POJOKSATU.ID - Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Meriyati Roeslani, istri mendiang mantan Kapolri Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso.
Kepergian sosok yang akrab disapa Tante Meri itu menjadi momen refleksi bagi Megawati tentang keteladanan Hoegeng yang hingga kini masih dikenang sebagai simbol polisi bersih dan berintegritas.
Dalam keterangannya pada Selasa (3/2/2026), Megawati mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam, bukan hanya sebagai tokoh bangsa, tetapi juga sebagai warga negara yang mengagumi kepribadian Hoegeng.
Baca Juga: Tadinya Menolak, Kini MUI Ikut Dukung Prabowo Tetap di Board of Peace Demi Perjuangan Palestina
Bagi Megawati, Hoegeng bukan sekadar mantan Kapolri, melainkan teladan moral yang sulit tergantikan di tubuh Kepolisian Republik Indonesia.
Megawati menilai Hoegeng adalah figur langka dalam sejarah penegakan hukum Indonesia.
Kejujuran, kesederhanaan, serta keberaniannya menegakkan hukum tanpa pandang bulu membuat namanya tetap hidup di hati masyarakat.
Tak hanya menyoroti sosok Hoegeng, Megawati juga mengenang peran besar Meriyati Roeslani dalam mendampingi sang suami.
Menurutnya, Tante Meri adalah sosok pendukung setia yang berkontribusi besar dalam membentuk karakter Hoegeng sebagai pemimpin Polri yang bersahaja dan dicintai rakyat.
Kehidupan keluarga mereka yang sederhana menjadi bukti nyata bahwa jabatan tinggi tidak harus diiringi dengan kemewahan.
Baca Juga: Telkom Perkenalkan Digitalisasi Pendidikan Berbasis AI di Yogyakarta, Gandeng Google Indonesia
Megawati kemudian mengingatkan jajaran Polri agar menjadikan Hoegeng sebagai panutan utama.
Ia menegaskan bahwa nilai-nilai kejujuran, keberanian, dan pengabdian kepada rakyat harus kembali menjadi roh dalam setiap tugas kepolisian.
Dalam konteks tantangan zaman yang semakin kompleks, keteladanan seperti Hoegeng justru semakin relevan.
Pernyataan Megawati yang paling menyentuh publik adalah pertanyaan reflektifnya yang sarat makna.
“Kapan ya Indonesia akan punya Kapolri seperti figur Pak Hoegeng lagi?” ucap Megawati, dikutip pojoksatu.id dari kompas.com.
Baca Juga: Mendikdasmen Belum Tahu Kasus Siswa SD Bunuh Diri di Ngada Nusa Tenggara Timur
Kalimat sederhana itu seolah menjadi suara kegelisahan banyak rakyat yang merindukan sosok aparat penegak hukum yang benar-benar bersih dan berani.
Nama Hoegeng memang kerap muncul setiap kali publik membicarakan krisis kepercayaan terhadap institusi penegak hukum.
Bagi Megawati, mengenang Hoegeng bukan sekadar nostalgia, melainkan ajakan untuk kembali ke nilai dasar pengabdian kepada bangsa dan negara.
Kepergian Tante Meri pun menjadi pengingat bahwa di balik pemimpin besar, selalu ada pendamping yang setia.
Megawati berharap, semangat keteladanan Hoegeng dan Meriyati Roeslani tidak hanya dikenang, tetapi benar-benar dihidupkan kembali dalam praktik kepemimpinan Polri masa kini dan masa depan.***




