POJOKSATU.id – Penetapan awal Ramadan dan Idul Fitri di Indonesia selalu menunggu satu momen penting yaitu sidang isbat.
Namun tidak banyak yang mengetahui bagaimana metode rukyat pengamatan hilal secara langsung dan akhirnya menjadi dasar keputusan resmi pemerintah.
Sejarahnya panjan dimulai jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai negara modern.
Dikutip PojokSatu.id dari laporan Kompas, praktik rukyat sudah dikenal sejak masa kesultanan Islam di Nusantara.
Pada masa itu, ulama dan ahli falak kerajaan memantau hilal untuk menentukan awal bulan Hijriah.
Tradisi ini berjalan turun-temurun, hingga akhirnya tetap dipertahankan dalam masyarakat Islam Indonesia bahkan setelah kemerdekaan.
Perubahan besar terjadi pada 1970-an. Menurut catatan Kementerian Agama yang dikutip berbagai media nasional.
Pemerintah mulai membakukan sistem penanggalan Islam dengan menggabungkan hisab perhitungan astronomi dan rukyat.
Keputusan itu diambil karena masyarakat Indonesia memiliki latar belakang keilmuan falak yang beragam, dan pemerintah membutuhkan dasar tunggal untuk penetapan hari besar keagamaan.
Dari sinilah lahir mekanisme sidang isbat, forum resmi yang memutuskan awal Ramadan dan Syawal setiap tahun.
Sidang ini melibatkan ulama, ahli astronomi, organisasi keagamaan, dan perwakilan ormas besar seperti NU dan Muhammadiyah.
Pemerintah mempertahankan rukyat sebagai verifikasi visual, sementara hisab digunakan sebagai dasar perhitungan awal.
Dikutip Pojoksatu.id dari Detikcom menyebut, titik rukyat resmi kini tersebar di lebih dari 100 lokasi nasional, dari Aceh hingga Papua.
Petugas Kemenag, ahli falak, dan perukyat dari berbagai ormas melakukan pengamatan secara serempak menjelang Magrib.
Hasilnya kemudian dibawa ke meja sidang isbat untuk ditetapkan secara nasional.
Namun, mengapa rukyat tetap dipertahankan di era modern? Menurut analisis Tempo, rukyat dianggap memiliki legitimasi kuat dalam fikih karena berlandaskan hadits tentang melihat hilal.
Selain itu, rukyat memberikan kepastian faktual di lapangan, terutama ketika hisab menunjukkan posisi bulan yang sangat tipis sehingga butuh konfirmasi visual.
Meskipun berkembangnya teknologi astronomi semakin memudahkan hisab, pemerintah tetap mempertahankan model kombinatif sebagai jalan tengah.
Inilah alasan mengapa sidang isbat masih menjadi pusat perhatian setiap tahun, sekaligus bagian penting dari sejarah panjang penetapan awal Ramadan di Indonesia.***




