POJOKSATU.id, BANYUMAS – Tenyata sebelum resmi dilaporkan ke Polresta Banyumas, Jateng, keluarga Sutrimo ternyata sempat ketakutan dilaporkan balik.
Kuasa hukum keluarga Sutrimo, Aan Rohaeni, menyebutkan karena ini berkaitan dengan tokoh besar dan perkara besar yang ada di Indonesia, keluarga Sutrimo ketakuan.
Mereka menyadari kalau misalnya nanti ada laporan atau laporan balik, keluarga pasti direpotkan.
Diketahui, Sutrimo ditemukan meninggal dunia dengan kondisi mulut berbusa di depan klinik kecantikan Mordent di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (23/7).
Baca Juga: PKB Mandailing Natal Serahkan SK Kepengurusan Baru 2026-2031 ke KPU Bawaslu dan Bupati
Dia mengungkap sederet kejanggalan di balik kematian pria asal Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas.
Pihak keluarga di Banyumas awalnya tidak menaruh kecurigaan apa pun saat menerima jenazah Sutrimo.
Namun, belakangan keluarga mulai mempertanyakan sejumlah kejanggalan, mulai soal dokumen dari rumah sakit, kondisi jenazah, hingga soal ponsel dan barang pribadi Sutrimo yang tak kunjung dikembalikan.
Aan Rohaeni mengatakan, keluarga menerima jenazah dalam kondisi sudah dikafani sehingga tidak melihat adanya sesuatu yang mencurigakan.
"Pertama memang pada saat mereka terima mayat, memang mayat sudah dikafani, sudah bersih, dan tidak ada yang mencurigakan," kata Aan saat dihubungi wartawan melalui telepon, Senin (10/8/2026).
Selain itu, keluarga mengetahui Sutrimo memiliki riwayat penyakit gula. Mereka mendapat informasi bahwa kadar gula darah Sutrimo disebut mencapai 600.
Alhasil, keluarga saat itu menerima kematian Sutrimo sebagai sesuatu yang wajar. Apalagi jenazah segera dipulangkan dan langsung dimakamkan pada hari yang sama.
"Mereka datang jam 10 itu ya langsung dikubur. Tidak ada kecurigaan apa pun awalnya," ujarnya.
Menurut Aan, kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh keyakinan keluarga yang ingin segera memakamkan jenazah.
Saat itu keluarga juga mendapat informasi bahwa ponsel dan barang pribadi milik Sutrimo akan dikirimkan menyusul keesokan harinya.
Namun, beberapa hari setelah pemakaman, muncul pemberitaan mengenai kematian Sutrimo. Hal itu membuat keluarga mulai bertanya-tanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
"Beberapa hari kemudian kan ada berita dan lain-lain. Pihak keluarga ya di satu sisi merasa, ini ada apa sih," ucap Aan.
Aan mengatakan, keluarga juga berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi mereka mulai merasakan adanya kejanggalan, tetapi di sisi lain mereka takut berhadapan dengan perkara besar.
"Karena ini berkaitan dengan tokoh besar dan perkara besar yang ada di Indonesia. Mereka menyadari kalau misalnya nanti ada laporan, keluarga pasti direpotkan. Mereka ketakutan," kata dia.
Kecurigaan keluarga kemudian semakin bertambah setelah sejumlah barang pribadi milik Sutrimo tak kunjung dikembalikan.
"Setelah kita lihat belakangan, HP enggak pulang-pulang. Dompet enggak pulang dan lain-lain. Ya mereka juga kecurigaannya bertambah," tutur Aan.
Keluarga Sutrimo juga mempertanyakan orang yang mengantarkan jenazah. Menurut Aan, nomor telepon orang tersebut sebelumnya masih dapat dihubungi, tetapi kemudian tidak aktif.
Aan menyebut keluarga Sutrimo memiliki keterbatasan. Mereka tidak memiliki kemampuan secara finansial untuk menghadapi proses panjang jika perkara tersebut dilaporkan.
"Mereka merasa, 'saya ini siapa'. Siapa yang menjamin kalau ada masalah? Mau wara-wiri saja pasti mengeluarkan uang. Sementara mereka itu untuk hidup saja susah. Kondisi emosional keluarga, terutama ibu Sutrimo, juga menjadi salah satu pertimbangan," ujarnya.
Persoalan lain muncul setelah Aan memperoleh dokumen yang disebut berkaitan dengan kronologi kondisi Sutrimo sebelum meninggal.
Aan mengaku terkejut setelah menerima informasi bahwa dalam dokumen itu disebutkan soal busa yang keluar dari mulut dan hidung Sutrimo.
Menurut Aan, formulir kronologi tersebut tidak pernah disampaikan kepada pihak keluarga Sutrimo saat jenazah dipulangkan.
"Dokumen itu tidak pernah disampaikan kepada keluarga. Jadi memang pengantar jenazah dengan sengaja, orang pengirim jenazah itu menyembunyikan satu formulir kronologis tadi," ujar Aan.
Aan kemudian membandingkan dokumen yang diperolehnya dengan dokumen yang dimiliki keluarga Sutrimo. Dia menyebut terdapat kesamaan tanda tangan dalam formulir tersebut.
"Kita bandingkan tanda tangan dalam formulir, Febrio itu kan identik dengan yang ada di kami," ungkapnya.
Dari temuan tersebut, keluarga kemudian menilai ada alasan untuk mempertanyakan proses pemulangan jenazah Sutrimo, termasuk mengapa formulir kronologis tersebut tidak ikut diserahkan kepada keluarga.
Aan menegaskan, keluarga saat ini pada dasarnya ingin mendapatkan kejelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada Sutrimo.
"Kalau dari jenazah itu ngakunya empat orang. Yang dua dari pihak ambulans. Yang dua ngakunya keamanan, temannya Sutrimo kerja," ujarnya.***




