POJOKSATU.ID - Setiap tanggal 1 September, Indonesia memperingati Hari Polisi Wanita (Polwan).

Peringatan tahunan ini bukan sekadar perayaan seremonial bagi para srikandi berseragam cokelat.

Lebih dari itu, hari ini merupakan momentum bersejarah untuk mengenang keberanian enam perempuan tangguh asal Sumatra Barat yang mendobrak tradisi dan membuka jalan bagi kesetaraan gender di dunia kepolisian.

Sejarah mencatat bahwa Polwan lahir di tengah pergolakan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga: Prabowo Janji Sekolah NU Dapat Layar Digital, Sebelumnya Prabowo Ingin jadi Anggota NU

Pada tahun 1948, pemerintahan darurat RI berpusat di Bukittinggi, Sumatra Barat. Saat itu, terjadi pengungsian besar-besaran akibat agresi militer Belanda.

Masalah muncul ketika polisi pria kesulitan melakukan pemeriksaan fisik terhadap pengungsi perempuan.

Guna menghindari pelanggaran norma sosial dan hukum, organisasi wanita di Bukittinggi mengusulkan agar perempuan dilibatkan dalam penegakan hukum.

Tepat pada 1 September 1948, Cabang Djawatan Kepolisian Negara untuk Sumatra di Bukittinggi resmi memberikan kesempatan kepada perempuan untuk mengikuti pendidikan kepolisian.

Baca Juga: BRI Bukukan Laba Rp31,2 Triliun pada Triwulan II 2026, Kredit UMKM Capai Rp1.235,4 Triliun

Dari sekian banyak pendaftar, terpilihlah enam remaja putri yang menjadi pelopor Polwan pertama di Indonesia, yaitu:

1. Mariana Saanin Mufti
2. Nelly Pauna Situmorang
3. Rosmalina Pramono
4. Dahniar Sukotjo
5. Djasmainar Husein
6. Rosnalia Taher

Keenam siswi tersebut mulai mengikuti pendidikan inspektur polisi di Sekolah Polisi Negara (SPN) Bukittinggi.

Sejak saat itu, tanggal 1 September resmi ditetapkan sebagai hari lahirnya Polisi Wanita.

Tugas awal mereka sangat spesifik dan krusial, mulai dari menangani kasus kejahatan yang melibatkan anak-anak dan perempuan, hingga melakukan pengamanan fisik di lapangan.

Kini, peran Polwan telah berkembang jauh melampaui tugas kedaruratan di masa lalu.

Polwan masa kini menduduki berbagai posisi strategis, mulai dari tim antiteror, penembak jitu, kapolres, hingga jenderal bintang tinggi yang disegani.

Peringatan 1 September menjadi pengingat abadi bahwa dedikasi dan profesionalisme tidak mengenal batasan gender.***