POJOKSATI.ID- Masuk angin bukan sekadar gangguan kesehatan biasa dalam budaya Jawa, melainkan fenomena budaya yang mencerminkan kearifan lokal dalam sistem pengobatan tradisional Indonesia.

Prof. Dr. Atik Triratnawati, M.A., Guru Besar Antropologi Kesehatan Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam pidato pengukuhannya pada 10 Juni 2025, mengungkapkan bahwa masuk angin dapat dipahami melalui tiga dimensi kebudayaan.

Tiga Dimensi Budaya dalam Konsep Masuk Angin

Dimensi pertama adalah sistem gagasan, dimana masuk angin dalam budaya Jawa dipahami sebagai ketidakseimbangan tubuh akibat masuknya "angin" atau udara dingin.

Baca Juga: TPG Guru 2025 Cair Rp66,92 Triliun, Langsung Ke Rekening ASND dan PPPK, Ini Rincian Penyaluran dan Besaran Tunjangannya

Konsep ini mencerminkan pemahaman holistik tentang kesehatan yang melibatkan aspek fisik, spiritual, dan emosional sekaligus.

Dimensi kedua adalah perilaku budaya yang tercermin dalam ragam pengobatan tradisional.

Masyarakat Jawa memiliki berbagai cara mengatasi masuk angin, mulai dari kerokan tradisional menggunakan koin kuno, penggunaan balsem dan minyak tradisional, hingga terapi herbal dengan rempah-rempah seperti jahe, temulawak, dan kunyit.

Praktik-praktik ini telah turun-temurun dan terbukti efektif mengatasi gejala seperti badan pegal-pegal, perut kembung, dan mual.

Baca Juga: Dituding Kontraktor Bermain Tender Berujung Dicopot Bupati Madina dari LPSE, Zainal Sitepu Bersuara

 

Dimensi ketiga adalah artefak budaya berupa alat dan bahan pengobatan. Koin kuno untuk kerokan, balsam tradisional, dan berbagai rempah-rempah menjadi bukti nyata kekayaan pengobatan tradisional Indonesia yang masih lestari hingga kini.

Evolusi dan Relevansi Modern

Menariknya, istilah "masuk angin" telah berkembang melampaui konteks kesehatan dan merambah ke bidang politik serta ekonomi.

Evolusi ini menunjukkan dinamika budaya dan relevansinya dalam berbagai aspek kehidupan modern, membuktikan bahwa tradisi dapat beradaptasi dengan zaman.

Penelitian Prof. Atik sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera.

Dengan memahami praktik budaya seputar kesehatan, dapat dikembangkan solusi perawatan kesehatan yang lebih efektif, terjangkau, dan dapat diakses masyarakat luas.

Baca Juga: Diduga Bermain Tender, Kepala LPSE Madina Dinonaktifkan Bupati, Inspektorat Diminta Pemeriksaan

Integrasi Tradisi dan Modernitas

Prof. Atik menekankan pentingnya sensitivitas budaya dalam pelayanan kesehatan modern. Integrasi antara pengobatan tradisional dan modern dapat menghasilkan solusi kesehatan yang lebih holistik dan mudah diterima masyarakat.

Pendekatan ini tidak hanya melestarikan kearifan lokal, tetapi juga meningkatkan efektivitas pengobatan.

Pengukuhan Prof. Dr. Atik Triratnawati sebagai Guru Besar menandai tonggak penting dalam pengembangan antropologi kesehatan di Indonesia.

Penelitiannya membuka jalan bagi pengembangan terapi tradisional yang berbasis bukti ilmiah, integrasi kearifan lokal dalam sistem kesehatan nasional, dan promosi pengobatan tradisional yang aman serta efektif.

Masuk angin merupakan fenomena budaya yang mencerminkan kekayaan tradisi pengobatan Indonesia.

Melalui pendekatan antropologi kesehatan, kita dapat memahami dan menghargai sistem pengobatan tradisional sambil mengintegrasikannya dengan pelayanan kesehatan modern.

Penelitian Prof. Atik menginspirasi pelestarian dan pengembangan kearifan lokal bidang kesehatan, sejalan dengan upaya mencapai kehidupan sehat dan sejahtera untuk semua masyarakat Indonesia ***