POJOKSATU.id - Pengecekan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional atau DTSEN sedang ramai akhir-akhir ini.

Beberapa warga yang mendapati dirinya berada di desil 10 bahkan ikut bergurau menyebut diri sebagai orang kaya.

Padahal, ada hal penting yang perlu dipahami sebelum menyimpulkan arti angka tersebut.

Desil 10 memang merupakan kelompok dengan peringkat kesejahteraan relatif paling tinggi.

Baca Juga: Rupiah Makin Perkasa, Ditutup Rp17.685 per Dolar AS dan Terkuat dalam 3 Bulan Terakhir

Namun, posisi itu tidak bisa langsung diterjemahkan sebagai tanda bahwa seseorang pasti kaya atau memiliki jumlah kekayaan tertentu.

Kepala BPS RI Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan bahwa desil merupakan pemeringkatan relatif keluarga berdasarkan berbagai karakteristik sosial ekonomi.

"Desil menunjukkan posisi relatif suatu keluarga dibandingkan keluarga lainnya berdasarkan berbagai karakteristik sosial ekonomi," kata Amalia melalui keterangan tertulis yang dikutip, Sabtu 22 Agustus 2026.

"Karena itu, angka desil perlu dipahami sebagai gambaran posisi relatif dalam pemeringkatan kesejahteraan, bukan sebagai ukuran tunggal kondisi ekonomi suatu keluarga," jelasnya.

Baca Juga: Latihan Soal Final OSN Astronomi SMA 2026, 10 Soal Pilihan Ganda Lengkap dengan Pembahasan

Apa Arti Desil 10?

Dalam DTSEN, keluarga dikelompokkan ke dalam 10 kelompok berdasarkan posisi kesejahteraan relatifnya.

Desil 1 menempati kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah.

Sebaliknya, desil 10 berada di kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling tinggi.

Masing-masing kelompok secara umum mencakup sekitar 10 persen keluarga dalam pemeringkatan tersebut.

Nah, karena sifatnya relatif, desil tidak sama dengan ukuran nominal pendapatan atau kekayaan.

Keluarga yang berada di desil 3, misalnya, berarti masuk kelompok ketiga dalam pemeringkatan kesejahteraan.

Angka itu tidak otomatis menunjukkan berapa pendapatan atau aset yang dimiliki keluarga tersebut.

Begitu pula dengan desil 10. Posisi tersebut menunjukkan bahwa sebuah keluarga berada dalam kelompok kesejahteraan relatif paling tinggi dalam pemeringkatan, bukan berarti BPS menetapkan keluarga itu sebagai orang kaya.

Bukan Cuma Soal Penghasilan

Penentuan posisi desil ternyata tidak dilakukan hanya dengan melihat pendapatan.

BPS mempertimbangkan banyak karakteristik sosial ekonomi secara bersamaan.

Di antaranya kondisi tempat tinggal, sumber air minum, bahan bakar dan energi untuk memasak, kepemilikan aset, daya serta konsumsi listrik, hingga komposisi keluarga.

Faktor pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan kondisi disabilitas juga ikut diperhitungkan.

Artinya, memiliki pekerjaan tertentu, menggunakan daya listrik tertentu, atau mempunyai satu jenis aset tidak serta-merta membuat sebuah keluarga masuk ke desil tertentu.

Semua informasi tersebut dipertimbangkan secara bersama-sama untuk mendapatkan gambaran posisi kesejahteraan relatif.

Ada Metode Statistik Dalam Penentuannya

BPS menggunakan pendekatan statistik Proxy Means Test atau PMT dalam proses pemeringkatan.

Metode tersebut memanfaatkan berbagai karakteristik sosial ekonomi yang dapat diamati untuk membantu memperkirakan posisi kesejahteraan sebuah keluarga.

Karena menggunakan banyak variabel, satu indikator saja tidak cukup untuk menentukan seseorang berada di desil tertentu.

Kondisi rumah, kepemilikan aset, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, hingga karakteristik keluarga dapat menjadi bagian dari informasi yang diperhitungkan dalam proses tersebut.

Itulah sebabnya dua keluarga yang sama-sama berada di satu desil belum tentu mempunyai pendapatan, pengeluaran, aset, maupun kondisi sosial ekonomi yang persis sama.

DTSEN Jadi Basis Data Pemerintah

DTSEN saat ini digunakan sebagai basis data bersama pemerintah untuk mendukung perencanaan, penetapan sasaran, serta evaluasi berbagai program.

Data tersebut dibangun dengan mengintegrasikan sejumlah basis data, termasuk Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE), dan Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek).

Informasi tersebut kemudian diperkaya dengan data administratif dan disinkronkan secara berkala dengan data kependudukan yang dikelola Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri.

Pengelolaan DTSEN sendiri menjadi tugas BPS berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2025.

Sementara kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah turut berperan sesuai tugas masing-masing, termasuk dalam penyediaan data dan pemutakhiran informasi.

Jadi, kalau hasil pengecekan menunjukkan desil 10, tidak perlu buru-buru mengartikan diri sebagai orang kaya, ya.

Angka tersebut lebih tepat dibaca sebagai posisi relatif dalam pemeringkatan kesejahteraan berdasarkan berbagai karakteristik sosial ekonomi.

Pemahaman yang tepat akan membantu masyarakat membaca data DTSEN secara lebih bijak dan tidak terjebak pada kesimpulan hanya dari satu angka.

Di tengah ramainya obrolan soal desil di media sosial, memahami maknanya menjadi jauh lebih penting daripada sekadar merasa bangga atau khawatir dengan sebuah angka.

DTSEN bukan hanya tentang label, tetapi tentang bagaimana data sosial ekonomi digunakan agar kebijakan pemerintah bisa semakin tepat sasaran dan benar-benar dirasakan masyarakat.***