POJOKSATU.id — Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-5 yang digelar hari ini, Selasa (23/9/2025) resmi mengusung konsep Sumitronomics sebagai arah pembangunan ekonomi Indonesia menuju 2026.
Konsep ini menjadi pijakan utama dalam strategi nasional yang menekankan pertumbuhan ekonomi tinggi, pemerataan manfaat pembangunan, serta stabilitas nasional yang dinamis.
Dalam pemaparannya di parlemen, pemerintah menegaskan bahwa mesin pertumbuhan ekonomi harus berjalan selaras antara kebijakan fiskal, sektor keuangan, dan perbaikan iklim investasi.
Baca Juga: Belanja Lebih Besar dari Pendapatan, DPR Sahkan APBN 2026 Rp3.842 Triliun
"Mesin pertumbuhan harus berjalan selaras antara kebijakan fiskal, sektor keuangan, serta perbaikan iklim investasi,” tegasnya.
Melalui Sumitronomics, target pertumbuhan ekonomi ditetapkan melampaui 6 persen dalam waktu dekat, dengan ambisi mencapai 8 persen dalam jangka menengah.
Tiga Pilar Sumitronomics:
1. Pertumbuhan Ekonomi Tinggi
Purbaya menjelaskan bahwa pilar pertama Sumitronomics adalah pertumbuhan ekonomi tinggi yang ditopang oleh APBN sebagai katalis pertumbuhan sektor swasta.
Fokus diarahkan pada penguatan sektor padat karya, pertanian, manufaktur, pariwisata, dan hilirisasi sumber daya alam, dengan dukungan insentif fiskal berupa tax holiday, super deduction riset, serta pengembangan kawasan ekonomi khusus bernilai tambah tinggi.
2. Pemerataan Manfaat Pembangunan
Pilar ini menekankan optimalisasi program perlindungan sosial agar tepat sasaran, memperluas pusat-pusat pertumbuhan hingga ke pelosok terutama Kawasan Timur Indonesia, serta penciptaan lapangan kerja baru dan penurunan kemiskinan hingga pelosok.
3. Stabilitas Nasional Dinamis
Implementasi pilar ini dilakukan melalui sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk mengendalikan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat, memperlancar distribusi, stabilisasi harga pangan, serta memperkuat distribusi serta koordinasi pusat dan daerah dalam pengendalian inflasi. ***




