POJOKSATU.id, JAKARTA-- Sufmi Dasco Ahmad kembali menyambangi gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (19/5) di tengah kondisi rupiah yang terpuruk Rp17.706 per dolar AS.

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan, Selasa pekan ini turun 38 poin atau 0,22% menjadi 17.706 per dolar AS dari sehari sebelumnya 17.668 per dolar AS.

Kedatangan ini seperti mengulang kejadian tahun lalu sekitar bulan Maret 2025, dimana Dasco saat itu mendatangi Gedung BEI di Jakarta Selatan pada Selasa (18/3/2025)dan ini dilakukan agar pasar tetap tenang.

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Selasa (19/5) menyebutkan optimistisnya bahwa pasar saham akan kembali menguat setelah 29 Mei 2026.

Baca Juga: Wagub Sani Tekankan Peran Kampus dalam Pembangunan di Dies Natalis dan Wisuda UNJA

Keyakinan itu disampaikan Dasco usai menyambangi gedung BEI bersama Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Rosan P Roeslani dan Kepala BP BUMN Dony Oskaria.

Kedatangan mereka disambut Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi dan Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna.

Dasco mengatakan, dalam pertemuan tersebut pihaknya banyak berdiskusi mengenai langkah untuk memperkuat keyakinan investor global maupun investor domestik terhadap pasar modal tanah air.

“Kami tadi sudah banyak berdiskusi tadi di atas bagaimana kita meyakinkan untuk menguatkan investor global yang akan masuk di bursa dan sedang di bursa,” ujar Dasco saat konferensi pers di gedung BEI, Selasa (19/5/2026).

Baca Juga: DPR Dukung Upaya Pemerintah Percepat Pembebasan Tujuh WNI yang Diculik Israel

Selain investor asing, pembahasan juga difokuskan pada pertumbuhan investor ritel domestik yang dinilai terus menunjukkan perkembangan positif.

Menurutnya, pengelola bursa saat ini terus melakukan penyempurnaan regulasi agar mampu menciptakan rasa aman dan nyaman bagi investor lokal untuk tetap berinvestasi di pasar modal dalam negeri.

“Tadi kami juga banyak berdiskusi bagaimana kemudian investor retail yang ada terus tumbuh dan berkembang, dengan kami kemudian mendengarkan paparan dari pengelola bursa bagaimana mereka kemudian menyempurnakan regulasi-regulasi yang bisa kemudian meyakinkan dan juga kemudian membuat para investor lokal yang merasa nyaman,” paparnya.

Ia menilai pertumbuhan investor ritel yang terus meningkat menjadi sinyal positif bagi kekuatan fundamental pasar modal Indonesia ke depan.

Karena itu, meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sedang tertekan akibat sentimen global seperti perang di Timur Tengah, arah suku bunga global, dan rebalancing Morgan Stanley Capital International (MSCI), pemerintah menilai tekanan tersebut lebih bersifat sementara dibandingkan mencerminkan kerusakan fundamental ekonomi Indonesia.

Dia menyebut publik berpotensi mulai melihat perbaikan kondisi pasar setelah 29 Mei 2026.

“Dan itu kemudian dengan fundamental yang ada kita yakin dan percaya bahwa bursa kita kedepan akan semakin kuat, mudah-mudahan kita akan melihat langsung setelah tanggal 29 ini. Semua yang dilakukan atas kerja keras dan niat baik ini akan memiliki hasil,” kata Dasco.***