POJOKSATU.id, BADAN Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau di tahun 2023 akan lebih kering jika dibandingkan dengan 3 tahun terakhir yaitu 2020-2022.
BMKG pun mengajak masyarakat melakukan panen air hujan sebagai langkah mitigasi musim kemarau.
Jauh sebelum 2023, kemarau panjang juga pernah terjadi pada tahun 2016 silam di Indonesia, sehingga banyak daerah mengalami kekeringan.
Kala itu, persediaan air semakin terbatas dan hujan yang tak kunjung datang mulai membuat warga harap-harap cemas.
Namun tidak bagi warga Desa Geneng Kabupaten Wonogiri yang berada di lereng Gunung Lawu, Provinsi Jawa Tengah, pasalnya air di desa itu tetap mengalir meski kemarau berlangsung cukup panjang.
Pencapaian ini tak lepas dari sosok pria sepuh yang menjadi pahlawan. Namanya, Mbah Sadiman, pahlawan lingkungan yang sudah menyelamatkan warga Desa Geneng dari kekeringan.
Sosok pria 68 tahun itu, dulunya sempat disangka gila. Aksinya memang mengejutkan banyak orang sejak tahun 2016 lalu. Kini, kisah Mbah Sadiman layak diingat kembali untuk bisa diteladani.
Hampir 24 tahun menjaga lingkungan. Mbah Sadiman berhasil menyulap bukit yang tadinya gersang menjadi hijau dan rindang.
Ada 2 bukit berdiri tegak di dekat tempat tinggal Mbah Sadiman. Bukit itu adalah Nggendol dan Ampyang yang dulunya sangat gersang.
BACA JUGA: Sambangi Kantor Kemensos RI, Komisi IV DPRD Kota Bogor Sampaikan Laporan Aspirasi Masyarakat Terkait Bansos
Jika masuk musim penghujan, area itu justru mengalami banjir besar dan longsor. Sebaliknya di musim kemarau, paceklik air bisa berkepanjangan, dan banyak warga yang sakit hingga meninggal.
Mbah Sadiman pun geregetan. Ia pun memikirkan bagaimana caranya agar masalah tersebut bisa diatasi dan kekeringan warga tidak terjadi lagi.
Tahun 1996, “investasi hijau” pun dimulai. Satu demi satu, Mbah Sadiman menanami bukit tersebut dengan pohon beringin. Semua usaha itu ia lakukan sendiri, termasuk biayanya pun dari kantong sendiri.
Hingga saat ini sudah lebih dari 11.000 pohon yang ditanam, hasilnya bukit yang tadinya gersang sudah hijau kembali.
Kini Mbah Sadiman menjadi pahlawan yang selamatkan warga desa dari kekeringan. Tak heran aksinya mendapat penghargaan
Belasan tahun berlalu, usaha Mbah Sadiman menunjukkan hasilnya belasan ribu pohon yang ditanam kembali menghijaukan bukit dan menciptakan mata air yang bisa mencukup kebutuhan warga.
Saat ini, lebih dari 340 keluarga bisa menikmati air pegunungan yang sejuk secara gratis melalui pipa-pipa swadaya. Meski kemarau berkepanjangan, air di desa Geneng tetaplah melimpah.
BACA JUGA: Denny Indrayana Blak-blakan Ungkap Sosok Pemberi Informasi Putusan MK Sistem Pemilu Tertutup
Atas aksinya ini, Mbah Sadiman mendapatkan penghargaan Apresiasi Dukungan Instan Inspiratif dari BNPB pada 25 Agustus 2019 lalu. Penghargaan ini bernama Reksa Utama Anindha atau Penjaga Bumi Penuh kebijakan.
Tak hanya itu, atas sumbangsihnya terhadap lingkungan, Mbah Sadiman juga mendapatkan dukungan serta sumbangan dana dari BRI sebesar 100 juta rupiah.
Mbah Sadiman memang orang yang unik, diceritakan bahwa ia menyemai bibit jati dan cengkih di halaman rumahnya. Dua ‘tanaman mahal’ itu tidak dipakainya sendiri, melainkan untuk ditukar dengan bibit beringin, untuk kemudian ditanami di bukit yang gersang.
Alasan Mbah Sadiman memilih beringin juga menarik, Selain pohonnya kuat dan bisa menyuplai air serta udara, pohon beringin juga identik dengan “penunggu”. Karenanya, Mbah Sadiman berharap tidak ada orang yang iseng menebang atau merusak pohon beringin yang sudah ia tanam.
Meski hanya orang desa yang hanya sempat mengenyam pendidikan sampai kelas 1 SMA, cita-cita dan tekad Mba Sadiman sangat tinggi, untuk alam sekitarnya.
Dituduh gila, harus membagi kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan pupuk untuk pohon-pohonnya, kisah Mbah Sadiman patut dijadikan teladan. Tanpa mengharap balasan selain kemakmuran warga sekitar, Mbah Sadiman hanya berharap kelak investasi hijau yang dia mulai ini ada yang melanjutkan.
Selain membuat dua bukit kembali hijau, Mbah Sadiman juga membuat jalan untuk sampai ke puncak Bukit Gendol.
Ribuan anak tangga ia buat dalam waktu kurang lebih sebulan. Tujuannya, selain mempermudah untuk mengontrol pohon-pohonnya, juga agar anak-anak yang suka main di sana mudah melewati jalurnya.
Saat ini, keseharian Mbah Sadiman sebagai pahlawan penghijuan sangatlah sederhana. Ia tinggal di rumah sederhana dengan dua kamar, satu dapur dan satu kamar mandi.
BACA JUGA: Mengenal 17 Mensesneg Indonesia Dari Masa ke Masa
Meski tinggal di rumah sederhana, Mbah Sadiman memiliki sederet penghargaan. Selain Kalpataru dari Presiden RI, Mbah Sadiman juga mendapatkan penghargaan dari level lokal hingga nasional. Bahkan Mbah Sadiman pernah mendapatkan penghargaan sebagai tokoh penggerak penghijauan di Wonogiri dan menjadi bintang tamu di acara Kick Andy pada April 2016.
Jika suatu saat nanti bukit ini menjadi tempat wisata, semoga tidak ada tangan-tangan jahil yang merusaknya. Karena ada kisah perjuangan Mbah Sadiman selama puluhan tahun di dalamnya.
Dengan segala upaya yang mampu dilakukannya, Mbah Sadiman membuktikan bahwa ia bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk sekitarnya. Semoga muncul Mbah Sadiman-Mbah Sadiman lainnya. (TIK/pojoksatu)
BACA JUGA: Profil Abdoel Gaffar Pringgodigo, Mensesneg Indonesia Pertama di tahun 1945




