POJOKSATU.id - Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Amirsyah Tambunan, optimistis tradisi mudik Lebaran 2026 akan memberikan dampak besar terhadap pergerakan ekonomi di berbagai daerah.

Diperkirakan sekitar 143,91 juta orang atau 50,60 persen penduduk Indonesia akan melakukan perjalanan mudik tahun ini. 

Nah, jumlah yang sangat besar ini dinilai mampu mendorong lonjakan konsumsi masyarakat sekaligus menghidupkan aktivitas ekonomi, dari kota besar hingga ke desa-desa.

Baca Juga: Polda Jabar: Arus Mudik 2026 Terkendali Meski Volume Kendaraan Meningkat

"Transformasi ekonomi ini membuat moda transportasi mengalami peningkatan signifikan. Jadi mudik tidak hanya dapat dipahami sebagai tradisi budaya, tetapi juga tradisi sosial ekonomi," kata Buya Amirsyah Tambunan.

Menurutnya, peningkatan mobilitas masyarakat saat mudik turut menciptakan perputaran uang dalam jumlah besar. 

Hal ini berdampak langsung pada sektor perdagangan, pariwisata, hingga pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Baca Juga: Saung Koffie Hideung Karawang Baru Buka Lagi di Hari Kedua Lebaran

Buya Amirsyah juga menilai bahwa fenomena mudik memiliki efek domino yang luas terhadap perekonomian nasional. 

Meski begitu, ia menyayangkan dampak ekonomi tersebut masih bersifat sementara dan belum berkelanjutan dalam jangka panjang.

Jika melihat data sebelumnya, pada mudik 2025 tercatat sekitar 146,48 juta orang atau sekitar 52 persen penduduk Indonesia melakukan perjalanan. 

Baca Juga: Kehabisan Ongkos, Pemudik Asal Riau Dapat Bantuan Polres Karawang

Sementara pada 2024 jumlahnya bahkan mencapai 193,6 juta pemudik, yang menunjukkan tingginya mobilitas masyarakat setiap musim Lebaran.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa mudik menjadi momentum penting bagi distribusi ekonomi dari kota ke daerah asal para pekerja urban. 

Sekitar 60 persen perputaran uang mudik terjadi di Pulau Jawa, karena mayoritas pemudik berasal dari wilayah tersebut.

Baca Juga: 5 Cara Mengatasi Pegal Saat Mudik Jarak Jauh, Biar Perjalanan Tetap Nyaman

"Dalam perspektif ekonomi regional, fenomena ini dapat dipandang sebagai transformasi ekonomi pusat ke daerah," ujarnya.

Mudik memang bukan sekadar perjalanan pulang kampung. 

Di balik keramaian dan kehangatan silaturahmi, ada denyut ekonomi yang ikut bergerak, memberi harapan bagi banyak orang di daerah. 

Baca Juga: DLH Kota Bandung Larang Warga Buang Sampah ke TPS Saat Lebaran hingga H+2, 19 Fasilitas Pengolahan Tetap Beroperasi

Meski hanya sesaat, momen ini selalu jadi pengingat bahwa kebersamaan juga bisa membawa keberkahan ekonomi bagi sesama.***