POJOKSATU.id, MAJUNYA suatu peradaban tak lepas dari andil perjuangan para perempuan. Tak terkecuali peradaban keilmuan Islam yang juga diwarnai dengan kontribusi dari kaum perempuan.
Islam merupakan rahmat bagi semesta alam, hal tersebut tak pandang pilih baik laki-laki maupun perempuan. Keduanya memiliki kesempatan yang sama untuk menuntut ilmu, mengembangkan kemampuan dan ikut serta melakukan kontribusi aktif pada khazanah keilmuan.
Salah satu tokoh Islam perempuan di Indonesia adalah Sholihah Munawwaroh Wahid Hasyim atau sering dipanggil Nyai Sholihah. Ibu dari KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gusdur.
Nyai Sholihah lahir di Jombang pada 11 Oktober 1922. Ia merupakan anak kelima dari 10 bersaudara. Ayahnya bernama KH Bisri Syanusi ulama Indonesia yang berjasa dalam mendirikan Nahdlatul Ulama (NU), dan Ibunya adalah Nyai Nur Chadijah (adik dari Mbah Abdul Wahab Hasbullah- pelopor pendiri NU).
Sejak kecil, Nyai Sholihah sudah berada di lingkungan pesantren dengan pengawasan pendidikan yang cukup ketat dari kedua orang tuanya. Pendidikan awal yang diterimanya tak lain adalah pendidikan agama serta bahasa Arab sebagai bekal mengajar para santri putri di pesantren yang diasuh ayahnya.
Kiai Bisri mendidik putrinya di Madrasah Diniyah yang dikelolanya dengan materi-materi pendidikan Islam tradisional sebagaimana diajarkan kepada santri.
Hanya saja, sebagai bekal agar bisa membantu mengajar santri kelas bawah, Kiai Bisri memberikan tambahan pelajaran pribadi selesai shalat dzuhur dan isya kepada putra-putrinya termasuk Nyai Sholihah.
Diusianya yang ke-16 tahun, pada tanggal 10 Syawal 1356 Hijriyah Nyai Solihah menikah dengan Kiai Wahid Hasyim (Putra Kiai Hasyim As’ari dan Menteri Agama RI pertama).
Dari penikahan keduanya, lahirlah enam anak yang di kemudian hari menjadi tokoh hebat, bahkan ada yang menjadi Presiden keempat Indonesia, yaitu KH. Abdurrahman Wahid, Aisyah Hamid Baidlowi, KH. Salahuddin Wahid, Umar Wahid, Lily Chodijah Wahid, dan Hasyim Wahid.
Peran Nyai Sholihah di Muslimat NU
Berbekal kemampuan yang dimilikinya serta dukungan penuh dari sang suami, Nyai Solihah aktif mengikuti berbagai kegiatan terutama yang diselenggarakan Nahdhatul Oelama Muslimat (NOM).
Pada tahun 1950, ketika KH. Wahid Hasyim diangkat menjadi menteri agama, Nyai Sholihah ikut pindah ke Jakarta. Di Jakarta beliau terlibat dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan, terutama di Muslimat NU Jakarta.
Keterlibatannya yang aktif di arena perbaikan masyarakat dan kepejuangannya, dimulai dengan menjadi anggota Muslimat NU Gambir (1950), Ketua Muslimat NU Matraman (1954), Ketua Muslimat NU DKI Jaya (1956), hingga Ketua I Pimpinan Pusat Muslimat NU tahun 1959 sampai beliau wafat pada Jumat, 29 Juli 1994 dalam usia 72 tahun.
Dalam kegiatan di lingkungan Muslimat, Nyai Sholihah merintis berdirinya Yayasan Kesejahteraan Muslimat (YKM) yang mengelola segala jenis fasilitas umum seperti Rumah Sakit, klinik, panti asuhan, rumah bersalin, dan fasilitas sosial lainnya.
Kegiatan sosialnya tidak hanya di lingkungan Muslimat NU saja, ia juga aktif di berbagai organisasi sosial seperti Yayasan Dana Bantuan (YDB), Yayasan Bunga Kamboja, Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI), Home Care, panti jompo dan pengajian untuk para ibu yang dinamakan al-Ishlah di Mataraman. Di dalamnya ia sangat aktif dan cukup berperan.
Keterlibatannya di Muslimat NU itu, masih ditambah dengan keterlibatannya sebagai legislator DKI Jakarta (1957), DPR-GR/MPRS (1960), DPR/MPR (1971 mewakili NU, 1978-1987 mewakili PPP).
Nyai Sholihah Jadi Kepala Keluarga
Mahligai rumah tangga KH. Wahid dengan Nyai Sholichah hanya berlangsung 15 tahun. Pada tahun 1953, KH. Wahid Hasyim meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan mobil di Jawa Barat.
Saat sang suami wafat pada tahun 1953, beliau sendiri merawat keenam anaknya di Jakarta. Nyai Solihah tidak mengizinkan anak-anaknya sekolah di Jombang dengan argumen akses yang terbatas terutama dalam pendidikan yang akan membuat anak-anakya tidak berkembang maksimal.
Nyai Solihah ikut perperan aktif di dunia politik sebagai anggota DPRD DKI mewakili NU, DPRGR mewakili Muslimat NU, dan anggota DPR RI mewakili NU pada masa Orde Baru. Selain aktif di Muslimat NU, beliau juga ikut berkontribusi di Yayasan Dana Bantuan (YDB), Yayasan Bunga Kamboja (YBK) dan yayasan sosial lainnya hingga akhir hayat.
Di balik sosok Gus Dur yang demikian fenomenal, ada kiprah perempuan yang demikian sentral, sehingga membentuk watak Gus Dur yang demikian menonjol. Sosok itu tidak lain adalah ibundanya, Nyai Sholihah Munawwaroh Wahid Hasyim. Gus Dur menyebut sang ibu, seperti dituturkan dalam buku Ibuku Inspirasiku, dengan menyebutnya, seperti “ayam induk”. (*/TIK/pojoksatu)




