POJOKSATU.id - Saran menggunakan masker basah untuk menghadapi paparan abu vulkanik ramai beredar di media sosial.

Salah satu anjuran yang muncul adalah memakai dua masker dengan masker yang telah dibasahi ditempatkan di bagian luar.

Cara tersebut disebut-sebut dapat membuat abu lebih mudah menempel pada bagian luar masker, terutama bagi masyarakat yang tidak memiliki masker respirator seperti KN95.

Namun, saran itu ternyata tidak dianjurkan.

Baca Juga: Pagi - Pagi Kajari Purwakarta Datangi Kantor PWI, Yudhi ; Saya Numpang Sarapan Di Kantor Ini

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) justru menekankan penggunaan masker respirator yang sesuai ketika masyarakat harus beraktivitas di luar ruangan saat terjadi hujan abu vulkanik.

Masker yang direkomendasikan antara lain N95, KN95, KF94, FFP2 atau jenis yang setara.

Sementara itu, masyarakat yang belum memiliki masker respirator dapat menggunakan masker medis sebagai perlindungan sementara.

Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi Siang Ini, Terekam Selama 17 Detik

Masker Jangan Sengaja Dibasahi
Dokter spesialis paru dan pernapasan dr Agus Dwi Susanto SpP(K) menjelaskan bahwa membasahi masker bukan metode yang tepat untuk menghadapi abu vulkanik.

Menurutnya, kondisi lembap pada masker justru dapat menimbulkan persoalan kesehatan apabila digunakan dalam waktu cukup lama.

"Kan biasanya virus dan bakteri itu suka yang lembap-lembap. Kalau dipakai selama sekian jam di luar, justru ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) akan lebih cepat terjadi. Bahkan bisa tumbuh jamur juga," kata dr Agus, Senin 7 September 2026.

Kondisi masker memang secara alami akan menjadi lebih lembap selama digunakan.

Baca Juga: KIP Kuliah UIN Sumatera Utara 2026 Dibuka, Cek Jadwal, Syarat, Kuota hingga Besaran Bantuan

Hal ini terjadi karena adanya uap air dari napas yang terus mengenai bagian dalam masker.

Selain kelembapan, masker yang dipakai menghadapi kondisi berdebu juga akan menangkap berbagai partikel dari udara.

Karena itu, masker respirator tetap perlu diganti secara berkala.

"Nah, kalau lembap itu menjadi sumber infeksi. Oleh karena itu harus diganti misalnya 6 sampai 8 jam sekali, dan tidak boleh dibasahi ya," ujarnya.

Abu Vulkanik Bisa Membuat Masker Semakin Padat

Ada alasan lain mengapa masker basah justru tidak disarankan ketika menghadapi paparan abu vulkanik.

Baca Juga: Bukan Cuma Janji, H Damung Bawa Rekam Jejak 8 Tahun Saat Kembali Bertarung Pilkades Lemahmukti

Abu vulkanik mengandung berbagai material, termasuk silika.

Ketika masker dalam keadaan basah, partikel abu dapat lebih mudah menempel pada permukaannya.

Tumpukan partikel tersebut kemudian berpotensi membuat lapisan masker menjadi semakin padat.

"Nempel bisa jadi kayak semen. Bayangkan kalau masker kita jadi padat, itu akan membuat sesak napas, udaranya nggak bisa masuk karena ada lapisan tebal yang seperti semen akibat debu nempel di masker yang basah tadi," jelasnya.

Baca Juga: Cuap-cuap Anak Buah Prabowo Sebut 6 Gunung Meletus karena Alat Asing Dimentahkan Badan Geologi

Jadi, anggapan bahwa masker yang dibasahi akan otomatis memberikan perlindungan lebih baik justru perlu dihindari, ya.

Masker Harus Menutup Hidung hingga Dagu
Selain memilih jenis masker yang tepat, cara pemakaian juga tidak kalah penting.

Kemenkes mengingatkan masker harus menutup hidung, mulut hingga dagu dengan benar.

Masker juga perlu segera diganti apabila kondisinya sudah basah, kotor atau rusak.

Baca Juga: Ayah Mozza Axillia Telah Temukan Identitas Pembunuh Anaknya Sejak Desember 2025

Penggantian juga diperlukan ketika masker mulai membuat pemakainya mengalami kesulitan bernapas.

Membasahi masker secara sengaja bukanlah langkah perlindungan yang dianjurkan.

Sebaliknya, kondisi masker yang sudah lembap akibat pemakaian justru menjadi alasan untuk menggantinya.

Kenali Gejala Gangguan Pernapasan
Paparan abu vulkanik juga perlu diwaspadai, terutama apabila mulai menimbulkan gangguan pada tubuh.

Baca Juga: Doli Baca Gerak AHY sebagai Kode Pilpres 2029, Demokrat Hari Ini Justru Bilang 'Bukan Soal 2029'

Masyarakat dianjurkan segera menghubungi layanan kegawatdaruratan apabila mengalami batuk terus-menerus, sesak napas atau nyeri dada.

Gejala lain yang perlu mendapat perhatian adalah bibir atau ujung jari berubah kebiruan hingga kesulitan berbicara karena sesak.

Gangguan pada mata juga tidak boleh disepelekan. Jika muncul mata nyeri dan merah disertai gangguan penglihatan, pertolongan medis perlu segera dicari.

Begitu pula jika terjadi kondisi darurat seperti kejang, penurunan kesadaran atau keluhan yang semakin berat.

Baca Juga: Galaxy S26 FE Resmi Masuk Indonesia, Fitur AI Flagship Dibawa ke Harga Lebih Rasional

Dalam kondisi abu vulkanik meluas, perlindungan diri memang penting.

Namun, jangan sampai mengikuti tips yang belum jelas keamanannya hanya karena terlihat sederhana.***