kantong-kantong pengungsian yang masih terisolasi.

Penanganan bencana ini merupakan kerja sama sinergis dan gotong royong yang melibatkan Kemensos, BNPB, TNI, dan Polri.

Serta pemerintah kabupaten/kota dan unsur daerah lainnya, sebagai tindak lanjut dari arahan Presiden.

Menteri Gus Ipul menerima laporan bahwa di Aceh Tamiang, sekitar sepuluh kecamatan masih terisolasi, meskipun akses ke dua kecamatan lainnya sudah mulai terbuka.

Hingga saat ini, total bantuan yang telah disalurkan Kemensos mencapai sekitar Rp25 miliar.

Dana tersebut mencakup bantuan natura serta dukungan operasional untuk dapur umum, termasuk pembiayaan bahan baku dan sumber daya manusia (SDM).

Kemensos telah mengoperasikan sekitar 30 dapur umum yang dikelola oleh masyarakat dan dinas sosial setempat di tiga provinsi.

Lebih dari 570 SDM Taruna Siaga Bencana (Tagana) dikerahkan untuk mendukung operasional dapur umum, dengan kemampuan menghasilkan sekitar 80 ribu bungkus makanan siap saji setiap hari.

Baca Juga: Kemendikdasmen: Alokasi Rp13,3 Miliar dan Upaya Intensif Pulihkan Pendidikan Pasca Bencana Sumatera

Terkait kerugian jiwa, Kemensos akan memberikan santunan sebesar Rp15 juta untuk ahli waris korban meninggal dan Rp5 juta bagi korban yang mengalami luka berat.

Setelah fase darurat, pemerintah juga akan menyiapkan program pemberdayaan bagi warga yang kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, atau mata pencaharian.

Mengenai pembangunan hunian, Menteri Gus Ipul menjelaskan bahwa penanganan Hunian Sementara (Huntara) dan Hunian Tetap (Huntap) dipimpin oleh Kepala BNPB.

Proses perencanaan dan identifikasi sedang berjalan, melibatkan koordinasi dengan pemerintah daerah, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP).

Baca Juga: Menteri Sosial Dampingi Presiden Prabowo Tinjau Lokasi, Pastikan Distribusi Logistik dan Komitmen Rp5,2 Miliar untuk Sumbar

Menurut data Rekapitulasi Terdampak Bencana dari Dashboard Penanganan Darurat BNPB pada Rabu (3/12) pagi.

Bencana banjir dan longsor yang terjadi pada akhir November 2025 ini telah berdampak pada jutaan penduduk di Sumatera.

Tercatat sebanyak 753 korban meninggal dan 650 orang dinyatakan hilang, serta 2.600 warga mengalami luka-luka.

Bencana ini melanda 50 kabupaten/kota, merusak ribuan rumah, fasilitas umum, dan memaksa ratusan ribu orang mengungsi.***

 

Silahkan akses artikel lainnya melalui apps kami:

Versi Android

Versi iOS

Channel WhatsApp

Fanpage Edugov

Baca informasi menarik lainnya dari penulis: Ferdy Wamala