POJOKSATU.ID - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah terus berlanjut.
Mata uang Garuda kian melemah dan semakin mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot. Pelemahan ini tercatat sebagai yang terburuk sepanjang tahun 2026.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 68 poin atau sekitar 0,40 persen ke level Rp16.955 per dolar AS pada perdagangan
Baca Juga: Belum Cair Hingga Kini! Gaji Magang Kemenaker Batch 3 Molor dari Janji 16 Januari 2026
Angka ini mencerminkan tekanan yang masih kuat terhadap pasar keuangan domestik, seiring meningkatnya ketidakpastian global.
Pelemahan rupiah tak hanya terlihat di pasar spot. Di lapangan, masyarakat mulai merasakan dampaknya secara langsung.
Sejumlah bank domestik tercatat telah mematok harga jual dolar AS di atas Rp17.000, menandakan tingginya permintaan valuta asing.
Baca Juga: Karhutla Meluas Jadi 9 Hektare, Api Tak Kunjung Padam dan Kabut Asap Mulai Selimuti Aceh Barat
Salah satunya adalah OCBC, yang pada pukul 16.15 WIB tercatat menjual dolar AS dengan harga Rp17.085, sementara harga beli berada di level Rp16.765.
Selisih harga tersebut menunjukkan tingginya kehati-hatian perbankan dalam merespons pergerakan nilai tukar.
Kondisi serupa juga terjadi di bank pelat merah. BNI, berdasarkan informasi nilai tukar valuta asing di layanan counter, mematok harga jual dolar AS di angka Rp17.060, dengan harga beli Rp16.760.
Angka ini mempertegas bahwa level Rp17.000 per dolar AS bukan lagi sekadar bayangan, tetapi sudah menjadi realitas di sektor perbankan.
Bagi masyarakat, terutama pelaku usaha dan importir, situasi ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri.
Nilai tukar yang melemah berpotensi meningkatkan biaya produksi, terutama bagi sektor yang bergantung pada bahan baku impor.
Di sisi lain, daya beli masyarakat juga terancam tergerus jika tekanan ini berlangsung lama.
Pengamat menilai, pelemahan rupiah tak lepas dari faktor eksternal, seperti penguatan dolar AS di pasar global dan sikap hati-hati investor terhadap negara berkembang.
Selain itu, sentimen global terkait suku bunga dan ketegangan geopolitik juga turut memberi tekanan pada mata uang regional, termasuk rupiah.
Baca Juga: Tak Lagi Mangkrak? Meikarta Digadang Jadi Rumah Susun Subsidi Rakyat, Ini Kata Menteri PKP
Meski demikian, pelaku pasar berharap pemerintah dan Bank Indonesia dapat menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai kebijakan yang terukur.
Stabilitas rupiah dinilai penting untuk menjaga kepercayaan pasar dan melindungi perekonomian domestik dari gejolak yang lebih besar.
Saat ini, perhatian publik tertuju pada pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan.
Baca Juga: TERUNGKAP! 2 Ribu Pegawai SPPG Sudah ASN! Kini 32 Ribu Lagi Menyusul Jadi PPPK 1 Februari 2026
Apakah mata uang Garuda mampu bertahan di bawah Rp17.000, atau justru menembus batas psikologis tersebut, masih menjadi tanda tanya besar.***




