POJOKSATU.id - Melepaskan ketegangan fisik dan emosional menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga kesehatan mental.
Salah satu metode yang kini mulai dikenal luas adalah Tension or Trauma Release Exercises (TRE), atau Latihan Pelepasan Ketegangan dan Trauma, yang diperkenalkan oleh Dominica Chua, Konselor di Parkway Cancer Centre (PCC).
TRE merupakan rangkaian latihan yang dirancang untuk membangkitkan otot psoas, yakni kelompok otot besar di dalam tubuh yang sering menjadi tempat tersimpannya stres fisik, emosional, dan mental.
Melalui aktivasi otot ini, tubuh akan memunculkan tremor atau getaran neurogenik secara alami, yang berfungsi sebagai mekanisme pelepasan ketegangan mendalam.
Baca Juga: Sudah Setahun Tanpa Kepastian, Aliansi Non ASN Geruduk DPRK Kaimana Pertanyakan Pengusulan PPPK
Kombinasi antara respons neurologis dan fisiologis tersebut membantu tubuh kembali ke kondisi yang lebih tenang dan seimbang.
Dalam konteks konseling, TRE dinilai mampu membantu individu mengatur emosi dengan lebih baik, terutama bagi mereka yang mudah terpengaruh oleh pengalaman yang menekan.
Bagi sebagian orang, pengalaman traumatis atau menyakitkan sulit untuk diungkapkan melalui kata-kata.
TRE menawarkan alternatif dengan memungkinkan pelepasan stres tanpa harus menceritakan kembali detail kejadian yang dialami.
Metode ini bekerja langsung melalui tubuh, bukan semata-mata melalui proses kognitif.
Baca Juga: Penjual Es Gabus Difitnah Oknum TNI dan Polisi Kini Seolah Diberi Kelapangan, Dapat Motor dan Uang
Selama latihan, seseorang umumnya akan merasakan getaran atau gemetar pada bagian tubuh tertentu.
Intensitasnya bisa berbeda-beda, tergantung pada kondisi sistem saraf masing-masing individu.
Getaran ini merupakan respons alami tubuh saat melepaskan ketegangan yang tersimpan.
Dalam jangka panjang, TRE diharapkan dapat dipelajari dan dilakukan secara mandiri di rumah.
Meski demikian, pada tahap awal, latihan sebaiknya dilakukan dengan pendampingan penyelenggara TRE bersertifikat agar prosesnya aman dan terarah.
Baca Juga: Ramai Kabar Reshuffle Kabinet Merah Putih, Pemerintah Pastikan Tak Ada Perombakan Dalam Waktu Dekat
Salah satu keunikan TRE terletak pada pendekatan berbasis somatik atau “dari bawah ke atas”.
Metode ini bekerja dengan mengetuk otak reptilia dan sistem limbik terlebih dahulu, sebelum menjangkau neokorteks. Dengan demikian, TRE bukan hanya latihan fisik, tetapi juga latihan neurologis yang melibatkan seluruh bagian otak.
Secara umum, TRE dinilai aman untuk dilakukan.
Namun, individu dengan riwayat cedera, keterbatasan fisik, atau kondisi psikologis tertentu disarankan berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum memulai latihan.
Berbagai manfaat telah dilaporkan oleh praktisi maupun pengguna TRE, di antaranya berkurangnya kecemasan dan stres, tidur yang lebih nyenyak, meningkatnya energi, serta berkurangnya nyeri otot dan punggung.
Baca Juga: Dari Ngurus Bensin Kini Bahlil Bakal Urus Reaktor Nuklir! Setelah Dirinya Resmi Menjadi Ketua DEN
TRE juga disebut membantu mengurangi gejala gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan meningkatkan ketahanan emosional.
Bagi pasien kanker, TRE tidak berfungsi sebagai terapi penyembuhan penyakit, tetapi dapat membantu mengelola stres, kegelisahan, dan gangguan tidur yang kerap menyertai proses pengobatan.
TRE dikembangkan oleh Dr. David Berceli, seorang ahli intervensi trauma yang terinspirasi dari respons alami tubuh manusia dan hewan saat menghadapi ancaman, yakni gemetar untuk melepaskan ketegangan.
Dari pengamatan inilah, lahir sebuah metode yang memanfaatkan mekanisme alami tubuh untuk memulihkan diri.
Di tengah kehidupan yang penuh tekanan, belajar mendengarkan sinyal tubuh menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan diri.
TRE mengingatkan kita bahwa penyembuhan tidak selalu harus melalui kata-kata, tetapi juga dapat dimulai dari kesediaan memberi ruang bagi tubuh untuk melepaskan beban yang selama ini tersimpan.***




