POJOKSATU.ID - Lonjakan korban jiwa akibat bencana banjir bandang dan longsor yang meluluhlantakkan Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Menegaskan betapa parahnya situasi di wilayah utara Sumatera. Hingga Jumat 12 Desember 2025.

Jumlah korban tewas melonjak drastis menjadi 990 orang, sementara 222 warga masih hilang tanpa jejak.

Data memprihatinkan ini dipublikasikan oleh BNPB dan semakin mempertebal kesan bahwa penanganan bencana jauh dari kata memadai.

Baca Juga: Sistem CPNS 2026 Resmi Dirombak! Teknologi AI Jadi Pengawas Utama, Peserta Tak Bisa Curang Lagi

Banjir bandang yang menggerus permukiman, jembatan, serta fasilitas publik telah menciptakan krisis kemanusiaan berskala besar.

BNPB merinci, sedikitnya 5.400 orang mengalami luka-luka, sebagian di antaranya dalam kondisi kritis karena terlambat mendapat pertolongan.

Kondisi ini kian diperparah oleh akses yang masih sulit dijangkau akibat jalan terputus, jembatan roboh, serta daerah-daerah yang menyisakan timbunan lumpur setinggi pinggang.

Data kerusakan fasilitas umum juga menunjukkan betapa masif kehancuran yang terjadi.

Baca Juga: Tersangka Suap Proyek! Ardito Lempar Rayuan ke Wartawan, Publik Geram

1.200 fasilitas umum, 219 fasilitas kesehatan, 581 fasilitas pendidikan, 434 rumah ibadah, 290 gedung kantor, dan 498 jembatan rusak atau hancur total.

Di tengah kebutuhan evakuasi dan penanganan medis yang mendesak.

Rusaknya fasilitas kesehatan memperlambat penanganan ribuan korban luka, menciptakan antrean panjang pasien di tenda-tenda darurat yang tidak layak.

Jumlah korban menurut provinsi pun terasa mencengangkan, Aceh 407 tewas, Sumut 343 tewas, Sumbar 240 tewas.

Angka-angka ini menunjukkan kegagalan besar antisipasi bencana di wilayah yang sebenarnya setiap tahun berhadapan dengan risiko banjir dan longsor.

Meski pemerintah menyatakan terus berupaya membersihkan material banjir dan membuka akses jalan, skala kerusakan membuat upaya tersebut berjalan lambat.

Rakyat terjebak dalam situasi serba kekurangan, mulai dari air bersih, makanan, hingga obat-obatan.

Hingga kini, sekitar 800 ribu warga terpaksa mengungsi, menjadikan bencana ini salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga: Skandal Sertifikasi K3 Makin Panas! Tiga PNS Kemnaker Dicekal, KPK Temukan Aliran Dana Mencurigakan

Aceh Timur menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak, mencapai 238 ribu orang.

Namun minimnya fasilitas pengungsian menyebabkan ribuan warga tidak memiliki tempat layak untuk berteduh.

Banyak yang hanya beralaskan terpal tipis, dengan distribusi logistik yang tidak merata.

Keluhan warga pun terus bermunculan.

Baca Juga: Kenapa TPG TW3 Masih Belum Cair? Berikut Penyebab Utamanya Sementara Pencairan TW4 Sudah Diproses! Pastikan Data Anda Sudah Valid

Bantuan datang tidak merata, beberapa daerah mengaku belum tersentuh bantuan sejak bencana terjadi.

Sementara itu, laporan terkait buruknya koordinasi instansi pemerintah mulai mencuat.

Di media sosial, sejumlah relawan menyoroti lambatnya respons aparat dan minimnya kehadiran alat berat di titik-titik yang terisolasi.

Meski pemerintah mengklaim tengah mengerahkan seluruh kemampuan, kenyataan di lapangan menunjukkan kesenjangan besar antara pernyataan dan tindakan.

Dengan jumlah korban terus bertambah dan puluhan ribu warga masih menunggu evakuasi.

Penanganan bencana kali ini kembali mengungkap lemahnya sistem mitigasi dan respon krisis nasional.

Bencana di utara Sumatera bukan hanya soal angka korban, tetapi cermin dari buruknya kesiapan dan koordinasi negara ketika rakyat berada di titik paling rentan.***