POJOKSATU.id, JAKARTA— Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi kena ‘rujak’ usai memberi usul soal gerbong khusus wanita dipindah ke tengah.
Sindiran keras datang dari pengamat yang menyebut menteri ini tak paham tugasnya. Menteri Arifah juga dianggap ngaco dengan usulannya ini.
“Bahkan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pun tidak mengerti arti kata pemberdayaan. Ibu ini adalah salah satu bukti quality gap yang terjadi di kabinet merah putih,” jelas Hendri Satrio melalui unggahan di X, Rabu (29/4).
Baca Juga: Tiga Hari Usai Kejadian, 53 Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur Masih Dirawat di Rumah Sakit
Bahkan pendiri lembaga survei Kedai Kopi ini secara halus meminta menteri ini mengundurkan diri.
“Mestinya mundur, tapi pasti gak mau. Beban negeri ini besar betul ya,” ujarnya.
Sementara Pengamat Transportasi, Azas Tigor Nainggolan, mengkritik usulan Arifah Fauzi.
Ia menilai, wacana tersebut tidak relevan dan tidak menyentuh persoalan utama dalam layanan perkeretaapian.
“Pernyataan Menteri PPPA itu ngaco ya, menurut saya, dan enggak perlu ditanggapi. Itu tidak perlu menjadi pertimbangan mengenai gerbong wanita dipindah ke tengah,” ujar Azas, Rabu (29/4/2026).
Baca Juga: Polisi Ungkap Nama-nama Korban Tewas Beserta Lokasi RS Tragedi Kecelakaan Kereta Api Bekasi Timur
Menurut dia, penempatan gerbong perempuan di tengah, depan, maupun belakang tidak berkaitan dengan aspek keselamatan penumpang.
Hal yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah, kata Azas, adalah kualitas layanan perkeretaapian yang memenuhi prinsip keselamatan, keamanan, dan kenyamanan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian.
“Di Pasal 3-nya itu dikatakan bahwa penyelenggaraan perkeretaapian itu ya, perkeretaapian nasional dilakukan dengan berkeselamatan, aman, dan nyaman. Jadi persoalannya bukan posisi gerbong,” katanya dilansir dari kompas.
Diketahui, Menteri PPPA Arifah Fauzi mengusulkan agar posisi gerbong wanita pada KRL dipindah ke area tengah rangkaian kereta, dan laki-laki pindah ke ujung rangkaian.
Usulan ini dilontarkan Arifah menyusul atas tingginya jumlah penumpang wanita yang menjadi korban tabrakan antara Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4).
Arifah menyebutkan akan mendorong pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk melakukan kajian ulang mengenai tata letak penumpang.
"Tadi, kalau tadi kita ngobrol dengan KAI itu kenapa ditaruh di paling depan, paling belakang, supaya tidak terjadi rebutan. Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah," ujar Arifah di RSUD dr Chasbullah Abdul Madjid Kota Bekasi, Selasa (28/4).
"Jadi yang laki-laki di ujung, yang iya, depan belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah gitu. Tadi sementara itu," sambungnya saat diwawancarai wartawan.***




