POJOKSATU.ID-  Proses pembongkaran pagar laut dari bambu sepanjang 30,16 kilometer di pesisir utara Tangerang akhirnya tuntas.

Pembongkaran ini dilakukan secara manual oleh 900 personel dari Pasmar 1, Lantamal III, dan Koarmada I, dengan dukungan sejumlah armada seperti kapal patroli keamanan laut (Patkamla), sepuluh perahu karet, satu Ranger Boat (RBB), dan satu Rigid-Hull Inflatable Boat (RHIB).

Setelah dibongkar, tidak semua bambu diangkut kembali oleh petugas. Beberapa batang dibawa ke Pos TNI AL Tanjung Pasir sebagai barang bukti, sementara sisanya tertumpuk di lokasi.

Komandan Lantamal III, Brigjen TNI (Mar) Harry Indarto, menjelaskan bahwa beberapa bambu patah selama proses pembongkaran akibat metode pencabutan menggunakan tali yang ditarik.

Baca Juga: Bakal Laporkan Balik Lolly, Razman Nasution Ingatkan Nikita Mirzani : Jangan Mengira Vadel Badjideh Dipenjara Jadi Kemenangan

"Yang patah itu karena dalam proses pembongkaran kami menggunakan tali tambang kemudian ditarik, sehingga ada yang patah. Mungkin karena rapuh juga di dalam air," kata Komandan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) III, Brigjen TNI (Mar) Harry Indarto,

Bambu yang dicabut memiliki panjang 5 hingga 6 meter, dengan diameter 10 hingga 15 cm. Sebagian dari bambu yang tersisa diberikan kepada nelayan untuk dimanfaatkan sebagai bagan dan keramba apung.

Pembongkaran ini awalnya dijadwalkan berlangsung 10 hari, namun bertambah menjadi 11 hari karena cuaca buruk, termasuk gelombang tinggi dan angin kencang.

"Menjelang sore, gelombang pasti sudah tinggi. Kemudian angin juga semakin kencang. Itu yang menghambat kinerja kami untuk melaksanakan pencabutan pagar laut," jelas Harry.

Baca Juga: TIGA INFO Penting dari Kemenag Terkait Pelaksanaan PPG Daljab 2025, Guru Agama Jangan Sampai Ketinggalan!

Selain itu, kondisi laut yang dangkal menyulitkan pencabutan bambu yang tertancap di dasar laut.

Selama proses ini, tujuh personel mengalami cedera, di antaranya tiga terkena sengatan ikan pari, dua terkena kail pancing di kaki, dan dua lainnya terluka akibat bilah bambu.

Meskipun sebagian besar luka tidak serius, satu personel harus menjalani operasi akibat luka dari kail pancing.

Dengan selesainya pembongkaran, nelayan kini bisa kembali melaut dengan lebih leluasa. Harry berharap tidak ada lagi hambatan bagi para nelayan dalam mencari ikan.***