POJOKSATU.id — Indonesia disebut memiliki prospek yang menjanjikan sebagai lokasi pembangunan pusat data bagi perusahaan dan investor teknologi dari berbagai negara.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, sejumlah faktor membuat Indonesia memiliki daya tarik tersendiri di tengah persaingan negara-negara Asia Tenggara dalam mengembangkan industri data center.

Salah satu keunggulan tersebut adalah ketersediaan wilayah yang luas.

Di samping itu, Indonesia juga mempunyai akses terhadap pasokan listrik, termasuk energi yang bersumber dari energi hijau, serta sumber daya air yang dibutuhkan dalam operasional fasilitas pusat data.

Baca Juga: Sejarah SMK Kesehatan Airlangga Balikpapan dan Kiprahnya Mencetak Tenaga Kesehatan Andal

Airlangga menilai kombinasi berbagai sumber daya tersebut dapat menjadi nilai tambah Indonesia ketika bersaing dengan negara lain di kawasan ASEAN untuk menarik investasi pusat data.

“Di antara negara-negara di region ASEAN, Indonesia punya lahan lebih luas, punya listrik termasuk green energy, dan juga punya air, sehingga tentu ini menjadi daya saing tersendiri dibandingkan negara-negara lain di ASEAN,” ujar Airlangga.

Kebutuhan terhadap infrastruktur pusat data diperkirakan turut mengalami peningkatan sejalan dengan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Teknologi AI membutuhkan kapasitas komputasi yang semakin tinggi.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap server berperforma besar dan fasilitas data center dengan kemampuan lebih tinggi ikut meningkat.

Baca Juga: Airlangga Tegaskan THR Pekerja Swasta Wajib Cair Paling Lambat H-7 Lebaran, Dilarang Dicicil dan Harus Dibayar Penuh

Indonesia juga memiliki sumber daya air yang dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari sistem pendinginan pada fasilitas pusat data.

Besarnya potensi Indonesia sebagai lokasi pengembangan pusat data turut terlihat dari rencana investasi perusahaan teknologi global asal Amerika Serikat, NVIDIA.

Airlangga menyampaikan bahwa NVIDIA telah melakukan pembicaraan terkait rencana penanaman modal di Batam, Kepulauan Riau.

Nilai investasi yang disebutkan mencapai US$4,5 miliar. Dengan asumsi nilai tukar Rp15.500 per dolar AS, nominal tersebut setara dengan sekitar Rp69,75 triliun.

“Kemarin NVIDIA sudah berbicara di Batam, di kawasan ekonomi khusus yang kita siapkan itu, mereka rencana mau investasi US$4,5 miliar,” kata Airlangga.

Batam menjadi salah satu wilayah yang disiapkan sebagai kawasan strategis untuk mendorong aktivitas industri dan investasi.

Posisi tersebut juga membuat Batam berpotensi menjadi lokasi pengembangan sektor yang membutuhkan dukungan infrastruktur digital serta konsumsi energi dalam skala besar.

Baca Juga: Pro Kontra Soal WFH ASN Hari Jumat Kata Airlangga Hartarto, DPR Minta Evaluasi

Upaya mendorong pertumbuhan industri pusat data di Indonesia juga disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

Bahlil meminta investor tidak khawatir menjadikan Indonesia sebagai lokasi pembangunan data center.

Menurutnya, Indonesia masih memiliki banyak wilayah yang dapat dikembangkan untuk kebutuhan tersebut.

“Data center kita sedang mendorong untuk di Indonesia agar dilakukan penambahan. Bapak Ibu semua tidak perlu ragu, para investor, kalau membangun data center di Indonesia. Wilayah kami ini yang terbesar di kawasan Asia Tenggara. Pulau kami masih terlalu banyak,” ujar Bahlil.

Menurut Bahlil, selain lahan, kepastian pasokan listrik juga menjadi komponen penting bagi pembangunan dan operasional pusat data.

Baca Juga: Berlaku hingga Mei 2026, Pemerintah Batasi Pembelian BBM Subsidi Maksimal 50 Liter per Hari, Ini Penjelasan Airlangga

Ia memastikan kebutuhan energi investor dapat ditindaklanjuti melalui penyediaan kapasitas listrik oleh PT PLN (Persero) sesuai dengan kebutuhan fasilitas yang akan dibangun.

Investor, kata Bahlil, cukup menyampaikan kebutuhan daya yang diperlukan. Selanjutnya, PLN akan menyesuaikan penyediaan kapasitas listrik berdasarkan permintaan tersebut.

“Menyangkut listriknya saya pikir enggak ada masalah. Begitu mereka menyampaikan keinginannya, terus ditambah berapa kapasitas kebutuhan listrik yang dibutuhkan, pasti PLN akan menyiapkan,” kata Bahlil.

Indonesia juga mempunyai pilihan sumber energi yang beragam untuk mendukung kebutuhan listrik pusat data.

Bahlil menyebut sumber energi tersebut antara lain tenaga surya, pembangkit listrik tenaga air, panas bumi, hingga energi angin.

Keragaman sumber energi itu dinilai dapat menjadi salah satu faktor pendukung untuk menyediakan listrik dengan biaya yang kompetitif bagi industri pusat data.

“Saya yakinkan kepada teman-teman bahwa harga kita akan jauh lebih kompetitif ketimbang produksi listrik dari negara-negara yang lain. Kita akan memberikan kemudahan-kemudahan bagi Bapak-Ibu semua,” ujar Bahlil.***