POJOKSATU.id — Kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan pekerjaan di luar negeri terus diperluas pemerintah melalui program persiapan tenaga kerja migran.
Program tersebut menyasar berbagai jenjang pendidikan, mulai dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Sekolah Menengah Atas (SMA), diploma, hingga perguruan tinggi.
Lewat inisiatif SMK Go Global, pemerintah menetapkan sasaran sebanyak 500.000 calon pekerja migran yang akan dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di sejumlah negara sampai 2029.
Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin menjelaskan bahwa program ini tidak semata-mata berorientasi pada peningkatan jumlah pekerja yang ditempatkan di mancanegara.
Baca Juga: Pemerintah Tak Naikkan Tarif Pajak 2027, Target Penerimaan Capai Rp2.591,4 Triliun
Setiap peserta juga akan mendapatkan persiapan agar kemampuan yang dimiliki sesuai dengan tuntutan dan standar dunia kerja internasional.
“Pemerintah itu telah mencanangkan kita mempersiapkan 500.000 pekerja pekerja migran yang siap ditempatkan (di luar negeri) yang harus kita persiapkan dari sisi kompetensinya, skill-nya,” kata Mukhtarudin.
Dari keseluruhan target 500.000 calon pekerja migran tersebut, pemerintah menetapkan sekitar 300.000 kuota secara khusus bagi lulusan SMK.
Adapun 200.000 kuota sisanya terbuka bagi masyarakat umum, termasuk mereka yang memiliki latar belakang pendidikan SMA sampai jenjang perguruan tinggi.
Baca Juga: Pemutihan Pajak Kendaraan Bisa Dibayar Online, Ini Cara Bayar Lewat Aplikasi Signal
Pelaksanaan program akan dilakukan secara bertahap selama empat tahun.
Pada 2026, terdapat target sebanyak 40.000 peserta yang akan mendapatkan persiapan untuk bekerja di luar negeri.
Kemudian, jumlah peserta yang diproyeksikan meningkat menjadi 140.000 orang pada 2027.
Target tersebut kembali bertambah pada 2028 dengan jumlah 180.000 calon pekerja.
Sementara pada 2029, pemerintah menargetkan 140.000 orang kembali memperoleh persiapan melalui program tersebut.
Jika seluruh target tersebut terealisasi, jumlah peserta yang dipersiapkan sepanjang 2026-2029 akan mencapai 500.000 orang.
Baca Juga: Pemutihan Pajak Kendaraan Bisa Dibayar Online, Ini Cara Bayar Lewat Aplikasi Signal
Mukhtarudin berharap seluruh peserta nantinya tidak hanya selesai mengikuti pelatihan, tetapi benar-benar memiliki kemampuan yang dapat digunakan ketika memasuki dunia kerja internasional.
Persiapan yang diberikan meliputi peningkatan kompetensi, penguasaan keterampilan teknis, kemampuan berbahasa, hingga kepemilikan sertifikasi yang dibutuhkan.
“Sehingga diharapkan nanti tahun 2029 yang sudah memiliki kompetensi memiliki sertifikasi, skill teknis, bahasa dan sertifikasi, dan siap untuk ditempatkan bekerja di luar negeri itulah target yang ingin dicapai dari program SMK global ini,” ujarnya.
Kick Off SMK Go Global resmi digelar oleh Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Baca Juga: 80 Sekolah Swasta Elite Tak Lagi Dapat MBG, BGN Ungkap Alasannya
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam meningkatkan kesiapan lulusan SMK agar mampu memasuki dan bersaing di pasar kerja global.
Menurut Mukhtarudin, kepemilikan ijazah belum menjadi jaminan seseorang siap bekerja di negara lain.
Para calon pekerja perlu memiliki keterampilan yang relevan, kemampuan bahasa, serta sertifikasi yang memiliki pengakuan luas.
Pengetahuan mengenai kebiasaan, budaya, serta karakteristik lingkungan kerja di negara tujuan juga dinilai penting untuk diberikan kepada calon pekerja.
Mukhtarudin menjelaskan bahwa SMK Go Global memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan sekadar pelatihan keterampilan.
Program tersebut diarahkan untuk membentuk tenaga kerja Indonesia yang memiliki kemampuan sesuai kebutuhan industri internasional.
Dengan bekal tersebut, lulusan diharapkan dapat memperoleh akses terhadap pekerjaan yang layak sekaligus mampu bersaing dengan tenaga kerja dari negara lain.
“SMK Go Global bukan sekadar program pelatihan. Ini adalah upaya pemerintah menyiapkan generasi muda Indonesia agar memiliki kompetensi dan sertifikasi yang diakui secara global, sehingga mereka mampu bersaing dan mendapatkan pekerjaan yang layak di pasar kerja internasional,” jelasnya.
Pemerintah telah menyiapkan sejumlah negara yang berpotensi menjadi lokasi penempatan tenaga kerja melalui program SMK Go Global.
Negara yang masuk dalam proyeksi tersebut antara lain Jepang, Korea Selatan, Jerman, Australia, Malaysia, serta Singapura.
Kesempatan penempatan juga mencakup sejumlah negara di kawasan Eropa, Turki, Taiwan, dan beberapa negara lainnya.
Mukhtarudin menekankan bahwa capaian program tidak cukup hanya dilihat dari jumlah pekerja yang berhasil diberangkatkan ke luar negeri.
Pemerintah juga ingin memastikan setiap pekerja yang ditempatkan memiliki kualitas dan kesiapan yang memadai sesuai persyaratan negara tujuan.
Melalui pembekalan keterampilan, sertifikasi, bahasa asing, serta pengetahuan mengenai budaya kerja, lulusan SMK hingga perguruan tinggi diharapkan semakin siap menghadapi persaingan di tingkat global.
Program SMK Go Global sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah membuka lebih banyak akses bagi generasi muda Indonesia untuk memperoleh peluang kerja di luar negeri dengan bekal kompetensi yang lebih baik.***


.webp)

