POJOKSATU.id, ACEH— Kadang keajaiban muncul di tengah bencana yang melanda, salah satunya keberadaan masjid-masjid di Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.
Relawan kemanusiaan yang berjibaku menolong korban bencana di sana menyebut tidak satu pun masjid mengalami kerusakan berarti di Aceh Tamiang.
Padahal permukiman warga di sekitarnya hancur diterjang arus banjir bandang yang terjadi pada Kamis (27/11) lalu.
“Kita tahu bersama, Aceh Tamiang hancur lebur diterjang banjir yang membawa kayu gelondongan. Tapi sepanjang saya di lapangan, tidak ada masjid yang roboh,” kata Muhajir, salah satu relawan Yayasan Blood For Life Foundation (BFLF), Jumat (19/12/2025).
Baca Juga: Isu Penjarahan Merebak, Pemerintah Aceh Minta Polisi TNI Perketat Pengawasan Mobil Bekas Banjir
Muhajir mengatakan, selama menjalankan misi kemanusiaan di sejumlah wilayah terdampak banjir, ia menyaksikan langsung bagaimana bangunan masjid tetap berdiri kokoh di tengah kerusakan infrastruktur dan rumah warga.
Dia mencontohkan kondisi Pesantren dan Masjid Darul Muklisin di Tanjung Karang yang justru berfungsi sebagai benteng alami saat banjir bandang membawa kayu-kayu besar dari hulu sungai.
“Di belakang pesantren itu ada rumah sakit umum dan pemukiman warga. Kalau kayu tidak tertahan di situ, habislah perkampungan dan rumah sakit,” ujar Muhajir.
Baca Juga: Seluruh Dana Kotak Amal Salat Jumat di Perlis Malaysia Disalurkan untuk Korban Banjir Aceh
Kondisi serupa, lanjut Muhajir, juga terlihat di kawasan Kota Lintang Bawah. Seluruh rumah warga di wilayah tersebut dilaporkan rusak berat akibat terjangan banjir, namun bangunan masjid tetap berdiri tanpa mengalami kerusakan berarti.
“Di kampung saya juga begitu. Pagar masjid tidak rusak,” ujar putra asli Aceh Tamiang itu.
Sementara itu, di wilayah Babo, banjir bandang yang terjadi pada 27 November 2025 lalu dilaporkan mencapai ketinggian hingga tiang antena listrik.
Sejumlah rumah warga bahkan tertimbun satu sama lain akibat derasnya arus air dan material banjir. Namun masjid di sana tetap utuh.
“Allah seperti ingin menunjukkan sesuatu. Rata-rata kampung hancur, tapi masjid tidak,” ucap Muhajir.
Menurut Muhajir, kesan tersebut tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Muslim. Saat berada di lokasi terdampak, ia juga berbincang dengan seorang warga keturunan Tionghoa yang turut menyampaikan pandangan serupa terkait peristiwa tersebut.
“Dia bilang, di sinilah kekuatan doa dan Tuhan,” katanya.
Berdasarkan data resmi Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) per 17 Desember 2025, Kabupaten Aceh Tamiang masih berstatus tanggap darurat banjir.
Sebanyak 12 kecamatan dan 216 gampong dilaporkan terdampak bencana tersebut.
Di kabupaten yang berbatasan langsung dengan Sumatera Utara (Sumut) tersebut, jumlah kepala keluarga terdampak mencapai 75.506 KK atau setara 298.839 jiwa.
Sementara itu, pengungsian tersebar di 475 titik dengan total 45.029 KK atau 159.744 jiwa yang masih mengungsi.***




