POJOKSATU.id, JAKARTA – Politikus PDIP Guntur Romli menanggapi tudingan Aliansi Mahasiswa BEM Bersatu terkait kedekatan eks Ketua BEM UGM 2025 Tiyo Ardianto dengan tokoh PDIP dan Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso.

Menurut Guntur, tuduhan yang mengaitkan aksi-aksi mahasiswa menolak program MBG dengan PDI Perjuangan adalah fitnah. Kata Guntur ini adalah metode ‘cocoklogi’ yang sangat dipaksakan.

"Kami memandang perlu untuk meluruskan distorsi informasi dan penyesatan opini yang secara sengaja dibangun melalui metode 'cocokologi' yang sangat dipaksakan,” ujar Guntur Romli kepada wartawan, Rabu (17/6/2026).

Baca Juga: Irjen Purn Sony Sonjaya Tak Jujur Soal Korupsi BGN, Elza Syarief Pilih Mundur dari Pengacaranya

“Tuduhan yang mengaitkan aksi-aksi mahasiswa menolak Program Makan Bergizi Gratis dengan PDI Perjuangan adalah fitnah yang tidak berdasar, absurd, dan mencederai integritas gerakan moral mahasiswa," ujarnya lagi.

Guntur lalu mengkritisi konferensi pers Aliansi Mahasiswa BEM Bersatu yang digelar Selasa (16/6) di Utan Kayu Jakarta Timur.

Pertama, ia menilai tuduhan keterlibatan PDIP dalam aksi demo MBG sangat dipaksakan. Faktanya Siti Nuraeni dan Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso bukanlah kader maupun pengurus PDI Perjuangan.

"Menghubungkan kepemilikan sebuah kendaraan milik seorang warga sipil (Siti Nuraeni), lalu ditarik ke hubungan persaudaraan (Setyo Sularso), kemudian ditarik lagi ke hubungan besan (Andika Perkasa), untuk kemudian melompat pada kesimpulan bahwa PDI Perjuangan berada di balik aksi mahasiswa, adalah sesat pikir yang nyata," tegasnya.

Guntur menyebut PDIP sama sekali tidak terlibat, tidak mendanai, dan tidak memfasilitasi aksi-aksi mahasiswa dalam menyuarakan aspirasi terkait program MBG.

PDIP juga tidak pernah menugaskan pengurus maupun kadernya untuk melibatkan diri dalam teknis gerakan mahasiswa tersebut.

Baca Juga: Qodari Sebut MBG Tak Mungkin Dihentikan Prabowo, Kita Perbaiki Mana yang Kurang-kurang

"Adapun kehadiran tokoh atau kader di ruang publik atau forum dialog adalah hak konstitusional warga negara yang tidak serta-merta bisa diklaim sebagai bentuk mobilisasi partai politik terhadap gerakan mahasiswa," ucap Guntur.

"Tuduhan murahan dari BEM Bersatu yang dengan mudahnya menyebut aksi mahasiswa ditunggangi atau disusupi oleh partai politik adalah bentuk penghinaan terhadap nalar kritis dan independensi mahasiswa," ujar Guntur.

Guntur mengatakan PDIP selalu menaruh hormat dan menghargai setiap gerakan mahasiswa yang kritis, objektif, dan independen sebagai pilar penting penjaga demokrasi.

Guntur mendesak BEM Bersatu berhenti menyebarkan narasi dan spekulatif yang tidak berbasis data valid. Ia mengajak masyarakat debat substansi dan adu gagasan yang sehat.

"Banyak bantahan dari organisasi kampus asal terhadap individu yang tergabung di BEM Bersatu, jadi mereka bukan mahasiswa tapi mahasewa. PDI Perjuangan difitnah mahasewa yang menamakan dirinya BEM Bersatu," imbuhnya.

Sebagai informasi, BEM Bersatu menyebut kendaraan Fortuner yang digunakan Tiyo terdaftar atas nama Siti Nuraeni, yang terkait dengan Jenderal TNI (Purn) Andika Perkasa, Ketua Tim Pemenangan Ganjar-Mahfud MD pada Pilpres 2024.

Siti disebut merupakan adik Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso besan dari Andika Perkasa.

Dugaan BEM Bersatu juga diperkuat kehadiran politisi PDI Perjuangan, Andi Widjajanto, di tengah massa aksi.***