POJOKSATU.ID - Gunung Merapi, yang selama ini dikenal sebagai simbol kekuatan alam Jawa, kini menyimpan luka dalam.

Bukan karena letusan, melainkan karena tangan manusia yang menggerogoti tubuhnya.

Sekitar 300 hektare kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM).

Kini rusak akibat tambang pasir ilegal yang beroperasi selama bertahun-tahun tanpa izin.

Namun, di balik luka itu, ada harapan baru.

Baca Juga: Biar tak jadi Sarang Kelalawar, Dedi Mulyadi Pilih Suntik Bandara Kertajati Rp100 Miliar, CPNS yang Kena Imbas

Pemerintah pusat, aparat penegak hukum, dan komunitas lokal mulai menyatukan langkah untuk memulihkan ekosistem hutan Merapi agar kembali berfungsi seperti sedia kala.

Data dari Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) mencatat,

Area yang terdampak aktivitas tambang ilegal mencapai 312 hektare di wilayah Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang.

Kawasan yang semula hijau kini dipenuhi lubang-lubang besar bekas galian dan tumpukan batu vulkanik.

Baca Juga: ASN Jabar Siap Puasa Dinas pada Tahun 2026, KDM Gencarkan Hemat Anggaran Demi Pembangunan Rakyat

“Dari udara terlihat jelas. Tutupan vegetasi hilang, banyak jalur air terganggu,” kata M. Setiawan, Kepala BTNGM, seperti dikutip dari Antara News, Sabtu 1 November 2025.

Kerusakan itu mengubah bentang alam Merapi.

Tanah yang terkelupas menyebabkan erosi parah saat hujan deras, sementara air sungai di bawahnya kini keruh karena sedimen tambang.

Satwa liar yang dulu hidup di zona konservasi mulai bermigrasi ke wilayah lain karena kehilangan habitat.

Akar persoalan ini mencuat setelah Bareskrim Polri menggerebek aktivitas tambang ilegal di lereng Merapi pada akhir Oktober lalu.

Dalam operasi gabungan dengan BTNGM dan Dinas ESDM Jawa Tengah.

Telah ditemukan 36 titik tambang ilegal dan 39 depo material yang beroperasi tanpa izin di kawasan konservasi.

Baca Juga: Dua Kerangka Manusia Korban Kerusuhan Demo Kwitang Ditemukan di Gedung Astra Credit Companies

Nilai transaksi tambang pasir ilegal itu diperkirakan mencapai Rp 3 triliun dalam dua tahun terakhir.

Polisi telah menyita alat berat, truk, dan dokumen transaksi untuk penyelidikan lebih lanjut.

Brigjen Pol Wahyu Sri Bintoro Mengatakan kasus ini bukan sekadar pelanggaran lingkungan, tapi juga tindak pidana ekonomi besar yang merugikan negara.

"Penyelidikan kini mengarah ke dugaan jaringan terorganisir yang memanfaatkan lemahnya pengawasan di lapangan" ujarnya, dikutip dari Detik, Sabtu 1 November 2025.

Baca Juga: Tunjangan Guru 2025 Sudah Cair? Begini Cara Cek dan Proses Penyalurannya di Info GTK

Sejumlah pelaku lapangan sudah diamankan, sementara aktor di balik operasi besar ini masih ditelusuri.


Langkah Rehabilitasi Dari Penataan Sungai Hingga Reboisasi

Setelah operasi penegakan hukum, pekerjaan besar berikutnya adalah memulihkan ekosistem yang rusak.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama BTNGM.

Tengah menyiapkan rencana rehabilitasi hutan konservasi Merapi

Hingga mencakup penanaman kembali pohon endemik, penataan kembali alur sungai, serta penguatan partisipasi warga sekitar.

Direktur KLHK menegaskan kami sudah siapkan bibit pohon asli Merapi seperti puspa, rasamala, dan beringin.

"Fokus kami adalah memulihkan fungsi ekologis kawasan,” katanya, seperti dilansir JPNN.com, 1 November 2025

Program rehabilitasi ini akan dilaksanakan bertahap mulai awal 2026.

Tahap pertama mencakup penanaman di area bekas tambang yang paling kritis di Srumbung dan Salam, Magelang.

Baca Juga: Lulus PPG, Tapi Tak Kunjung Diangkat ASN, Antara Harapan, Realita, dan Pilihan Bertahan!

Selain reboisasi, pemerintah juga akan memperketat sistem pengawasan di kawasan konservasi.

Muali dengan pemasangan drone pemantau dan sistem digital geospasial untuk deteksi dini aktivitas mencurigakan.

Pemulihan tidak bisa dilakukan hanya oleh pemerintah.

Warga sekitar lereng Merapi akan dilibatkan dalam program konservasi berbasis masyarakat.

Baca Juga: Sudah Lulus PPG, Tapi Gaji Masih Pas-pasan? Begini Realita Pahit di Balik Gelar Pendidik Profesional

Pendekatan ini diharapkan bisa mengembalikan ekonomi warga yang sempat bergantung pada tambang ilegal menjadi lebih ramah lingkungan.

Bagi masyarakat sekitar, Merapi bukan sekadar gunung.

Ia adalah sumber kehidupan sekaligus pelindung.

Karena itu, pemulihan hutan Merapi bukan hanya soal menanam pohon.

Namun juga menanam kesadaran baru bahwa alam tidak bisa terus dieksploitasi.

“Gunung ini sudah memberi banyak. Sekarang waktunya kita yang menjaga,” kata Supriyadi, warga Srumbung, kepada Tempo.co, 1 November 2025

Langkah-langkah pemulihan memang tidak bisa menutup luka dengan cepat.

Tapi jika semua pihak bergerak bersama, luka itu perlahan bisa sembuh dan Merapi bisa kembali hijau seperti dulu.***