POJOKSATU.ID - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akhirnya bergerak cepat.

Setelah luapan air Kali Krukut kembali merendam kawasan Kemang, Jakarta Selatan, akhir Oktober lalu, proyek normalisasi sungai yang sempat tertunda kini kembali dikebut.

Targetnya, sebelum musim hujan puncak Desember–Januari, sebagian besar pengerjaan tanggul dan pengerukan sudah selesai.

Baca Juga: DPR Tegaskan! Tak Boleh Lagi Ada Guru Mengabdi Tanpa Status di Era ASN Baru

Ia menegaskan proyek ini bukan sekadar pengerukan, tapi rekonstruksi total aliran Kali Krukut agar dapat menampung debit air lebih besar.


1,3 Kilometer Harapan Baru

Selama bertahun-tahun, Kali Krukut menjadi momok bagi warga Kemang.

Setiap kali hujan deras mengguyur, sungai meluap dan menenggelamkan jalan utama serta kawasan perniagaan. Luapan tertinggi bahkan mencapai satu meter.

Baca Juga: Liburan Hemat di Bandung? Ini Dia 7 Tempat Wisata Seru Di Bandung Mulai Rp10.000 Aja

Proyek normalisasi ini diharapkan mampu menjadi solusi permanen.

Pemerintah menyiapkan anggaran besar untuk memperlebar sungai dan memperkuat tanggul di sisi permukiman.

Selain memperlebar, Dinas SDA juga menargetkan pengerukan sedimen di bagian bawah sungai yang selama ini menumpuk akibat limbah dan sampah.


Pembebasan Lahan Jadi Tantangan

Salah satu tantangan utama proyek ini adalah pembebasan lahan.

Baca Juga: Gaspol ke Honda Bikers Day, Komunitas Honda Jabar Kokohkan Solidaritas dan Keselamatan Berkendara

Berdasarkan data Dinas Pertanahan DKI, terdapat 65 bidang tanah seluas 1,52 hektar yang harus dibebaskan.

Sebagian besar berada di permukiman padat dan kawasan usaha di sekitar Kemang Raya.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memastikan proses akan dilakukan dengan pendekatan humanis.

Baca Juga: Pesan Terakhir Antasari, Ingin Pulang dan Meninggal di Rumah

pemerintah sedang berkoordinasi dengan BPN untuk mempercepat penetapan status lahan yang masih tumpang tindih.

Namun, di lapangan, proses negosiasi belum sepenuhnya mulus. Beberapa warga mengaku khawatir ganti rugi tidak sesuai nilai pasar.


Tanggul Retak Picu Aksi Cepat

Insiden retaknya tanggul Kemang Village yang terjadi pada 30 Oktober lalu menjadi pemicu percepatan proyek ini.

Baca Juga: Kebijakan Baru ASN 2025, PPPK Paruh Waktu Jadi Solusi Penataan Non-ASN

Retakan menyebabkan air dari Kali Krukut keluar dan merendam jalan-jalan sekitar.

Selain tanggul, sejumlah drainase penghubung dari jalan-jalan kecil menuju sungai juga akan diperlebar.

Pemprov DKI menggandeng kontraktor lokal dan TNI-Polri untuk membantu pengerjaan cepat selama masa siaga banjir.


Kolaborasi dan Pengawasan

Normalisasi Kali Krukut tidak hanya melibatkan pemerintah.

Baca Juga: Pelaku Ledakan Bom SMAN 72 Terekam CCTV Diantar Ayahnya Bawa 2 Tas Ransel Besar ke Sekolah

Pemprov DKI menggandeng Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWSCC) dan sejumlah lembaga teknis.

Pemerintah berjanji proyek ini akan transparan dan dapat dipantau publik.

Setiap progres pekerjaan akan dilaporkan melalui situs resmi Dinas SDA.

Bagi warga Kemang, langkah cepat ini membawa secercah harapan.

Rini, pedagang warung yang rumahnya sering terendam, mengaku lega mendengar kabar pengerjaan sudah berjalan.

Baca Juga: FIX Dapat Nilai 25, Kunci Jawaban Post Test PPG 2025 PSE 2: Pembelajaran Sosial Emosional, Memahami Well Being

Namun warga juga berharap proyek ini benar-benar tuntas, bukan hanya sebatas pengerukan sementara.

Pemerintah pun berjanji proyek ini akan terus dilanjutkan hingga 2026 untuk segmen berikutnya.

Fokus utama adalah memperkuat tanggul, memperlebar aliran, dan menambah pompa di titik-titik kritis.


Sungai yang Harus Pulih

Kali Krukut bukan sekadar saluran air, tapi bagian dari sistem kehidupan Jakarta Selatan. Saat sungai kehilangan ruangnya, kota pun kehilangan keseimbangannya.

Normalisasi kali ini bukan hanya proyek infrastruktur, tapi upaya memulihkan hubungan antara warga dan alamnya agar Kemang bisa kembali hidup tanpa rasa waswas setiap kali langit mendung.***