POJOKSATU.ID - Insiden dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis dari SPPG Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, mengungkap fakta baru terkait sebaran para korbannya.

Penelusuran pemerintah daerah menunjukkan bahwa dampak gangguan kesehatan ini tidak hanya menimpa anak-anak sekolah sebagai penerima manfaat utama.

Sejumlah orang tua murid dilaporkan turut mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi makanan yang dibawa pulang oleh anak mereka dari sekolah.

Berdasarkan keterangan resmi Wakil Bupati Batang Suyono, beberapa orang tua mengonsumsi porsi makanan MBG yang tidak dihabiskan oleh anak.

Baca Juga: Telur Bolognese Diduga Jadi Bencana Keracunan MBG Batang, SPPG Bawang Diberhentikan Sementara!

Kebiasaan mengonsumsi makanan sisa anak ini membuat jangkauan dampak keracunan meluas hingga ke lingkungan rumah tangga.

Fenomena tersebut kini menjadi salah satu poin krusial yang terus ditelusuri oleh pemerintah daerah dalam penanganan kasus.

Makanan yang dikonsumsi oleh para orang tua tersebut merupakan porsi MBG yang sebelumnya didistribusikan di lembaga pendidikan.

Adanya korban dari kalangan dewasa ini turut menyumbang peningkatan total korban yang kini mencapai 276 orang.

Baca Juga: Korban Keracunan MBG Batang Melonjak Tembus 276 Orang, Makanan Sisa Anak Ikut Racuni Orang Tua!

Para orang tua yang terdampak mengeluhkan gejala yang sama seperti anak-anak, yakni mual dan pusing yang membahayakan kondisi fisik.

Sebagian dari korban, baik anak maupun orang tua, harus mendapatkan perawatan medis lanjutan akibat keluhan tersebut.

Sebanyak 19 korban bahkan telah dirujuk dan menjalani penanganan intensif di RSUD Kalisari Batang.

Pemkab Batang terus memverifikasi data di lapangan untuk memisahkan jumlah pasti antara korban anak dan orang tua.

Pemantauan ketat terhadap fasilitas kesehatan juga dilakukan guna menyiagakan puskesmas rawat inap jika rumah sakit kewalahan.

Kasus ini menjadi perhatian serius karena porsi makanan gratis yang dibawa pulang justru menimbulkan masalah kesehatan keluarga.

Pemerintah mengimbau warga untuk tetap waspada sembari menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terkait sampel makanan tersebut.***