POJOKSATU.id – Di tengah sorotan kebijakan pembatasan game online yang tengah dikaji pemerintah, muncul sebuah paradoks menohok.
sektor game di Indonesia mencatat angka pasar yang luar biasa besar.
Namun hanya sebagian kecil saja yang dinikmati oleh pengembang lokal.
Baca Juga: Masa Kontrak PPPK Paruh Waktu Hanya 1 Tahun, Pengangkatan Penuh Waktu Masih Tanda Tanya
Data ini memperlihatkan bagaimana potensi ekonomi digital ini belum sepenuhnya menjadi milik anak bangsa.
Menurut keterangan resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Industri game online Indonesia pada 2023 sudah membukukan pendapatan lebih dari US$ 1,6 miliar atau sekitar Rp 24 triliun-an.
Baca Juga: Tes Substantif PPG 2025 Segera Dimulai! Cek Jadwal Resmi, Aturan di TUK, dan Kisi-Kisi Soal
Bahkan, pemerintah pada Februari 2024 menargetkan pendapatan industri permainan (game) domestik bisa mencapai Rp 42,5 triliun di tahun yang sama.
Namun, di balik angka yang menggoda tersebut, terkuak kenyataan yang mengecewakan.
Studi dari Agate menyebut bahwa pasar game Indonesia mencapai sekitar Rp 41,3 triliun (US$ 2,5 miliar) namun 99,5 % dari nilai pasar itu dikuasai gim asing.
Baca Juga: Dari Ekonomi ke Nasionalisme, Wagub Jabar Serukan Gerakan Cinta Rupiah
Sementara hanya 0,5 % atau sekitar Rp 206 miliar yang dinikmati oleh pengembang lokal.
Lebih lanjut, data lain dari berbagai sumber memperkuat tren ini pasar game Indonesia senilai sekitar Rp 30–33 triliun.
Tetapi pengembang lokal hanya memperoleh kisaran 2,5 hingga 5 % dari total pasar.
Apa arti semua ini? Untuk pemerintah yang kini tengah mempertimbangkan pembatasan terhadap game online.
Baca Juga: Setelah Ledakan di Sekolah, Prabowo Soroti Game Online, Anak-anak Bisa Terpengaruh!
dengan judul populer seperti PUBG menjadi contoh angka-angka tersebut menegaskan bahwa industri game bukan sekadar masalah hiburan atau konten yang perlu dibatasi.
Melainkan juga potensi ekonomi yang besar yang harus dikelola dengan lebih baik.
Bila pemerintah mengambil langkah pembatasan tanpa mempertimbangkan sisi ekonomi dan industri kreatif, maka bisa terjadi dua hal yang tak diinginkan.
Baca Juga: Masa Kontrak PPPK Paruh Waktu Hanya 1 Tahun, Pengangkatan Penuh Waktu Masih Tanda Tanya
Pertama, potensi pasar yang besar ini tetap mengalir ke luar negeri
Kedua, pengembangan game lokal semakin terhambat dan Indonesia akan semakin tertinggal dalam ekosistem kreatif global.
Pemerintah sendiri telah menetapkan target dan mulai menyiapkan regulasi.
Baca Juga: Setelah Ledakan di Sekolah, Prabowo Soroti Game Online, Anak-anak Bisa Terpengaruh!
Seperti rencana Peraturan Presiden untuk percepatan industri game nasional agar “tidak hanya mendapatkan 0,5 % pangsa pasar”.
Maka, pembatasan konten game online yang sekarang sedang dikaji harus dibarengi dengan strategi pengembangan industri game lokal.
Dukungan akses pendanaan, dan perlindungan kekayaan intelektual bagi developer Indonesia.
Adapun faktor lain yang memperkuat urgensi agenda ini adalah pertumbuhan pengguna game di Indonesia.
Dalam salah satu laporan disebutkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 150 juta gamer, menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar game terbesar di Asia Tenggara.
Dengan basis pengguna sedemikian luas, maka keputusan pembatasan game online bukan hanya soal “hiburan anak muda”.
Tetapi juga tentang bagaimana Indonesia bisa mengambil manfaat maksimal dari gelombang ekonomi digital yang tengah melaju.
Bila pembatasan hanya fokus pada sisi proteksi tanpa memikirkan sisi produktif, maka peluang besar itu bisa terlewatkan.
Sejatinya, langkah pemerintah untuk membatasi game online harus berpadu dengan kebijakan yang mempromosikan ekosistem game lokal.
Memberi insentif fiskal, membuka akses pasar global, memperkuat skema pendanaan start-up game, dan memfasilitasi pelatihan sumber daya manusia di bidang game development.
Indonesia telah menunjukkan bahwa pasar game-online bukanlah segmen kecil tetapi bila keberhasilan ekonominya tidak dibagi secara adil.
Maka potensi yang ada bisa menjadi sia-sia.
Kebijakan yang terintegrasi antara regulasi pembatasan dan langkah pengembangan industri lah yang akan membuat game online bukan hanya arena hiburan.
Tetapi juga mesin pertumbuhan ekonomi kreatif nasional.***




