POJOKSATU.ID - Bencana banjir dan longsor yang melanda Sibolga tidak hanya menghancurkan rumah dan memutus akses jalan, tetapi juga membuat warga berada dalam kondisi terdesak.

Minimnya pasokan makanan akibat terisolasi berhari-hari memicu aksi penjarahan di sejumlah minimarket.

Polisi kemudian mengamankan 16 warga dari berbagai lokasi yang diduga terlibat pengambilan barang kebutuhan pokok.

Baca Juga: Bupati Sumenep Tekankan PPPK dan CPNS Tingkatkan Kinerja, SK Pengangkatan Bukan Akhir, Tapi Awal Tanggung Jawab

Kasat Reskrim Polres Sibolga, AKP Rustam E. Silaban, mengungkapkan bahwa para warga yang diamankan mengambil barang konsumsi seperti makanan ringan, minuman, sosis kemasan, sabun hingga gula.

Penjarahan tersebut terjadi di beberapa gerai Indomaret, Alfamidi, dan Alfamart pada Sabtu pagi ketika situasi banjir masih meluas dan distribusi bantuan logistik belum lancar.

Menurut Rustam, barang-barang yang diambil mayoritas merupakan kebutuhan harian, bukan barang elektronik atau benda berharga lainnya.

Ia menegaskan bahwa pihak kepolisian tetap harus mengambil tindakan untuk mencegah peristiwa serupa terulang, meski memahami kondisi masyarakat sedang kesulitan setelah bencana memutus jalur distribusi makanan.

Baca Juga: Lolos Substantif PPG, Tapi Jadwal Wawancara Belum Keluar! Peserta Dibuat Cemas

Di sisi lain, BNPB memberikan penjelasan yang sedikit berbeda.

Kepala BNPB Letjen Suharyanto menyampaikan bahwa warga yang mengambil barang dari minimarket tidak melakukan perusakan.

Mereka hanya mengambil makanan yang sangat dibutuhkan dalam kondisi darurat ketika stok pangan menipis dan jalur suplai bantuan belum terbuka.

Baca Juga: Afirmasi Terakhir! Kemen PANRB Pastikan Pengadaan CASN 2024 Jadi Kesempatan Terkahir Non-ASN

“Mereka mengambil bahan makanan, tidak bersifat merusak,” ujar Suharyanto. dikutip pojoksatu.id dari (inilah.com)

Ia menambahkan bahwa situasi seperti ini kerap terjadi ketika warga terjebak bencana besar tanpa akses terhadap makanan maupun komunikasi.

Dalam kondisi ekstrem, warga memilih mencari cara bertahan hidup selama menunggu bantuan pemerintah tiba.

Baca Juga: Gaji Tidak Jelas, Skema Belum Final! Pelantikan PPPK Paruh Waktu Lombok Tengah Molor Lagi

Peristiwa ini memicu diskusi publik mengenai pentingnya respons cepat negara dalam memenuhi kebutuhan dasar di lokasi bencana.

Banyak wilayah di Sibolga dan sejumlah titik di Sumatra masih terisolasi akibat longsor dan banjir besar yang merusak jalan utama serta jembatan penghubung.

Akibatnya, penyaluran logistik dan evakuasi berjalan lambat.

Sebagai langkah lanjutan, TNI–Polri kini memperketat patroli dan penjagaan di sekitar pusat perbelanjaan serta jalur distribusi bantuan.

Penjagaan ini dilakukan untuk mencegah penjarahan lanjutan sekaligus memastikan warga menerima bantuan secara tertib dan merata.

Baca Juga: Alur PENGERJAAN MODUL Lengkap Jadwal PPG Daljab Batch IV 2025, Simak Penjelasan Jenis TUGAS, Jangan Salah Tahapan

Situasi darurat di Sibolga menjadi pengingat penting bahwa kelancaran logistik adalah kunci dalam penanganan bencana.

Ketika bantuan terlambat, warga yang sudah berhari-hari tidak mendapat pasokan makanan bisa terdorong mengambil tindakan yang berada di luar pilihan ideal.

Di tengah krisis, kebutuhan pangan menjadi persoalan paling mendesak dan sering kali mengalahkan aturan yang berlaku.

Baca Juga: Kebakaran di RS Pengayoman Cipinang 11 Mobil Damkar Dikerahkan, Gudang Logistik Diduga Jadi Titik Awal Api

Pemerintah pusat diminta mempercepat pengiriman bantuan, membuka akses yang terputus, serta memastikan warga tidak hanya aman dari bencana alam, tetapi juga terpenuhi kebutuhan hidup dasarnya di tengah masa pemulihan yang belum pasti.***