POJOKSATU.id - Ada obat di gudang, APD tersedia, dan alat kesehatan sudah disiapkan.
Tapi, apakah itu berarti layanan kesehatan otomatis aman ketika bencana atau wabah datang? Belum tentu.
Persoalan justru bisa muncul pada tahap terakhir, yakni ketika berbagai kebutuhan medis harus bergerak dari gudang menuju fasilitas kesehatan dan masyarakat yang berada di lokasi terdampak.
Dr. Giuseppe Timperio dari The Logistics Institute – Asia Pacific (TLIAP), National University of Singapore (NUS), menilai distribusi tahap akhir atau last-mile logistics menjadi bagian penting dalam rantai pasok kesehatan.
Baca Juga: Debat Muktamar
Hal tersebut dibahas dalam Workshop Logistics and Supply Chain During Disease Outbreak and Disaster yang digelar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bersama NUS di RS PKU Muhammadiyah Gamping, Rabu 23 Septembe 2026.
Menurut Giuseppe, persoalan distribusi di tahap akhir tidak bisa disamakan dengan perencanaan jaringan logistik secara keseluruhan.
Ada banyak faktor lapangan yang harus diperhitungkan agar barang benar-benar tiba di tujuan.
Kapasitas kendaraan, kondisi jalan, jarak tempuh, waktu pelayanan, hingga karakteristik armada menjadi bagian dari perhitungan.
Apalagi, kondisi geografis suatu wilayah bisa membuat kendaraan berukuran besar tidak mampu mencapai fasilitas kesehatan.
Dalam situasi seperti itu, distribusi dapat membutuhkan beberapa jenis moda sekaligus, mulai dari truk hingga kendaraan kecil, sepeda motor, bahkan perahu.
“Karena itu, kegagalan logistik tidak selalu berarti barang tidak tersedia,” ujarnya.
Artinya, persoalan bisa terjadi meski stok sebenarnya ada.
Barang mungkin masih tersimpan di gudang, tetapi belum sampai ke fasilitas kesehatan atau warga yang membutuhkan.
Di titik inilah last-mile logistics berkaitan langsung dengan tingkat layanan dan pemerataan akses kesehatan, terutama ketika kondisi darurat membuat jalur distribusi menjadi jauh lebih rumit.
Jaringan Kesehatan Muhammadiyah Ikut Punya Tantangan
Tantangan distribusi tersebut menjadi semakin penting bagi Muhammadiyah yang memiliki jaringan fasilitas kesehatan di berbagai wilayah.
Berdasarkan latar belakang kegiatan, Muhammadiyah saat ini mengelola 122 rumah sakit dan 231 klinik.
Jaringan tersebut memiliki posisi penting dalam memberikan pelayanan kesehatan ketika terjadi wabah maupun bencana.
Baca Juga: Dua Pertemuan, Dua Gol Ragnar: Singapura Jadi Lawan Favorit Baru Indonesia
Namun, luasnya jaringan pelayanan juga berarti kesiapan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan tenaga medis dalam menangani pasien.
Pengelolaan sumber daya menjadi bagian yang tidak kalah penting.
Tenaga kesehatan perlu memahami bagaimana menentukan prioritas penggunaan APD, melakukan rasionalisasi obat, menjaga stok darurat, serta mengambil keputusan ketika pasokan tidak mencukupi.
Situasi bisa semakin rumit ketika terjadi kekurangan APD, kualitas perlengkapan yang tersedia tidak sesuai kebutuhan, atau penggunaan kembali APD dilakukan akibat gangguan pasokan.
Karena itu, kesiapan klinis dan kesiapan logistik perlu berjalan beriringan.
Baca Juga: Dua Pertemuan, Dua Gol Ragnar: Singapura Jadi Lawan Favorit Baru Indonesia
Tenaga kesehatan harus siap memberikan pelayanan, sementara kebutuhan untuk mendukung pelayanan tersebut juga harus dapat bergerak sampai ke lokasi.
Data Sederhana Bisa Jadi Modal Besar
Giuseppe juga menyoroti peran data dalam memperkuat sistem logistik.
Menurutnya, organisasi tidak harus langsung menggunakan teknologi yang rumit untuk mulai melakukan perbaikan.
Data operasional yang dikumpulkan secara rutin justru dapat menjadi fondasi penting.
Informasi mengenai konsumsi barang, pengiriman, jumlah stok, temperatur penyimpanan, hingga lama perjalanan dapat membantu organisasi membaca pola kebutuhan.
Baca Juga: Ole Romeny Akhirnya Bobol Gawang Negara ASEAN, Singapura Korban Pertama
Dari pencatatan tersebut, organisasi dapat mengetahui kebutuhan aktual, seberapa cepat persediaan berkurang, serta berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengisi kembali stok.
Data juga dapat digunakan untuk menguji kemungkinan gangguan sebelum kondisi sebenarnya terjadi.
Misalnya, bagaimana jika akses jalan menuju fasilitas kesehatan terputus?
Bagaimana jika permintaan obat dan APD tiba-tiba melonjak?
Baca Juga: Pendidikan Gratis Berlaku Juga di Madrasah Negeri, Ini Penegasan Menag Nasaruddin Umar
Atau bagaimana jika fasilitas penyimpanan mengalami masalah?
Simulasi dapat menjadi salah satu cara untuk menjawab berbagai kemungkinan tersebut.
“Dengan simulasi, organisasi dapat melakukan semacam latihan terhadap sistem yang dimiliki sebelum menghadapi kondisi sebenarnya,” ujar Giuseppe.***




