POJOKSATU.ID - Menjelang datangnya puncak musim hujan, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bergerak cepat.
Wali Kota Eri Cahyadi turun langsung ke lapangan memimpin operasi drainase besar-besaran di seluruh titik rawan genangan.
Aksi ini jadi bagian dari strategi antisipasi dini agar kota terbesar di Jawa Timur itu tidak lagi dihantui banjir musiman.
Berdasarkan data resmi, hingga awal November 2025 pengerjaan proyek drainase telah mencapai sekitar 70 persen.
Pemerintah menargetkan sebagian besar proyek rampung sebelum akhir bulan ini agar siap menghadapi curah hujan tinggi pada Januari–Februari 2026.
Dari Normalisasi Saluran hingga Rumah Pompa
Pemkot Surabaya mengerahkan ratusan pekerja Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) untuk mempercepat pengerjaan di lapangan.
Baca Juga: Kemendiktisaintek Buka Program RIKUB 2026, Dana Riset Hingga Rp700 Juta untuk Dosen dan Peneliti!
Fokus utama pengerjaan adalah normalisasi saluran air, pembersihan sedimen, dan peningkatan kapasitas drainase di titik-titik rawan.
Selain itu, rumah pompa dan pintu air yang tersebar di berbagai wilayah juga diperiksa secara berkala.
Satgas Unit Reaksi Cepat (URC) turut disiagakan 24 jam untuk mendeteksi genangan sejak dini.
Langkah ini menjadi bagian penting agar penanganan air hujan bisa dilakukan secara real-time di lapangan.
38 Titik Rawan Jadi Prioritas
Dari data Pemkot, ada 38 titik rawan genangan di delapan rayon yang kini jadi fokus utama pengerjaan.
Baca Juga: Berkas Kasus Kades Cikuda Dikembalikan, Kejari Bogor Temukan Kekurangan Formil dan Materiil
Proyek ini menyerap anggaran sekitar Rp158 miliar, difokuskan pada kawasan yang setiap tahun terdampak banjir, seperti Rungkut, Wonokromo, dan Genteng.
Selain itu, sekitar 200 titik penyebab banjir juga diidentifikasi sebagai PR besar yang harus diselesaikan bertahap hingga 2025.
Pemkot berharap dengan penyelesaian proyek drainase besar-besaran ini, sebagian besar wilayah Surabaya bisa bebas genangan di musim hujan mendatang.
Baca Juga: Usai Insiden Ledakan SMAN 72, Komisi I DPR Jadwalkan Rapat dengan Kemenhan dan TNI
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini Pemkot menerapkan strategi penanganan per kawasan (area-based).
Artinya, setiap wilayah ditangani sebagai satu kesatuan sistem drainase yang saling terhubung.
Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena mampu mengalirkan air dari hulu ke hilir tanpa hambatan.
Selain itu, Pemkot juga berkolaborasi dengan instansi vertikal seperti Balai Besar Wilayah Sungai Brantas (BBWS) untuk sinkronisasi sistem air di kawasan perbatasan kota.
Baca Juga: DPR RI Apresiasi PLTU Cirebon Power Jadi Contoh Pembangkit Ramah Lingkungan
Kesuksesan operasi drainase juga ditopang oleh partisipasi masyarakat.
Pemkot mengimbau warga untuk tidak menutup saluran air dengan bangunan liar atau membuang sampah ke got.
Beberapa kelurahan bahkan menggelar kerja bakti rutin membersihkan selokan.
Langkah kecil warga ini terbukti membantu memperlancar aliran air, terutama di kawasan padat penduduk yang sering mengalami penyumbatan.
Jika proyek ini selesai sesuai target, Surabaya berpeluang besar menjadi kota besar dengan sistem drainase paling siap di Indonesia.
Pemerintah menegaskan, operasi besar-besaran ini bukan proyek seremonial, melainkan bagian dari upaya jangka panjang membangun kota tangguh terhadap cuaca ekstrem.
BMKG memprediksi puncak musim hujan akan datang lebih cepat, namun Pemkot yakin kesiapan lapangan tahun ini jauh lebih matang dibandingkan sebelumnya.
Dengan sinergi lintas instansi dan dukungan warga, Surabaya menatap musim hujan dengan lebih tenang.
Sebuah bukti bahwa kerja cepat, gotong royong, dan tata kelola drainase yang baik bisa jadi senjata utama melawan banjir perkotaan.***




