POJOKSATU.ID - Di tengah gempuran modernisasi dan janji peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik, kisah guru honorer di pelosok negeri masih penuh ironi.
Salah satunya datang dari Velsiana Naan Kebarek (32), guru honorer di SDK Balaweling, Kabupaten Flores Timur.
Selama lebih dari tiga tahun, ia mengajar dengan penghasilan yang jauh dari layak.
Namun tetap bertahan karena menganggap profesinya sebagai panggilan hidup.
Velsiana mengajar di kelas V. Secara struktur, ia berstatus guru mata pelajaran.
Namun karena kurangnya tenaga pendidik, ia merangkap sebagai guru kelas dan mengajar hampir semua mata pelajaran.
Sebenarnya guru mata pelajaran, tapi karena kekurangan guru, jadi kami jadikan guru kelas.
"Jadi semua mata pelajaran rangkap mengajar,” ujarnya, Selasa 25 November 2025.
Baca Juga: 8 Tahun Berlanjut, Reuni 212 Kembali di Monas! Serukan Revolusi Akhlak dan Pembelaan Palestina
Hal ini bukan hanya terjadi padanya. Kekurangan guru sudah lama menjadi masalah di Balaweling.
Dalam banyak kasus, guru honorer terpaksa memikul beban kerja berlipat, sementara kesejahteraan yang diterima tidak sebanding dengan tanggung jawab tersebut.
Kesejahteraan adalah isu terbesar yang membayangi perjalanan hidup banyak guru honorer di Flores Timur.
Saat pertama mengajar, Velsiana hanya menerima Rp 300.000 per bulan. Setelah tiga tahun, gajinya naik, namun tetap sangat kecil: Rp 400.000 per bulan.
“Kalau soal kesejahteraan, kita tahu tuh, kalau guru honor begitu ya, kebijakannya cuma dari dana bantuan operasional saja,” keluhnya.
Nilai tersebut nyaris tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar. Namun, semangatnya mengajar tidak pernah redup.
Ia mengaku tetap setia mengabdi karena merasa memiliki tanggung jawab moral terhadap anak-anak Balaweling.
“Ini panggilan hati untuk selalu mengabdi demi mencerdaskan anak bangsa,” katanya.
Baca Juga: Pensiunan PNS Kecewa, Perpres 79/2025 Hanya Berlaku untuk ASN Aktif
Beruntung bagi Velsiana, jarak sekolah dari rumah cukup dekat. Ia bisa berjalan kaki setiap hari tanpa hambatan yang berarti.
Namun, kondisi nyaman ini tidak dimiliki banyak guru lain di Flores Timur.
Ketua PGRI Flores Timur, Maksimus Masan Kian, menjelaskan bahwa permasalahan kesejahteraan.
Dan akses sulit menuju sekolah menjadi tantangan besar, terutama di wilayah pelosok.
Baca Juga: Viral! Pabrik Boneka Cianjur Gempar, Puluhan Karyawan Histeris Diduga Kesurupan Massal!
Guru honorer di sekolah swasta paling memprihatinkan.
"Hingga saat ini mereka bahkan belum mendapatkan ruang mengikuti seleksi PPPK, padahal mereka sudah mengabdi bertahun-tahun,” ujarnya.
Velsiana berharap pemerintah memberikan perhatian lebih kepada guru honorer di pelosok.
Selain peningkatan insentif melalui dana BOS, ia berharap pemerintah membuka kembali seleksi PPPK dan CPNS yang memberi kejelasan status dan kesejahteraan.
“Harapan saya tahun ini ada tes P3K, PNS, supaya guru-guru honor bisa disejahterakan,” ujarnya.
Menurut PGRI, kesempatan mengikuti seleksi formal adalah bentuk keadilan bagi para guru honorer.
Terutama mereka yang telah bertahun-tahun mengabdi tanpa kepastian status dan penghasilan layak.
Kisah Velsiana bukanlah satu-satunya. Ada ribuan guru honorer lain yang bekerja dalam kondisi serupa.
Mereka memikul tanggung jawab besar, mengajar generasi masa depan bangsa, namun menerima penghasilan yang tidak sesuai beban kerja.
Di balik semua kekurangan fasilitas dan minimnya gaji, mereka tetap hadir setiap pagi, berdiri di depan kelas, dan memberikan yang terbaik untuk anak-anak Indonesia.***




