POJOKSATU.id, JAKARTA—Tiga Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di Jakarta merasa namanya dicatut dalam konferensi pers yang digelar Aliansi Mahasiswa BEM Bersatu di Utan Kayu, Jakarta Timur, Selasa malam (16/6).

Tiga BEM di Jakarta membantah tergabung dalam aliansi mahasiswa tersebut dan merasa nama baiknya dirugikan dan meminta oknum yang mencatut meminta maaf.

Ketiga organisasi mahasiswa yang memberikan klarifikasinya yakni BEM Fakultas Teknik dan Informatika Universitas Bina Sarana Informatika (FTI UBSI), BEM Fakultas Psikologi Universitas Negeri Jakarta (FPsi UNJ), serta BEM Institut Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Mandala Indonesia (STIAMI) Jakarta.

Baca Juga: PDIP Merasa Difitnah Aliansi BEM Bersatu Terkait Aksi Mahasiswa Marak Menolak Program MBG

Dalam unggahan di akun Instagram resminya, Rabu (17/6/2026), BEM FTI UBSI membantah terlibat dalam konferensi pers yang digelar oleh BEM Fakultas Bersatu pada Selasa malam.

Mereka menegaskan tidak pernah mengirimkan perwakilan atau memberikan mandat kepada siapapun untuk mewakili organisasi.

"Sehubungan dengan pemberitaan yang mencantumkan nama BEM FTI UBSI dalam konferensi pers terkait dugaan keterkaitan Letjen (Purn) Setyo Sularso dan Tiyo Ardianto, kami menyampaikan bahwa BEM FTI UBSI tidak pernah menghadiri maupun mengirimkan perwakilan pada konferensi pers tersebut,"ujar BEM FTI UBSI.

"BEM FTI UBSI tidak pernah memberikan mandat kepada pihak mana pun untuk mewakili organisasi dalam kegiatan tersebut," katanya lagi.

Selain itu, BEM FTI UBSI juga membantah adanya pengurus, anggota, ataupun ketua bernama Ahmad yang diklaim hadir dalam konferensi pers tersebut.

Baca Juga: Teknik Biomedis, Jurusan yang Memadukan Dunia Kesehatan dan Teknologi Canggih, Simak Mata Kuliah hingga Prospek Kerjanya

“BEM FTI UBSI tidak memiliki pengurus, anggota, maupun ketua bernama 'Ahmad' sebagaimana disebutkan dalam pemberitaan terkait," jelasnya.

Sementara BEM FPsi UNJ pun turut membantah terlibat dalam konferensi pers yang digelar Selasa malam.

"BEM FPsi UNJ tidak pernah memberikan persetujuan kepada pihak tersebut untuk mewakilkan dan menggunakan nama "BEM FPsi UNJ"," ujarnya dikutip dari akun Instagram resmi BEM FPsi UNJ.

Namun, BEM FPsi UNJ mengakui adanya sivitas akademika yang turut hadir dalam pertemuan tersebut. Dia bernama Ahmad Ghazy.

Kendati demikian, pihak dari organisasi kemahasiswaan tersebut menyebut yang bersangkutan telah berstatus sebagai alumni angkatan 2020.

"Individu yang terlibat dalam kegiatan tersebut merupakan alumni FPsi UNJ angkatan 2020 dan bukan bagian dari anggota/kepengurusan aktif BEM FPsi UNJ 2026, sehingga tindakan maupun pandangan yang disampaikan merupakan tanggung jawab pribadi pihak tersebut," kata BEM FPsi UNJ.

BEM FPsi UNJ mendesak agar Ghazy menyampaikan permohonan maaf buntut mencatut nama organisasi untuk hadir dalam konferensi pers tersebut.

Sementara, BEM Institut STIAMI dalam pernyataan resminya menyatakan bahwa di lingkungan kampus tidak ada lembaga bernama BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Manajemen Administrasi.

"Perlu kami tegaskan bahwa di lingkungan Institut STIAMI tidak terdapat lembaga yang bernama BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Manajemen Administrasi Institut STIAMI."

"Struktur kelembagaan kemahasiswaan yang berlaku mengacu pada ketentuan organisasi yang sah dan telah ditetapkan sesuai mekanisme yang berlaku di kampus," katanya dikutip dari akun Instagram resminya.

Pihak BEM juga membantah memberikan mandat atau mengirimkan perwakilan untuk hadir dalam konferensi pers tersebut.

BEM Institut STIAMI juga menegaskan tidak pernah tergabung dalam aliansi kemahasiswaan "BEM Fakultas Bersatu" atau perkumpulan lainnya yang belum ada keputusan resmi dari organisasi.***