POJOKSATU.ID - Pemerintah Kabupaten Tangerang mengalokasikan anggaran sebesar Rp2,15 miliar untuk pembangunan Tugu Titik Nol.
Proyek ini dirancang sebagai penanda geografis sekaligus ikon baru yang merepresentasikan identitas dan wajah Kabupaten Tangerang.
Pembangunan Tugu Titik Nol tersebut dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Bagi pembaca yang ingin ikut mengambil peran, silakan membuka tautan donasi melalui teks ini ==> Gerakan Anak Negeri
Pemerintah daerah menyebut, keberadaan tugu ini diharapkan mampu mempercantik ruang publik serta mendukung pengembangan sektor pariwisata daerah.
Menurut rencana, Tugu Titik Nol akan menjadi titik orientasi wilayah, sekaligus simbol awal atau pusat geografis Kabupaten Tangerang.
Pemerintah berharap ikon tersebut dapat menjadi ruang publik baru yang menarik perhatian masyarakat lokal maupun wisatawan.
Baca Juga: Pasar Royal Baroe Siap Diresmikan Akhir Desember, Pemkot Serang Siapkan Gebrakan Ekonomi Baru
“Keberadaan tugu ini diharapkan dapat memperkuat identitas daerah serta menjadi daya tarik baru bagi Kabupaten Tangerang,” ujar perwakilan pemerintah daerah, dikutip pojoksatu.id dari instagram @chadsfolk (18/12/2025).
Namun, besarnya anggaran yang digelontorkan untuk proyek tersebut memicu perhatian dan kritik publik.
Sejumlah warga mempertanyakan urgensi pembangunan Tugu Titik Nol, terutama di tengah berbagai kebutuhan masyarakat yang dinilai lebih mendesak, seperti perbaikan infrastruktur dasar, layanan kesehatan, hingga pendidikan.
Baca Juga: Pemkot Mataram Buka Suara soal CPNS 2026! Kebutuhan ASN Tembus 12.000 Formasi
Sebagian masyarakat menilai pembangunan tugu dengan anggaran miliaran rupiah perlu dikaji secara matang agar benar-benar memberikan manfaat jangka panjang, bukan sekadar proyek simbolik.
Kritik juga muncul terkait prioritas penggunaan APBD, mengingat kondisi ekonomi masyarakat yang masih menghadapi berbagai tantangan.
“Kalau memang untuk ikon daerah, harus jelas dampaknya untuk masyarakat. Jangan sampai hanya jadi bangunan mahal tanpa manfaat nyata,” ujar salah satu warga Tangerang.
Pemerintah Kabupaten Tangerang menegaskan bahwa proyek ini bukan hanya soal estetika, melainkan bagian dari strategi penataan kota dan pengembangan pariwisata.
Dengan adanya ikon baru, diharapkan akan muncul aktivitas ekonomi turunan seperti kunjungan wisata, pelaku UMKM, hingga peningkatan ruang interaksi publik.
Meski demikian, desakan agar pemerintah menjamin transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan proyek terus menguat.
Baca Juga: Gus Ipul Umumkan Skema Bantuan Korban Banjir, Rp10 Ribu per Hari hingga Santunan Jutaan Rupiah
Masyarakat meminta agar proses perencanaan, pengadaan, hingga pelaksanaan pembangunan dilakukan secara terbuka dan dapat diawasi publik.
Pengamat kebijakan publik menilai, proyek-proyek simbolik seperti tugu atau monumen harus disertai dengan kajian manfaat sosial dan ekonomi yang jelas.
Tanpa perencanaan yang matang, proyek berpotensi menjadi beban anggaran tanpa dampak signifikan bagi kesejahteraan warga.
Di sisi lain, pemerintah daerah menyatakan akan memastikan pembangunan Tugu Titik Nol dilakukan sesuai aturan dan peruntukannya.
Baca Juga: Oknum Guru SMK di Karawang Diduga Kirim Pesan WhatsApp Tak Pantas ke Siswi
Evaluasi serta pengawasan internal disebut akan terus dilakukan agar proyek berjalan efektif dan efisien.
Polemik pembangunan Tugu Titik Nol ini mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap penggunaan anggaran publik.
Publik kini tidak hanya menuntut pembangunan, tetapi juga kejelasan manfaat dan prioritas kebijakan yang berpihak pada kepentingan luas masyarakat Kabupaten Tangerang.***




