POJOKSATU.ID - Pemerintah Indonesia bersiap mengirim tim khusus ke China untuk membahas lanjutan negosiasi pembayaran utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan keuangan negara sekaligus memperjelas skema restrukturisasi pembiayaan proyek infrastruktur besar yang digarap bersama investor asal Tiongkok.

Salah satu nama yang disebut akan ikut dalam tim negosiasi tersebut adalah Purbaya Yudhi Sadewa,

Baca Juga: Benarkah Guru Honorer Swasta Bisa Diangkat Jadi PPPK Paruh Waktu? Ini Penjelasan Resmi Pemerintah

Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sekaligus mantan Deputi Menko Perekonomian.

Purbaya mengatakan dirinya diajak untuk turut serta agar bisa memahami langsung konteks pembicaraan antara kedua negara, terutama menyangkut aspek utang dan risiko fiskal jangka panjang.


Proyek Whoosh yang resmi beroperasi pada 2023 lalu memang menjadi kebanggaan sekaligus tantangan bagi pemerintah.

Di balik kecepatan dan modernitasnya, proyek ini masih menyisakan pekerjaan rumah besar dalam hal pembiayaan.

Baca Juga: Mahfud MD: Keaslian Ijazah Dulu Dong yang Diproses, Baru Kasus Pencemaran Nama Baiknya, Jangan Dibalik Begitu

Data terakhir menunjukkan utang proyek tersebut masih menumpuk, dengan kewajiban pembayaran mencapai sekitar Rp 1,2 triliun per tahun.

Pemerintah juga membuka peluang untuk menggunakan dana hasil sitaan koruptor sebagai salah satu sumber pembiayaan alternatif.

Ide ini pertama kali dilontarkan oleh Presiden Prabowo Subianto, yang menyebut langkah tersebut sebagai cara konkret mengubah uang haram menjadi pembangunan nasional.

Baca Juga: Pesan Kepala BKN di Pelantikan 6.596 PPPK Paruh Waktu, 'Instrumen Ekonomi Daerah'

Dalam pernyataannya kepada media, Purbaya mengungkapkan pentingnya transparansi dan kehati-hatian dalam setiap proses negosiasi.

Ia menegaskan, keterlibatan langsung pejabat ekonomi senior seperti dirinya bukan sekadar simbol, melainkan bentuk komitmen pemerintah menjaga kredibilitas Indonesia di mata mitra luar negeri.


Proyek kereta cepat Whoosh merupakan hasil kerja sama antara Indonesia dan China melalui perusahaan patungan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

Meski sukses menarik perhatian publik karena mempercepat waktu tempuh Jakarta–Bandung menjadi kurang dari 45 menit.

Baca Juga: Bahlil Lahadalia, Dulu Benci Pejabat, Sekarang Tahu Nikmatnya Jadi Pejabat

Proyek ini juga menjadi sorotan karena pembengkakan biaya dan pinjaman luar negeri.

Kementerian Keuangan sebelumnya menyebut, pembengkakan biaya proyek disebabkan oleh sejumlah faktor perubahan desain, pembebasan lahan yang memakan waktu lama, hingga kenaikan harga material global.

Akibatnya, struktur pendanaan proyek ini mengalami revisi beberapa kali.


Langkah pemerintah mengirim tim ke China dinilai sebagai sinyal positif bagi stabilitas ekonomi.

Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, Dr. Raden Satrio, menilai negosiasi langsung dapat membuka ruang diplomasi ekonomi yang lebih fleksibel.

Baca Juga: Honda Daya Jayadi Racing Team Raih Podium, Konsistensi Makin Terlihat di Kejurda Road Race IMI Jabar Tasikmalaya

Selain itu, keberadaan Purbaya dalam tim negosiasi dianggap menambah bobot teknokratis karena latar belakangnya yang kuat dalam analisis makroekonomi.

Dengan begitu, pemerintah diharapkan mampu menekan risiko fiskal tanpa mengganggu kepercayaan investor global terhadap Indonesia.


Kunjungan tim Indonesia ke China dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat.

Baca Juga: Air dari Gunung Sendiri Tak Laku? Ini Alasan RI Masih Impor Air Minum Dalam Kemasan!

Pemerintah berharap kesepakatan baru mengenai pembayaran utang Whoosh bisa dicapai sebelum akhir tahun, sehingga tidak menimbulkan beban tambahan di APBN 2026.

Langkah ini sekaligus menjadi ujian diplomasi ekonomi era baru pemerintahan Prabowo Subianto menyeimbangkan kemandirian nasional dengan realitas global.

Kini, pemerintah berupaya menata ulang pembayaran agar tidak membebani APBN di tengah ketatnya ruang fiskal nasional.***