POJOKSATU.ID - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan di Kota Bogor menjadi sorotan publik.
Sejumlah orang tua murid mengeluhkan paket makanan yang dibagikan dinilai tidak sesuai dengan ketentuan anggaran maupun ekspektasi gizi anak.
Keluhan tersebut ramai disampaikan melalui media sosial. Beberapa orang tua mempertanyakan perbedaan menu antar siswa dalam satu sekolah yang dianggap tidak merata.
Baca Juga: Filosofi Nama Masjid Agung At-Tin, Inspirasi Surah ke-95 dan Makna Fitrah Manusia
Menanggapi polemik tersebut, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, memberikan klarifikasi.
Ia menegaskan bahwa perbedaan menu MBG memang sudah dirancang berdasarkan tingkatan pendidikan dan besaran anggaran yang telah ditetapkan.
“Jadi misal kelas dua sama kelas empat seharusnya beda meski dalam satu sekolah,” ujar Dadan, dikutip pojoksatu.id dari Radar Bogor (25/2/2026).
Menurutnya, skema pembagian menu MBG tidak dibuat seragam untuk seluruh siswa.
Perbedaan tersebut mempertimbangkan kebutuhan gizi berdasarkan usia dan jenjang pendidikan, sekaligus menyesuaikan dengan alokasi anggaran per paket.
Dadan menjelaskan, untuk kelompok balita hingga siswa SD kelas 1 sampai kelas 3, nilai paket MBG ditetapkan sebesar Rp8 ribu per anak.
Sementara untuk siswa kelas 4 SD hingga jenjang di atasnya, anggaran per paket mencapai Rp10 ribu.
Baca Juga: Kecelakaan Maut Diduga Dipicu Jalan Berlubang, Tukang Ojek Pandeglang Gugat Pemda Rp 100 Miliar
“Untuk balita sampai SD kelas 3 Rp8 ribu. Kelas empat dan seterusnya itu baru Rp10 ribu,” ungkapnya.
Perbedaan nilai paket ini otomatis berdampak pada komposisi dan variasi menu yang diterima siswa.
Dengan anggaran berbeda, bahan makanan serta porsi pun disesuaikan agar tetap memenuhi standar gizi yang telah dirancang.
Meski demikian, polemik MBG Ramadan di Bogor menunjukkan pentingnya transparansi informasi kepada masyarakat.
Baca Juga: Proyek Gedung Baru Unsika Diduga Pakai Air Bawah Tanah, KAWALI: Jangan Sampai Sumur Warga Kering!
Orang tua berharap ada penjelasan lebih rinci mengenai komposisi menu, standar gizi, serta mekanisme pengawasan distribusi makanan di sekolah.
Program MBG sendiri bertujuan mendukung pemenuhan gizi anak sejak usia dini hingga tingkat pendidikan menengah.
Pemerintah berharap program ini dapat membantu meningkatkan kualitas kesehatan dan konsentrasi belajar siswa.
Baca Juga: Dahlan Iskan Menangkan Gugatan Melawan Jawa Pos
Di tengah sorotan publik, BGN memastikan bahwa perbedaan menu bukan bentuk ketimpangan, melainkan bagian dari desain kebijakan berbasis kebutuhan dan alokasi anggaran.
Kini, perhatian masyarakat tertuju pada pelaksanaan di lapangan. Evaluasi dan komunikasi yang terbuka dinilai menjadi kunci agar program MBG, khususnya selama Ramadan, dapat berjalan optimal dan tetap mendapat kepercayaan publik.***




