POJOKSATU.ID - Kondisi memprihatinkan kembali mencuat dari dunia pendidikan daerah.
Kali ini datang dari Majene, Sulawesi Barat, di mana siswa SDN 16 Inpres Tanisi harus menjalani proses belajar mengajar di bangunan sekolah yang nyaris ambruk.
Gedung yang rusak akibat gempa tahun 2021 itu tak kunjung diperbaiki, membuat keselamatan siswa dan guru berada dalam ancaman serius.
Baca Juga: BLT Kesra Oktober–Desember 2025, Kenapa Bantuan Hanya Sekali Cair?
Bangunan sekolah yang menjadi ruang belajar tersebut tampak retak di berbagai sisi.
Dinding sebagian telah berlubang, tiang penyangga tampak tidak lagi kokoh, serta atap yang beberapa kali hampir roboh saat diterpa angin kencang.
Meski demikian, kegiatan belajar tetap berlangsung karena sekolah tidak memiliki pilihan lain.
Baca Juga: Terungkap! Pembunuhan Wanita Saat Salat di Puncak Dipicu Tabungan Belasan Juta
Kepala sekolah menjelaskan bahwa kondisi ini sudah berlangsung lama.
Sejak gempa besar yang melanda Majene dan Mamuju pada Januari 2021, gedung tersebut mengalami rusak berat.
Pemerintah daerah disebut telah berjanji akan melakukan rehabilitasi, namun hingga kini belum ada satu pun pembangunan yang direalisasikan.
Baca Juga: Bawa 20 Pemain ke Palembang, PSMS Siap Kembali Kalahkan Sumsel United
Pihak sekolah menilai lambatnya perbaikan membuat situasi semakin berbahaya seiring bertambahnya usia bangunan.
Tidak hanya ruang kelas yang rusak, fasilitas pendukung seperti toilet, perpustakaan, dan kantor guru juga mengalami kerusakan parah.
Beberapa guru bahkan harus mengajar sambil memantau kondisi dinding dan langit-langit, khawatir terjadi runtuhan mendadak.
Baca Juga: Kejutkan Dunia! Gibran Desak G20 Tak Tutup Mata pada Krisis Global
Kondisi ini sekaligus mengganggu konsentrasi siswa yang harus belajar dalam rasa takut.
Para orang tua murid mengaku cemas setiap kali anak mereka berangkat sekolah.
Mereka berharap pemerintah segera turun tangan agar tragedi tak diinginkan tidak terjadi.
Selain keselamatan, kualitas pendidikan juga ikut terdampak. Ruang belajar yang tidak layak akan memengaruhi fokus siswa dan efektivitas pembelajaran.
Baca Juga: Rugi Banget Kalo Gak Tahu! Ini Hak dan Kewajiban PPPK Paruh Waktu Berdasarkan Aturan Baru
Situasi ini mengundang perhatian luas karena mencerminkan persoalan mendasar dalam pemerataan fasilitas pendidikan di daerah.
Meski pendidikan adalah hak setiap anak, kenyataan di Majene menunjukkan masih banyak sekolah yang belum mendapatkan perhatian memadai, terutama di wilayah rawan bencana.
Pemerintah daerah Majene dan Dinas Pendidikan setempat disebut telah menerima laporan kondisi sekolah tersebut.
Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada kepastian mengenai waktu rehabilitasi.
Baca Juga: Audi A8L Mewah Terobos Gerbang Tol JORR, Sopir Diduga Depresi dan Ditagih Tunggakan
Masyarakat berharap janji yang sudah disampaikan pemerintah tidak tinggal wacana, mengingat gedung sekolah menjadi fasilitas vital bagi anak-anak.
Kondisi memprihatinkan SDN 16 Inpres Tanisi seakan menjadi alarm keras bagi pemerintah untuk mempercepat perbaikan infrastruktur pendidikan di Majene.
Sementara itu, guru dan siswa hanya bisa berharap bangunan sekolah mereka segera diperbaiki agar proses belajar berlangsung aman dan layak.
Selama menunggu realisasi pembangunan, ancaman keselamatan terus menghantui aktivitas belajar setiap hari.***




