POJOKSULSEL, MAKASSAR - Ketua Dewan Pembina SPIDI dan SADIQ Ustaz Muzayyin Arif mendorong agar sekolah-sekolah Islam tidak lagi menjadi pilihan alternatif. Melainkan, sudah menjadi pilihan utama dalam pendidikan di Indonesia.

"Kami mendorong agar sekolah-sekolah Islam menjadi pilihan utama. Itu menjadi PR kita karena sekolah Islam masih menjadi pilihan alternatif," kata Muzayyin.

Muzayyin ingin memastikan bahwa pendidikan berbasis agama harus didorong untuk lebih maju. Agama Islam menjadi tanggung jawab untuk disiaekan.

Secara nasional, kata Muzayyin, pekerjaan rumah di bidang pendidikan masih sangat besar. Berdasakan survei yang dirilis Programme of Internasional Student Assessment (PISA) pada tahun 2018, menempatkan Indonesia di posisi 74 dari 80 negara yang disurvei.

"Indeks pembangunan manusia Indonesia berada di peringkat 130 dari seluruh negara di dunia. Masih jauh dari Thailand, masih jauh dari Malaysia," katanya.

Baca juga

Jusuf Kalla Sebut Perempuan Berilmu dan Kaya Raya Modal Untuk Memajukan Bangsa

Melihat pekerjaan rumah untuk mendorong supaya sekolah Islam menjadi pilihan utama pada pendidikan Indonesia, kata Muzayyin Arif, SPIDI terus membenahi sistem pendidikan dan kualitas guru sebagai tenaga pengajar.

SPIDI, kata dia, menjadi sekolah digital pertama di luar Pulau Jawa mendapat sekolah digital pertama yang bersertifikat Google internasional.

Ia menjelaskan, SPIDI terus memperbaiki kurikulum, metode pendidikan, dan perbaikan guru. Sebab, penguatan ketiga aspek tersebut akan melahirkan kesadaran identitas agama, bangsa, dan budaya

"Jangan pernah lupa bahwa anda generasi Islam, begitu juga dengan identitas kebangsaan da identitas budaya yang memiliki keunggulan budaya yang sangat komparatif di antara negara-negara lain, kata Wakil Ketua DPRD Sulsel itu.

Pada kesempatan yang sama, hadirnya Pandam XIV Hasanuddin Mayjen TNI Totok Imam Santoso dan Wakil Presiden ke- 10 dan 12 di acara wisuda SPIDI-SADIQ menjadi penguatan terhadap apa yang berlangsung di pendidikan SPIDI saat ini. Sebagai generasi Indonesia punya tanggung jawab memikirkan dan berkontribusi untuk pendidikan.

(fadli/pojoksulsel