POJOKSATU.id, SURABAYA— Pemilik Toko Emas Semar Pasar Wage, Nganjuk, inisial TW dan DB kerap menerima tamu dari luar kota di rumah mereka di Jalan Tampomas, Sawahan, Surabaya.

Rumah dua tingkat di Jalan Tampomas ini berfungsi memproduksi emas batangan yang dikerjakan dua orang pekerja.

Para tamu yang datang membawa emas mentah atau butiran emas lalu dilebur di rumah milik TW dan DB ini.

Rumah mewah itu digeledah anggota Bareskrim Polri sepanjang Kamis (19/2/2026) mulai pukul 10.00 WIB hingga sekitar pukul 20.00 WIB.

Tetangga berinisial HN (55) menyebutkan, bangunan rumah dua lantai itu memang difungsikan sebagai tempat produksi peleburan emas.

Baca Juga: Pemilik Toko Emas Semar Nganjuk Dirawat Sakit Jantung, Istri Datangi Penyidik Saat Rumah Digeledah

HN mengungkap, pasutri pemilik Toko Emas Semar Nganjuk ini kerap menerima tamu dari luar Kota Surabaya. Mereka hendak meleburkan pecahan emas menjadi emas batangan.

"Cuma dua aja karyawannya. Tiap hari garap. Jadi dia terima emas dari luar, disetor dari luar kota. Yang nyetor itu kadang pelat nomor (mobil) dari luar kota," jelas HN yang rumahnya berdekatan dengan TW kepada wartawan, Jumat (20/2).

Menurut HN, pasutri TW dan DB ini hanya memproduksi emas batangan. Tidak ada produksi mereka dalam bentuk perhiasan.

"Emas batang. Kayak dilebur gitu. Enggak bisa (dibuat perhiasan). Gak ada karyawannya, hanya terima rantakan tok,” jelasnya.

HN kembali memperjelas bahwa pasutri ini hanya memproduksi emas batangan saja.

Baca Juga: Penggeledahan Toko Emas Semar Nganjuk Bermula dari Transaksi Rp 25,8 Triliun Tambang Ilegal Kalbar

“Iya batangan," jelasnya.

Diketahui, Dittipideksus Bareskrim Polri menyita empat kotak wadah (kontainer) berisi barang bukti seperti dokumen, uang dan belasan kilogram emas batangan dari rumah di Jalan Tampomas ini.

Sosok Pasutri Tertutup

Menurut HN, dirinya dan para tetangga lain tidak terlalu mengenal sosok pasutri tersebut karena mereka pribadi yang tertutup.

Mereka diketahui jarang bersosialisasi atau sekadar menyapa warga saat bertemu di jalan. Kedua pasutri ini tidak pernah kumpul dengan warga sekitar.

Mereka kerap bepergian dengan mobil yang dikemudikan sopir pribadi.

"Dia naik mobil, kalau turun, ya langsung masuk. Sopirnya aja gak tahu ngobrol. Jarang gak pernah nyapa. Termasuk istrinya, sama. Masuk ke dalam gak pernah keluar (rumah). Istrinya bosnya," ujarnya.

Setahu HN, bangunan rumah tersebut sudah dibeli pasutri tersebut sejak sekitar 10 tahun lalu, senilai sekitar tiga miliar rupiah.

"Itu dia orang baru. Kurang lebih 10 tahunan. Ini beli Rp3 miliar lebih. Bangunan depan ini dibeli juga, iya (difungsikan buat parkiran)," katanya.

Selain rumah mewah di Jalan Tampomas, pasutri ini juga memiliki rumah mewah di Jalan Diponegoro, Kelurahan Payaman, Kecamatan Nganjuk, Kabupaten Nganjuk.***