POJOKSATU.id - Pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) milik BDx di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, sudah dimulai tetapi kini dihentikan sementara.
Peletakan batu pertama proyek tersebut dilakukan pada 22 September 2026.
Namun, pemerintah daerah kemudian menghentikan sementara aktivitas pembangunan karena dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) belum tuntas.
Pemerintah menegaskan proyek belum dapat dilanjutkan sebelum persyaratan tersebut dipenuhi.
Baca Juga: Nama dan Asal 4 Siswa Wakili Indonesia di Ajang Olimpiade Internasional Kecerdasan Buatan di Beijing
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah kebutuhan air. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meminta kajian proyek dibuka kepada masyarakat, termasuk terkait penggunaan air Waduk Jatiluhur dan potensi dampaknya terhadap kebutuhan air masyarakat serta petani.
Di tengah pembahasan tersebut, Dosen Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) Institut Teknologi Bandung (ITB), Ir. Poetro Lebdo Sambegoro, menjelaskan bahwa air merupakan salah satu media yang umum digunakan dalam sistem pendinginan data center.
Mengapa Data Center Membutuhkan Air?
Data center menampung ribuan perangkat komputer yang menghasilkan panas selama beroperasi.
Jika panas tidak dikendalikan, suhu perangkat dapat meningkat dan mengganggu kinerja hingga menyebabkan kerusakan.
Baca Juga: Danantara Bidik Energi hingga AI, Data Center Jadi Sektor Investasi Masa Depan
"Data center itu sebenarnya adalah kumpulan dari komputer-komputer yang mungkin jumlahnya ribuan yang diletakkan di suatu ruangan atau gedung.
Sama seperti peralatan elektronik lainnya seperti handphone kita atau laptop, itu menghasilkan panas," kata Poetro kepada media di Lab Ilmu dan Rekayasa Termal ITB, Kamis (1/10/2026).
Air dapat digunakan sebagai media untuk memindahkan panas dari perangkat elektronik.
Setelah menerima panas, air kemudian perlu didinginkan kembali agar sistem dapat terus bekerja.
"Air ini digunakan untuk mendinginkan dengan cara memindahkan panas dari komponen elektronik di data center-nya ke airnya. Kemudian air ini harus didinginkan lagi," ujarnya.
Kebutuhan Air Bergantung pada Sistem Pendinginan
Menurut Poetro, data center dapat menggunakan berbagai desain sistem pendinginan.
Salah satunya adalah closed loop, ketika fluida pendingin membawa panas dari perangkat kemudian didinginkan kembali untuk digunakan dalam siklus berikutnya.
Sistem lain menggunakan menara pendingin atau cooling tower. Dalam sistem ini, air dialirkan dan dipancarkan dari bagian atas menara.
Baca Juga: Gemini Kini Punya Aplikasi Windows, Bisa Dipanggil Cepat dengan Melalui Layanan AI
Sebagian air menguap dan membawa panas ke lingkungan.
Besarnya kebutuhan air bergantung pada ukuran data center, konsumsi listrik, jumlah panas yang dihasilkan, serta teknologi pendinginan yang digunakan.
"Data center-nya makin besar, listrik yang digunakan semakin besar, panas yang dihasilkan semakin besar, sehingga jumlah air yang digunakan yang diperlukan untuk mendinginkan jadi semakin besar," jelasnya.
Jangan Mengurangi Pasokan untuk Masyarakat
Karena itu, kebutuhan air untuk operasional data center perlu dihitung secara cermat, terutama jika sumber air yang digunakan juga berkaitan dengan kebutuhan masyarakat.
"Yang perlu kita perhatikan adalah jangan sampai air untuk kebutuhan pendinginan data center ini kemudian mengambil porsi air yang dibutuhkan untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari," katanya.
Penggunaan sistem sirkulasi dan teknologi daur ulang air dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mengurangi kebutuhan air baru, meski kebutuhan akhirnya tetap bergantung pada desain dan teknologi pendinginan yang dipilih.
Kekurangan Air Bisa Ganggu Kinerja Data Center
Ketersediaan air juga berkaitan dengan keandalan operasional data center.
Jika pasokan air lebih rendah daripada kebutuhan sistem pendinginan, kapasitas pendinginan dapat berkurang.
Kondisi tersebut dapat membuat temperatur perangkat meningkat dan pada akhirnya memengaruhi kinerja pusat data.
"Kalau airnya itu kurang dari yang diperlukan, maka kapasitas pendinginannya jadi berkurang. Jadi nanti data center-nya bisa naik temperaturnya jadi lebih panas, kinerjanya jadi turun," pungkas Poetro.
Dengan demikian, isu air dalam proyek Data Center AI Jatiluhur tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan operasional ketika fasilitas kelak berjalan.
Kebutuhan air juga menjadi bagian dari kajian lingkungan dan perizinan yang harus diselesaikan sebelum pembangunan proyek tersebut dapat dilanjutkan.
Pemerintah Kabupaten Purwakarta menegaskan AMDAL dan PBG harus dipenuhi terlebih dahulu. ***




