POJOKSATU.id - Ketika warga di Sumatera Utara berulang kali mengunggah video banjir bandang, rumah tersapu lumpur.
Hingga tangis keluarga yang kehilangan kerabat, sebagian pihak menyebut gambaran di media sosial terlalu mencekam.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, sempat mengeluarkan pernyataan serupa.
Baca Juga: Kenapa Tidak Serentak? Ini Alasan Pencairan TPG 100 Persen Ditentukan Pemda
Bahwa situasi yang tersebar di medsos tampak jauh lebih mengerikan dari kenyataan.
Namun semua itu berubah ketika dirinya menginjakkan kaki langsung di lokasi terdampak, terutama kawasan Batang Toru, Tapanuli Selatan.
Yang semula hanya dianggap “drama digital”, justru menunjukkan kenyataan yang jauh lebih menghantam.
Baca Juga: TelkomGroup Tambah Backup Satelit untuk Percepat Pemulihan Komunikasi di Wilayah Bencana Sumatra
Suharyanto terlihat beberapa kali menggelengkan kepala saat menyaksikan rumah-rumah yang luluh lantak, jembatan putus, serta jalan yang hilang diterjang arus deras.
Wajahnya berubah sendu ketika warga menceritakan detik-detik air bah datang, menyapu hunian tanpa ampun.
Di sinilah perbedaan antara dunia maya dan dunia nyata bertemu dan ironisnya, justru realita yang lebih mencabik hati.
Baca Juga: TelkomGroup Tambah Backup Satelit untuk Percepat Pemulihan Komunikasi di Wilayah Bencana Sumatra
Ia pun menyampaikan permintaan maaf kepada Bupati Tapanuli Selatan dan warga terdampak.
"Saya tak mengira sebesar ini. Saya Mohon Maaf, Pak Bupati. Bukan berarti kami tidak peduli" Ujarnya kepada bupati Tapanuli Selatan 30/11/2025
“Saya tidak menyangka kerusakannya sebesar ini,” ucapnya. Pengakuan itu sontak menjadi sorotan publik.
Medsos, yang semula dianggap hiperbola, nyatanya justru bekerja lebih cepat dalam menyampaikan alarm bahaya ketimbang laporan resmi yang berlapis birokrasi.
Baca Juga: Berapa Modal Buka Alfamart? Ini Daftar Biaya dan Skema Kemitraannya
Bukan kali pertama peran media sosial dipandang sebelah mata dalam situasi darurat.
Video warga sering kali menjadi sinyal awal bencana, sementara pemerintah baru bergerak setelah verifikasi formal dilakukan.
Bedanya, kali ini selisih persepsi itu menonjol sekali apa yang dianggap “berlebihan” di dunia maya ternyata hanyalah potongan kecil dari kenyataan yang jauh lebih kelam.
Baca Juga: Bedakan! TPG TW 4 Dua Bulan Berasal dari Pusat, TPG THR 100 Persen Dicairkan Pemda
BNPB kemudian mengerahkan helikopter, pesawat, dan logistik darurat melalui posko di Bandara Silangit. Bantuan menyasar desa-desa yang aksesnya terputus.
Permintaan maaf Kepala BNPB memang patut diapresiasi. Langkah itu menunjukkan bahwa institusi bisa mengoreksi diri ketika fakta di lapangan berbeda dari evaluasi awal.
Namun peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa bencana tidak pernah menunggu klarifikasi, apalagi debat persepsi mengenai seberapa mencekam ia terlihat di layar.
Baca Juga: Kenapa Tidak Serentak? Ini Alasan Pencairan TPG 100 Persen Ditentukan Pemda
Sumatera Utara memberi pelajaran penting media sosial bukan musuh data, bukan pula pembesar drama.
Ia hanya memperlihatkan apa adanya tanpa filter, tanpa sensor, tanpa jeda.***




