POJOKSATU.ID - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan keheranannya terhadap aksi Amerika Serikat (AS) yang menyerang negara berdaulat, Venezuela.
Menurut Purbaya, peristiwa tersebut mencerminkan kondisi global yang semakin memprihatinkan, terutama terkait melemahnya peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai penjaga perdamaian dunia.
Purbaya menilai, tatanan internasional saat ini seolah kehilangan pengawasan yang efektif.
Baca Juga: Status Rapel Gaji Pensiunan 2026, Ini Penjelasan Resmi Taspen dan Pemerintah
Ia menyoroti bagaimana negara besar masih dapat melakukan tindakan militer terhadap negara lain tanpa konsekuensi yang tegas dari komunitas internasional.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa mekanisme pengawasan global tidak berjalan sebagaimana mestinya,” ujar Purbaya, dikutip pojoksatu.id dari kompas.com (6/1/2026).
Menurutnya, PBB yang seharusnya menjadi lembaga utama dalam menjaga kedaulatan negara dan mencegah konflik bersenjata, justru terlihat tidak berdaya menghadapi aksi sepihak negara adidaya.
Baca Juga: Mau Ajukan PK? Ini 3 Ketentuan Baru Haji Khusus dari Kemenhaj RI
Situasi tersebut menimbulkan preseden berbahaya bagi stabilitas global.
Purbaya menilai, ketika sebuah negara dapat menyerang negara berdaulat lain tanpa sanksi atau tekanan internasional yang berarti, maka prinsip hukum internasional menjadi rapuh.
Ia mengingatkan bahwa hal ini berpotensi memicu konflik serupa di berbagai belahan dunia.
Baca Juga: CPNS 2026 Jadi Momentum Emas Fresh Graduate, Ini Syarat, Cara Daftar, dan Tahapan Seleksinya
Pernyataan Menkeu RI itu muncul di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela.
Ketegangan meningkat drastis setelah Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya dilaporkan menjadi tahanan AS.
Keduanya ditangkap oleh pasukan Presiden AS Donald Trump dalam sebuah operasi yang berlangsung di ibu kota Venezuela, Caracas.
Baca Juga: Kisah Pilu Honorer Gowa, 25 Tahun Mengabdi tapi Pensiun Tepat Usai Terima SK PPPK Paruh Waktu
Penangkapan tersebut langsung menuai sorotan internasional. Banyak pihak mempertanyakan legitimasi tindakan AS yang dinilai melanggar kedaulatan Venezuela sebagai negara merdeka.
Namun hingga kini, belum terlihat adanya langkah konkret dari PBB yang mampu meredam eskalasi konflik tersebut.
Purbaya menilai, situasi ini menjadi cerminan ketimpangan kekuatan dalam politik global.
Baca Juga: Lebih Rendah dari Honorer? Ini Fakta Gaji PPPK Paruh Waktu dan Dampaknya bagi ASN
Negara besar dinilai memiliki ruang gerak yang jauh lebih luas dibandingkan negara berkembang atau negara kecil, termasuk dalam urusan militer dan politik luar negeri.
Ia juga mengingatkan bahwa konflik internasional tidak hanya berdampak pada stabilitas politik, tetapi juga pada perekonomian global.
Ketegangan geopolitik dapat memicu ketidakpastian pasar, gangguan rantai pasok, hingga tekanan terhadap ekonomi negara-negara lain yang tidak terlibat langsung.
Baca Juga: LOWONGAN KERJA Staf Admisi di Universitas Internasional Semen Indonesia Nama Penulis:
Menurut Purbaya, dunia membutuhkan reformasi serius dalam sistem global, termasuk penguatan kembali peran PBB agar mampu bertindak lebih tegas dan adil.
Tanpa itu, risiko konflik terbuka antarnegara akan terus menghantui dunia.
Ia menegaskan, perdamaian global hanya dapat terwujud jika semua negara, besar maupun kecil, tunduk pada aturan internasional yang sama.***




